October 27, 2020

12 Film Indonesia Terbaik 2012 Versi Cinetariz

Tahun 2012 telah kita tinggalkan sepekan yang lalu. Banyak kenangan manis dan pahit yang telah saya dapatkan sepanjang tahun itu. Sungguh sebuah tahun terbaik (sekaligus terburuk) bagi saya. Tidak akan pernah saya lupakan sampai nafas berhembus untuk terakhir kalinya. Dalam postingan ini, tentu saya tidak akan berceloteh mengenai kehidupan pribadi saya mengingat blog ini dikhususkan untuk membahas mengenai film – atau apapun yang berkaitan dengan film. Seperti kebiasaan saya (dan kebiasaan miliaran penggemar film di seluruh dunia) setiap menjelang final tahun atau jikalau terlambat, usai tahun baru, maka saya pun menghadirkan untuk kalian pagelaran ‘Film Terbaik 2012′ yang rencananya akan berlangsung sepanjang minggu ini (semoga…). Jika di tahun sebelumnya saya eksklusif membukanya dengan formasi 20 film terbaik secara keseluruhan, maka untuk kali ini saya akan mengawalinya terlebih dahulu dengan ’12 Film Indonesia Terbaik 2012 Versi Cinetariz’. Anda niscaya bertanya-tanya, ada apakah gerangan? 

Well… Diakui atau tidak, tahun 2012 ialah salah satu tahun terbaik bagi perfilman Indonesia. Salah satu film produksi anak bangsa, The Raid, menerima puja puji dari banyak sekali pihak dan kritikus abnormal serta berkesempatan untuk menembus Amerika Serikat yang notabene cuek terhadap produk asing. Selain itu, isu menggembirakan pun tiba dari sejumlah sineas yang berhasil memboyong film buatan mereka untuk bertarung di banyak sekali pameran film bertaraf internasional serta turut membawa buah tangan berupa piala ketika kembali ke Indonesia. Apakah masih ada lagi? Ya… di penghujung tahun 2012, kita berkesempatan untuk menyaksikan bagaimana film Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Habibie & Ainun serta 5 cm saling berkompetisi untuk meraih 2 juta penonton yang mana sudah sangat sulit diraih oleh film nasional manapun ketika ini, termasuk The Raid. Dengan segala gegap gempita terhadap perfilman Indonesia sepanjang tahun 2012 lalu, masihkah ada dari Anda yang memandang rendah film Indonesia? 

Bahkan saking banyaknya film Indonesia yang bagus sepanjang 2012, saya sempat pusing tujuh keliling ketika berusaha untuk menyusun daftar ini. Ada cukup banyak film yang terpaksa saya korbankan dengan menimbang satu dan lain hal. Tentunya, pemilihan 12 film yang berhasil lolos ke tahap final ini dipengaruhi oleh selera sehingga jikalau ada pro dan kontra yang menyertai, maka itu sesuatu yang teramat wajar. Sebelum saya membawa Anda ke posisi 12 teratas, izinkanlah saya untuk mengungkap ‘honorable mentions’ terlebih dahulu. 

* Honorable mentions: 

Sampai Ujung Dunia 

Dan… akhirnya, inilah 12 film Indonesia terbaik 2012 versi Cinetariz: 

Memang bukan yang terbaik dari seorang Joko Anwar, akan tetapi Modus Anomali tetaplah sebuah film yang menarik untuk disimak terlebih bagi Anda yang menggemari film thriller dengan segudang teka-teki di dalamnya. Jalinan kisahnya yang penuh misteri digeber semenjak menit pertama yang menciptakan penonton bertanya-tanya, “apa yang sesungguhnya terjadi?”, “siapa dia?”, atau “mengapa mereka?.” 

Melalui enam kisah berbeda warna yang terkadang cerah ceria, namun seringkali cenderung suram, Salman Aristo memotret kehidupan warga Jakarta dengan menjumput segelintir sampel. Meski dituturkan secara sederhana, Jakarta Hati terasa istimewa karena kedalaman emosi yang disuntikkan ke dalam jalinan penceritaannya serta performa memukau dari jajaran pemainnya. 

Kemenangan besarnya di FFI 2012 tempo hari memang menciptakan dahi ini mengernyit, akan tetapi saya tidak menampik bahwa Tanah Surga… Katanya ialah salah satu film terbaik produksi anak bangsa dari tahun lalu. Naskah bernas garapan Danial Rifki sanggup berbicara lantang kala melancarkan sindiran-sindiran serta somasi kepada pemerintah yang seolah masa udik terhadap nasib wong cilik. 

Inilah film romansa dari Indonesia yang mempunyai cita rasa Korea Selatan. Hello Goodbye mempunyai dosis yang pas dan tidak kelewat berlebihan tatkala mengumbar romantisme. Dialog-dialognya yang mengalir lancar, kuat, dan lucu menjadi kekuatan utama dari film perdana Titien Wattimena ini disamping chemistry luar biasa antara Atiqah Hasiholan dengan Rio Dewanto serta soundtrack dari Eru yang bikin candu. 

8. Mata Tertutup 
Saat pertama kali menyimak Mata Tertutup, saya terperangah. Tidak hanya disebabkan oleh pengisahannya yang setapak demi setapak semakin membangkitkan minat serta emosi, tetapi juga sehabis saya menyadari bahwa inilah pertama kalinya saya benar-benar sanggup menikmati karya Garin Nugroho. Mata Tertutup yang dibentuk dengan niat untuk keperluan pendidikan sama sekali tidak terasa menggurui berkat penyampaiannya yang personal. 

Rayya Cahaya di Atas Cahaya ialah sebuah film Indonesia yang sangat indah yang mengulik perjalanan seseorang yang memertemukannya dengan jati dirinya yang bergotong-royong serta menemukan makna lain dari kebahagiaan. Menjadi sebuah ‘comeback’ yang tepat bagi Viva Westi sehabis terjebak dalam film-film ala kadarnya, film ini turut ‘bercahaya’ berkat kerja sama akting Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo yang cemerlang serta tentunya formasi gambar yang memanjakan mata. 

Sebagian orang menentukan untuk mengacuhkan film ini karena pilihan judulnya yang seolah menyiratkan bahwa ini film ‘nggak bener’. Sungguh sayang sekali jikalau Anda berpikiran ibarat itu karena Test Pack ialah sebuah film drama komedi terkuat tahun kemudian dengan jalinan kisah yang menggelitik sekaligus menguras emosi. Reza Rahadian berduet janjkematian dengan Acha Septriasa yang memperlihatkan akting terbaik dalam sejarah karirnya. Sangat pantaslah beliau menenteng Piala Citra dari FFI 2012. 

Terlepas dari product placement-nya yang tidak sanggup diterima oleh logika sehat, Habibie & Ainun ialah sebuah film yang sangat cantik. Faozan Rizal memperlihatkan sebuah bingkisan final tahun yang manis, lembut, dan hangat bagi masyarakat Indonesia. Sulit untuk tidak menitikkan air mata usai menyaksikan film ini di layar lebar. Kekuatan di sektor naskah dan teknis semakin ditunjang oleh akting kelas wahid dari Reza Rahadian yang nampak melebur dengan aksara yang dibawakannya. 

4. Lovely Man 
Teddy Soeriaatmadja dengan nekat mengapungkan tema yang provokatif bagi masyarakat Indonesia untuk film panjang keenamnya. Bertutur mengenai reuni penuh kecanggungan di suatu malam antara seorang gadis pesantren berjilbab dengan sang ayah yang bermetamorfosis sebagai bencong di malam hari. Lovely Man yang mempunyai penceritaan sangat baik dengan serangkaian obrolan yang terasa intim, emosional, sekaligus menohok serasa kian menawan berkat sejumlah shot bagus yang terkandung di dalam film serta permainan tepat dari Donny Damara dan Raihaanun. Dua jempol ke atas. 

3. Negeri di Bawah Kabut 
Dalam khasanah perfilman Indonesia, pengertian film dokumenter tidak jauh-jauh dari reportase investigatif. Yang berani untuk bereksperimen, jumlahnya sanggup dihitung dengan jari. Negeri di Bawah Kabut ialah salah satu dari kelompok kecil itu. Cara bertuturnya yang mempergunakan alur dan obrolan alih-alih berupa wawancara panjang menjemukan menciptakan film lezat untuk disantap. Geli menyimak tingkah polah warga desa yang polos, terharu menyaksikan usaha mereka dalam mengatasi serangkaian permasalahan yang tidak henti-hentinya mendera, dan terkesima melihat panorama pegunungan Merbabu yang ‘Subhanallah’ bagus sekali. 

The Raid ialah balasan atas pertanyaan ‘kapan perfilman Indonesia sanggup menciptakan film berkelahi yang seru?’ yang telah dilayangkan menahun. Tanpa dibekali skrip yang memadai, Gareth Evans tetap sanggup menciptakan penonton duduk manis di dalam bioskop dan terpukau menyaksikan gelaran agresi yang ditebar nyaris tanpa putus yang memacu adrenalin. Desingan peluru, baku hantam, sampai muncratan darah ialah apa yang akan Anda dapatkan ketika menyaksikan film ini. Penonton terlalu sibuk untuk dibentuk tegang, bersorak sorai, atau malah mengumpat sehingga sanggup memaafkan plot-nya yang setipis kertas. 

Inilah film Indonesia yang paling menciptakan saya terkesan sepanjang 2012. Tanpa perlu berbasa kedaluwarsa mengupas problematika kehidupan yang rumit, Cita-Citaku Setinggi Tanah telah mencuri hati saya dengan kesederhanaannya. Yang dibicarakan oleh Eugene Panji di sini ialah keinginan seorang bocah SD untuk makan di restoran Padang. Kejujuran, ketulusan, dan kesederhanaan yang disuntikkan ke dalam penceritaan menciptakan film ini terasa begitu hangat, membumi, dan mengena. Sulit untuk dipercaya bahwa film sebagus ini merupakan hasil kerja keras dari para pemain dan kru yang dominan ialah orang gres di perfilman.

Intip juga 20 Film Terbaik 2012 Versi Cinetariz.