November 28, 2020

0.0 Mhz (2019)

Premis segar dan mengerikan ihwal frekuensi yang sanggup memanggil makhluk halus, sudah cukup untuk menjual 0.0MHz, selain tentunya debut akting layar lebar Jung Eun-ji “Apink”. Rasa ingin tau muncul lantaran saya tidak tahu ke arah mana ilham dasar tersebut sanggup dikembangkan. Tapi ternyata, sutradara sekaligus penulis naskah Yoo Sung-dong (Mr. Housewife, Death Bell 2: Bloody Camp) pun tidak lebih banyak tahu.

Struktur alurnya mengikuti formula film-film “cabin in the woods”, yakni soal sekumpulan remaja, berbekal keingintahuan (plus kebodohan) mendatangi rumah renta angker. Mereka, termasuk So-hee (Jung Eun-ji) dan sang pengagum rahasia, Sang-yeob (Lee Seung-yeol, anggota boy group INFINITE), tergabung dalam klub horor berjulukan 0.0MHz, yang berambisi pertanda (atau membantah?) keberadaan hantu.

Adegan pembukanya brutal nan menjanjikan, menampilkan seorang dukun melaksanakan ritual guna mengusir hantu penghuni rumah itu hanya untuk berakhir tewas mengenaskan. Begitu pula sekuen berikutnya, ketika So-hee dan Sang-yeob berjalan beriringan, sementara di belakang keduanya, kurang jelas nampak dua hantu berwujud nenek-nenek dan anak kecil, rahasia mengikuti.

Momen yang turut berfungsi menyiratkan kemampuan supernatural So-hee tersebut, bertempat di siang hari bolong. Tanpa jump scare, tanpa makhluk bertampang seram, hanya situasi normal sehari-hari, namun tak berapa lama, terasa ada yang tidak beres dari dua sosok tersebut. Yoo Sung-dong membawa kengerian dengan cara menggiring penonton membayangkan bahwa detik ini, di belakang kita, mungkin saja sesuatu sedang mengikuti.

Sayagnya, dengan penuh penyesalan saya mesti menyampaikan jikalau 10 menit pertama itu ialah belahan terbaik 0.0MHz. Setelahnya, Sung-dong seolah kebingungan mengolah materi baku yang dimiliki. Sesampainya di rumah angker yang dituju, karakternya mulai memanggil hantu menggunakan metode yang menggabungkan unsur sains dan klenik. Namun di luar ritual itu, naskahnya kehabisan akal, tak tahu harus membawa ilham menariknya ke mana.

Sung-dong menyerah, kemudian menentukan menerapkan strategi malas, di mana si hantu berambut panjang penghuni rumah—yang merasuki seorang aksara pasca pelaksanaan ritual—akan muncul tiap kali sang medium tertidur. 0.0MHz berubah menjadi horor klise berisi agresi sesosok hantu memburu dan membunuh para dewasa satu per satu.

Selepas pembuka, saya menduga filmnya bakal menerapkan kekerasan tingkat tinggi dalam menghabisi korban, hanya untuk dikecewakan, lantaran yang menanti di depan ialah pembantaian tanpa taji, tanpa menawarkan satu pun janjkematian secara langsung. Bahkan bodycount-nya begitu rendah bagi film yang mengusung tagline It only ends with a death” dan “You are all dead”.

Terkait penyutradaraan, Yoo Sung-dong sejatinya berani menjalani tantangan untuk mengandalkan gambar-gambar bernuansa tidak nyaman ketimbang jump scare generik, sayang, eksekusinya murahan. Bagian mana yang mengerikan dari repetisi orang-orang tercekik rambut? Dan sewaktu rupa hantu balasannya diungkap, yang nampak justru pemandangan memalukan jawaban CGI berkualitas rendah.

Babak ketiganya sempat memantik sedikit harapan, ketika pengaturan tempo solid, penyuntingan dinamis, ditambah penempatan tepat musik elektroniknya, berhasil membangun jembatan menegangkan menuju klimaks. Tapi lagi-lagi, ketika titik puncak itu tiba, cuma kekecewaan yang tertinggal, disebabkan konten adegan tak menarik (salah satu aksara mencambuki aksara lain), dan tentu saja, hantu CGI memalukan tadi.

Klimaksnya turut berpotensi menghadirkan puncak emosi dengan menyinggung perihal kekerabatan kompleks keluarga So-hee, namun gagal menerima hasil sesuai cita-cita jawaban elemen drama yang tiba tiba-tiba, tidak didahului pembangunan yang layak. Itu duduk kasus akut lain naskahnya, yang berkali-kali melemparkan rahasia dan/atau dosa masa kemudian karakternya secara mendadak. Bahkan kekerabatan So-hee dan Sang-yeob pun ambigu. Apakah mereka sobat lama? Bagaimana pertemuan keduanya terjadi?

0.0MHz merekrut dua idol sebagai protagonis, dan mereka melaksanakan pekerjaannya dengan baik meski jauh dari spesial. Seung-yeol hanya berakting mengikuti contoh laki-laki pemalu canggung yang sudah kita temui ribuan kali di film lain, sedangkan kapasitas Eun-ji ditekan oleh tuntutan peran, yang memaksanya lebih banyak membisu dan memasang tampang misterius. Biar demikian, secercah talentanya masih sanggup kita saksikan. Beberapa gerak badan maupun ekspresinya pasti tepat diterapkan dalam drama dewasa quirky, sementara adegan epilog film ini menyiratkan kemampuannya menangani komedi-romantis ringan.