October 28, 2020

10 Film Indonesia Terbaik Tahun 2015 Versi Cinetariz


Di penghujung tahun 2015 tersiar kabar membahagiakan yang menyatakan bahwa film terbaru Raditya Dika, Single, telah bergabung dengan klub 1 juta penonton bersama Surga Yang Tak Dirindukan dan Comic 8: Casino Kings Part 1. Memiliki tiga film nasional berhasil menembus angka keramat di tahun 2015, itu artinya ada kenaikan dari dua tahun terakhir yang hanya mengirimkan dua perwakilan. Sebuah catatan yang sanggup memunculkan senyum lebar para pekerja sinema Indonesia sekalipun tak sedikit pula yang menderita dan (tetap saja) selera penonton masih belum bisa tertebak. Akan tetapi, tentu bukan prestasi dari sisi finansial yang akan aku bahas melalui artikel ini melainkan melanjutkan tradisi tahunan untuk mengulik gugusan film-film tanah air yang meninggalkan kesan mendalam sepanjang setahun ke belakang. 


Dari jumlah tidak terlalu banyak, hanya ada sekitar 20-an film berkualitas diatas rata-rata tahun lalu, aku mengerucutkannya menjadi 10 judul (plus imbuhan 5 film yang nyaris menembus daftar) paling membekas di hati. Walau memakai perhiasan ‘Terbaik’ pada judul, tidak bisa dipungkiri bahwa daftar ini disusun secara subjektif menyesuaikan selera personal sehingga sangat mungkin ada ketidaksetujuan terhadapnya. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, berikut yaitu gugusan film-film Indonesia terbaik sepanjang tahun 2015 versi Cinetariz: 

Honorable Mentions (urutan sesuai abjad)

* 2014: Siapa Di Atas Presiden?


* Bulan Di Atas Kuburan 


* Nay 


* Single


* Siti 


Dan inilah sepuluh film Indonesia paling keren sepanjang tahun 2015 berdasarkan Cinetariz: 

#10 Badoet 

Saat kebanyakan film horor dalam negeri memantik teror memakai trik murahan bermodalkan penampakan saban detik dan sound kencang, Awi Suryadi justru menerapkan prinsip ‘less is more’ pada Badoet. Hasilnya, malah lebih efektif dalam memunculkan teror. Sudah cukup lama aku tidak mencicipi sensasi was-was seraya meringkuk tampan di dingklik bioskop dengan kedua mata tersembunyi di balik telapak tangan selama menyaksikan film memedi asal Indonesia dan berkat Badoet, aku kembali merasakannya. 

#9 Nada Untuk Asa 


Nada Untuk Asa dihadirkan Charles Gozali sebagai tontonan soal penyakit mematikan secara ‘berbeda’, mengedukasi secara benar, serta mengapungkan cita-cita kepada para penderitanya alih-alih menjatuhkan lewat eksploitasi penderitaan yang mengerikan. Tanpa perlu dihujani tangis pilu berlebihan, Nada Untuk Asa malah berhasil mencuri perhatian, menghujam emosi sekaligus menginspirasi. Sebuah kombinasi yang jarang kau temukan dari film sejenis buatan sineas dalam negeri, bukan? 

#8 Toba Dreams 


Menerapkan formula klasik pada sisi penceritaan dengan durasi yang tergolong panjang pula, Toba Dreams kreasi Benni Setiawan nyatanya tak pernah sedikit pun terpeleset menjadi tontonan melelahkan bercita rasa usang. Sebaliknya, berkat perpaduan tepat antara skrip berisi yang turut mengajak kita sedikit banyak menelusuri kebudayaan Batak, performa penuh tenaga dari barisan pemainnya, serta visualisasi menyejukkan mata, Toba Dreams justru berkembang menjadi sebagai film mengesankan yang tak segan-segan mengoyak emosimu sampai titik maksimal. 

#7 Ngenest 


Siapa menerka Ernest Prakasa sanggup menjalankan kiprah perdananya sebagai sutradara di Ngenest dengan begitu baik? Di film yang juga menempatkannya sebagai pelakon dan penulis naskah ini, Ernest memberi obat pelepas penat yang sangat mujarab berbekal chemistry ciamik jajaran pemain (plus cameo tepat guna dari rekan-rekannya sesama komika) pula kemampuan si pembuat film memantik derai tawa penonton lewat guyonan-guyonan cerdas yang sesekali menyentil tanpa pernah lupa memperlihatkan hati ke guliran pengisahan. Sangat, sangat menghibur. 

#6 Hijab 


Seusai sederet film ‘serius’, Hanung Bramantyo mencoba kembali ‘bermain-main’ dalam Hijab yang seketika melambungkan ingatan ke Jomblo, Catatan Akhir Sekolah, maupun Get Married. Tak mirip judulnya yang mengindikasikan film akan bergerak di ranah reliji, Hijab justru dijelmakan sebagai film komedi satir cerdas, nakal, sekaligus mengasyikkan yang tanpa malu-malu berbicara soal kesetaraan jender, posisi perempuan, pemikiran agama, moral, dan (tentunya) hijab sebagai bab dari gaya hidup bukan lagi sekadar penanda keimanan seseorang. 

#5 3 (Alif Lam Mim)


“Bagaimana jadinya bila Indonesia dalam dua puluh tahun mendatang berkembang menjadi sebagai negara liberal yang menistakan agama, khususnya Islam, sehingga menganggapnya sebagai benalu yang harus dimusnahkan keberadaannya?.” Premis menggelegar 3 (Alif Lam Mim) tersebut berhasil diterjemahkan Anggy Umbara secara menawan ke bahasa gambar dengan santunan ensemble cast yang menyumbangkan performa jempolan sehingga menghasilkan sebuah tontonan berlatar dystopia yang tidak saja seru, tetapi juga mencengkram dekat emosi dan mempersilahkan penontonnya berkontemplasi. 

#4 Filosofi Kopi 


Saat kau tetapkan untuk mengunjungi Filosofi Kopi, bersiaplah untuk memperoleh salah satu sensasi sajian terbaik yang pernah ditawarkan oleh sebuah film Indonesia. Sang pemilik kedai, dalam hal ini Angga Dwimas Sasongko beserta Jenny Jusuf, tidak semata-mata menyuguhkan camilan dan kopi bercita rasa berpengaruh nan menarik hati selera sebagai jualan utama melainkan juga memberi pelanggan pengalaman menyenangkan ketika bertandang ke kedai. Mereka tidak akan membiarkanmu pulang dengan tangan (dan hati) hampa. Ada ‘cinderamata’ yang bisa dibawa ikut serta. Cinderamata ini dimanifestasikan ke perasaan semangat, gembira, dan hangat. 

#3 Guru Bangsa Tjokroaminoto


Guru Bangsa Tjokroaminoto tidak sekadar bermain-main pada tampilan visual yang menonjolkan kesan ‘mahal’ tetapi juga mempunyai kemampuan untuk mempermainkan emosi penonton yang secara bergantian membuat tawa berderai-berderai, rasa tegang, sampai meneteskan air mata utamanya pada menit-menit terakhir ketika kalimat termasyhur dari Tjokroaminoto dikumandangkan kemudian ditutup oleh penutup berwujud kumpulan foto lawas yang menggetarkan hati. Sungguh, Guru Bangsa Tjokroaminoto yaitu sebuah film penting isyarat Garin Nugroho terkemas selayaknya opera elok yang sebaiknya tidak kau lewatkan begitu saja. 

#2 Kapan Kawin?


Meski telah menonton Kapan Kawin? sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2015, kesenangan mirip pertama kali menyaksikannya masih tetap dirasakan setiap kali menonton ulang. Kapan Kawin? yaitu pembuktian bahwa gagasan sederhana (malah sedikit banyak mirip FTV) pun bisa diterjemahkan ke bahasa gambar luar biasa memikat dibawah penanganan Ody C. Harahap yang cermat. Memunculkan kritik sosial dalam balutan humor-humor jitu yang tidak pernah sekalipun gagal mengundang tawa berkepanjangan plus beberapa momen cantik hasil dari chemistry jago duo Adinia Wirasti dan Reza Rahadian – sekaligus menunjukan bahwa Reza Rahadian memang bisa menjadi apa saja! – Kapan Kawin? yaitu salah satu film komedi romantis terbaik yang pernah ada di khasanah sinema Indonesia. 

#1 Mencari Hilal


Mencari Hilal yaitu sebuah tontonan mengenai kekerabatan antar insan yang terajut begitu indah, jujur sekaligus bersahaja. Tanpa pernah terasa menggurui sekalipun berada di area reliji, film memunculkan keinginan pada diri untuk memberi pelukan hangat kepada ayah tercinta selepas menontonnya. Kombinasi tepat dari penuturan penuh ‘rasa’ Ismail Basbeth, interaksi benci tapi sayang ‘pasangan ayah anak’ Deddy Sutomo-Oka Antara, tangkapan gambar-gambar penyejuk mata, serta lantunan tembang pengiring penyayat hati berulang kali membuat aku tertawa, tersentuh, sampai balasannya tertohok untuk kemudian merenunginya dan melahirkan pertanyaan, “apakah selama ini aku telah menjadi seorang Muslim yang baik? Atau jangan-jangan sekadar memanfaatkan agama semoga mempunyai identitas sebagai bentuk eksistensi diri?.” Sulit dipungkiri, Mencari Hilal merupakan salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, bahkan beberapa tahun terakhir. Definitely an instant classic!