October 20, 2020

10 Film Yang Cocok Ditonton Ketika Ngabuburit Selama Ramadhan


Jika kau berada di halaman ini – serta berencana membaca goresan pena hingga tuntas – itu berarti kemungkinan besar kau tengah menjalani puasa Ramadhan, kebelet ingin nonton film, namun merasa khawatir tidak bisa menentukan tontonan kondusif yang tidak mengundang hawa nafsu. Kalau betul demikian, maka ya, ini yaitu daerah yang tempat. Cinetariz telah mengurasi rentetan judul yang hilir pulang kampung di pikiran (sejauh ingatan bisa mengingat) untuk ditempatkan dalam daftar ini. Mengingat daftar disusun di kala bulan Ramadhan, tak pelak film-film yang terpilih pun dominan bernafaskan Islami. 

Disamping bersentuhan eksklusif dengan agama Islam (meski ya, ada pengecualian), beberapa kriteria yang turut ditetapkan dalam menentukan film supaya lolos seleksi antara lain mengandung nilai-nilai kebajikan (ehem!), tidak dibumbui adegan yang membangkitkan birahi hingga ke puncak, serta mempunyai kandungan nutrisi mencukupi bagi otak sehingga kita tidak begitu saja menghempaskannya usai menontonnya melainkan turut diajak buat merenung, berpikir, hingga memunculkan keinginan untuk berbuat baik atau mempelajari agama secara mendalam. 

Tanpa berpanjang lebar lagi, berikut yaitu 10 film yang bisa kau tonton seraya ngabuburit dalam urutan acak: 


Le Grand Voyage (Prancis, 2004) 

Seorang cukup umur Prancis berdarah Moroko, Reda, diminta oleh sang ayah untuk menemaninya menunaikan ibadah Haji dengan mengendarai mobil. Dalam perjalanan mengarungi daratan sepanjang ribuan kilometer ini, hubungan yang cuek diantara keduanya perlahan tapi niscaya mulai mencair dan Reda mempelajari banyak hal mengenai Islam, kehidupan, hingga sang ayah. Le Grand Voyage yaitu sebuah tontonan berwujud road movie yang menghangatkan hati, mencerahkan, sekaligus emosional.

The Message (Lebanon/Inggris, 1976) 

Memvisualisasikan sejarah Islam ke dalam bahasa gambar, The Message tergolong tontonan penting buat disimak sebab tema usungannya amat sangat jarang dikupas. Film ini mencuplik peristiwa-peristiwa penting selama Nabi Muhammad mengembangkan pemikiran Islam, termasuk Hijrah ke Madinah, Perang Badar, dan Perang Uhud, memakai sudut pandang penceritaan dari Paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian sahabat-sahabat Nabi ibarat Bilal dan Zaid, serta pemimpin utama Bani Quraisy yang mula-mula menentang Nabi namun belakangan memeluk Islam, Abu Sufyan.

Timbuktu (Prancis/Mauritania, 2014) 

Sebuah desa dengan penduduk seluruhnya Muslim di Timbuktu yang hening seketika berubah ketika kelompok ekstrimis Islam menduduki desa tersebut dan menerapkan aturan-aturan yang justru menyengsarakan penduduk setempat. Timbuktu yang meraih nominasi Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik ini menempatkan beberapa karakter, baik dari pihak masyarakat Muslim yang terdzalimi oleh rezim otoritarian maupun anggota dari kelompok ekstrimis yang semena-mena, untuk memberikan pesan besar mengenai toleransi dari film yang relevan dengan situasi dunia dikala ini. 


Munafik (Malaysia, 2016) 

Iman Ustadz Adam goyah selepas sang istri tewas dalam sebuah kecelakaan. Ketidakmampuannya untuk mengikhlaskan kepergian sang istri membawanya pada serentetan insiden ganjil, termasuk mempertemukannya pada seorang wanita yang kerasukan jin. Demi memenangkan pertarungan melawan jin jahat, Ustadz Adam harus menemukan kembali keimanannya. Di Malaysia, Munafik tidak saja berhasil menempati posisi film terlaris sepanjang masa, tetapi juga memborong beberapa penghargaan prestisius ibarat Festival Film Malaysia. Bukan sesuatu yang mengherankan mengingat Munafik berhasil menempatkan penonton dalam rasa takut sekaligus membawa perenungan terkait sejauh mana ketaatan kepada Yang Maha Satu.

Wadjda (Arab Saudi, 2012) 

Wadjda yaitu film fiksi pertama yang sepenuhnya digarap di Arab Saudi sekaligus film pertama yang disutradarai oleh seorang perempuan. Kisahnya mengenai seorang gadis berusia 11 tahun berjulukan Wadjda yang ingin mempunyai sebuah sepeda. Mengingat wanita tidak boleh mengendarai sepeda, tentu keinginan ini terasa mustahil. Pun begitu, Wadjda tidak begitu saja mengalah dan guna mewujudkan impiannya, beliau pun turut berpartisipasi dalam lomba Tilawatil Qur’an. Wadjda yaitu sebuah sajian menarik, menggelitik, serta membuka pikiran. Kesempatan emas bagi kita untuk sedikit banyak mempelajari budaya dan posisi wanita di Arab Saudi melalui medium film.

The Song of Sparrows (Iran, 2008)
Selepas dipecat dari pekerjaannya sebab tidak sengaja melepas seekor burung unta dari kandangnya, seorang ayah dengan tiga anak berjulukan Karim dihadapkan pada serentetan masalah hidup yang rumit, menjengkelkan, sekaligus kocak. Majid Majidi yang menghadiahi kita dengan Children of Heaven (1997), mengemas film dengan pendekatan realistis sehingga gampang bagi penonton untuk terhubung dengan kisahnya. Salah satu komentar sosial yang diangkat oleh The Song of Sparrows yaitu bagaimana sebuah kota besar dan gaya hidup modern bisa merubah seseorang secara drastis. Kocak pula menyentil!

Mencari Hilal (Indonesia, 2015) 
Pak Mahmud merasa terusik dengan info penggelontoran dana miliaran rupiah oleh Kementrian Agama demi menggelar sidang isbat. Tumbuh di lingkungan pesantren yang dulunya mengadakan kirab untuk melihat hilal, Pak Mahmud tahu betul pencarian hilal tidak butuh merogoh kocek dalam. Perkara ini lantas mendorong Pak Mahmud merencanakan perjalanan mencari hilal sebagai pembuktian bahwa ibadah tidak dibentuk untuk memperkaya diri. Hangat, indah serta bersahaja, Mencari Hilal akan membuatmu berkontemplasi mempertanyakan “apakah selama ini saya telah menjadi seorang Muslim yang baik? Atau jangan-jangan sekadar memanfaatkan agama supaya mempunyai identitas sebagai bentuk eksistensi diri?” selepas menontonnya.

Life of Pi (Amerika Serikat, 2012)
Didasarkan pada novel rekaan Yann Martel, Life of Pi berkisah mengenai upaya bertahan hidup dari seorang perjaka India berjulukan Pi yang terdampar di sebuah sekoci bersama seekor harimau benggala usai kapal yang ditumpanginya dalam perjalanan menuju Kanada ditenggelamkan oleh badai. Pemenang empat Piala Oscars termasuk Sutradara Terbaik ini memang tidak spesifik berkenaan dengan Islam ibarat judul-judul lainnya, namun tema utama dari film mengenai keimanan kepada Tuhan membuatnya terasa cocok ditonton di bulan suci. Adegan Pi meluapkan amarahnya ke Tuhan di salah satu momen paling emosional dalam film masih saja menciptakan hati ini berdesir.

Children of Heaven (Iran, 1997)
Film pertama yang membawa Iran ke panggung Oscars, pecahan dari tontonan masa kecil saya, serta mengenalkan dunia kepada sinema Iran ini berkisah mengenai seorang bocah dari keluarga miskin yang tanpa sengaja menghilangkan sepatu satu-satunya kepunyaan sang adik perempuan. Berbagai upaya untuk mengembalikan sepatu tersebut pun ditempuhnya, salah satunya dengan mengikuti perlombaan lari. Children of Heaven mempunyai dongeng sangat sederhana, namun kemampuan Majid Majidi untuk merangkainya sehingga penonton sanggup mencecap banyak sekali emosi ibarat tertawa, tersentuh, serta terlibat ke dalam film membuatnya terasa istimewa.

My Name is Khan (India, 2010)
Shah Rukh Khan yaitu seorang laki-laki India Muslim yang melaksanakan perjalanan panjang melintasi banyak sekali negara pecahan di Amerika Serikat demi menemui Presiden untuk memberikan pesan bahwa umat Muslim bukanlah teroris. My Name is Khan memotret realita minoritas di Negeri Paman Sam yang mengalami diskriminasi dan rasisme selepas insiden 11 September. Film yang berhasil mempermainkan emosi sedemikian rupa ini ingin memberikan pesan penting bahwa kebencian dan prasangka hanya akan membawa kerusakan, sementara kebaikan dan perilaku toleran sanggup mendatangkan kedamaian.