November 27, 2020

13 Film Indonesia Terbaik 2013 Versi Cinetariz


Tidak terasa sudah saatnya bagi saya untuk menyusun daftar Film Indonesia Terbaik 2013 Versi Cinetariz. Seperti gres kemarin saya meluangkan waktu untuk mengetik formasi film-film nasional yang hendak mengunjungi khalayak ramai sepanjang kuartal awal 2013, menyerupai gres kemarin saya berlari tiada henti kesana kemari mengejar dosen pembimbing demi masa depan, menyerupai gres kemarin saya gundah tiada berkesudahan melihat nasib film Indonesia yang dihimpit habis oleh summer movies keluaran raksasa Hollywood, dan menyerupai gres kemarin saya membuat guyonan bersama kawan-kawan bersahabat perihal Habibie & Ainun yang fenomenal. Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, bukan? 
Memasuki ahad ketiga menghembuskan nafas di tahun anyar ini, saya pun kembali meluangkan waktu untuk membuka kembali kenangan-kenangan manis yang telah ditorehkan oleh perfilman Indonesia di hati saya. Dari setidaknya 100 judul film yang memeroleh kesempatan emas untuk menghiasi jaringan bioskop nasional, tak hingga separuhnya yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Bahkan tatkala saya kudu memilahnya demi mencukupi kuota 20 film, tiada kesulitan berarti yang dihadapi. Secara keseluruhan, tidak banyak kemajuan berarti di sektor perfilman nasional sepanjang kurun waktu 2013. Para sineas masih berlomba-lomba menelurkan film biopik serta penyesuaian novel laku dengan impian bisa dibanjiri penonton, kemudian film yang tidak terperinci asal muasalnya dengan kualitas penggarapan yang sangat memprihatinkan pun masih banyak ditemukan (beberapa diantaranya malah tidak layak dipertontonkan di bioskop. Duh!). 

Tapi apakah ini berarti tahun 2013 ialah tahun yang suram? Ah, tidak juga. Masih ada sejumlah sineas yang berani untuk melawan arus, mengeluarkan ide-ide kreatif yang penuh kesegaran, dan menggarap karya-karya mereka secara serius penuh perhatian. Dengan tidak terlalu banyaknya film buatan dalam negeri yang benar-benar berpengaruh ditilik dari aneka macam segi, maka gampang bagi saya untuk menentukan formasi film Indonesia terbaik dari tahun 2013. Dari setidaknya 25 film yang memberi presentasi mengagumkan, saya tetapkan untuk meloloskan 18 film dengan perincian 5 film untuk Honorable Mentions (atau katakanlah, semifinalis) dan 13 film di daftar utama. 

Honorable Mentions: 

Soekarno 









Berikut ini ialah ke-13 Film Indonesia yang meninggalkan kesan mendalam untuk saya di sepanjang tahun 2013: 


Saya sama sekali tidak menduga akan sanggup menikmati Kemasukan Setan tatkala melangkahkan kaki ke bioskop. Film ini bisa mengobati kerinduan saya akan tontonan angker murni tanpa bumbu komedi garing dan eksploitasi badan perempuan dari Indonesia. Dalam menghadirkan teror, alih-alih menggeber penampakan dengan scoring yang berdentum nyaris setiap menit layaknya film horor Indonesia kebanyakan, Muhammad Yusuf justru menentukan untuk menyembunyikan para memedi. Kapan mereka akan muncul? Dimana mereka akan muncul? Itu menjadi misteri yang lantas membuat penonton senantiasa menerka-nerka dan bersiap-siap. Kemunculan mereka dimaksudkan untuk menjadikan imbas kejut dan takut secara bersamaan. Dan ya, saya akui itu terbilang berhasil. Ketika hasilnya yang ditunggu-tunggu menampakkan sosoknya… bulu kudu seketika berdiri. 


#12 Belenggu 

Teka teki rumit selayaknya kepingan-kepingan puzzle yang tersebar acak di lantai, visual a la film noir yang senantiasa suram muram kelam, dan Imelda Therinne yang berbisa. Ketika ketiganya ditemukan untuk kemudian dipersatukan, maka yang terlahir ialah sebuah karya terbaik sepanjang karir Upi, Belenggu. Menjelajahi area yang selama ini dikuasai oleh Joko Anwar, Upi tampak bersenang-senang dan begitu bersemangat. Menghiasinya dengan tata produksi yang sungguh mengagumkan, si pembuat film lantas mengajak penonton untuk mengikuti permainan tebak menebak ‘ada kegilaan apa di sini’ yang dikreasinya melalui cara yang mengasyikkan. 


Pintu Harmonika adalah sebuah film omnibus yang merangkai kisah wacana cinta, keluarga, dan kehidupan menjadi satu kesatuan dengan apik. Tiga sutradara perempuan pendatang baru; Ilya Sigma, Luna Maya, dan Sigi Wimala, ini berhasil menghantarkan ide yang sejatinya sederhana ke dalam bahasa gambar yang penuh kepekaan, emosional, mengena, menyentuh, menyenangkan, sekaligus manis. Tatkala konflik utama yang lantas dikedepankan berwujud everybody’s story, maka film lantas pula menjadi personal. Didukung formasi pemain yang memainkan tugas dengan mengagumkan, ditambah pula dengan sinematografi bagus serta musik skoring dan soundtrack yang menyatu dengan film, Pintu Harmonika menjadi sebuah permulaan yang sangat baik untuk karir penyutradaraan ketiga sutradara perempuan ini. 


Tidak menjadi dilema apakah Anda mempunyai darah Batak atau tidak. Demi Ucok sekalipun kerap bermain-main dalam humor yang cakupannya terbilang segmented (baca: Batak banget), tetap bisa dinikmati oleh kalangan luas. Naskah bernas buatan Sammaria Simanjuntak tersampaikan dengan apik berkat pengarahannya yang lincah, akting serta chemistry manis dari para pemain, serta departemen teknis (mulai dari tata artistik, musik, hingga sinematografi) dimanfaatkan secara sempurna guna. Jarang sekali saya bisa tertawa puas menyaksikan sebuah film Indonesia di layar lebar. Saya bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali mengalaminya. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang menggembirakan. 



Apakah Anda ingin mengetahui menyerupai apa upaya dari Maxima Pictures untuk bertobat dan penampilan terbaik dari Vino G Bastian? Tampan Tailor akan menjawab rasa ingin tau Anda. Dibangun dari premis yang seolah mengisyaratkan Tampan Tailor akan menjadi tontonan penguras air mata yang begitu mendayu-dayu, pada kenyataannya Guntur Soeharjanto malah menghantarkannya dengan ringan dan dipenuhi kejenakaan. Ketimbang memandang segala sesuatu dengan pesimis yang umumnya digambarkan melalui air mata yang senantiasa tumpah setiap detik, si pembuat film justru menentukan untuk mengumandangkan rasa optimis tinggi dalam penceritaan yang mana terasa lebih efektif dalam menyentuh lubuk hati yang terdalam. 


Finding Srimulat ialah sebuah ungkapan rasa cinta yang sangat nrimo dan penuh makna dari seorang pecinta Srimulat. Ini ialah kado tawa yang istimewa, tidak hanya untuk para penggemar Srimulat tetapi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Digarap dengan memakai hati dan secara hati-hati, Charles Gozali sanggup menghantarkan sebuah menu yang luar biasa bagus dengan kadar hiburan tinggi. Dalam film ini, Anda sanggup tertawa terpingkal-pingkal dan menyeka air mata di waktu yang bersamaan, atau setidaknya berurutan. Penuh sesak dengan momen-momen mengesankan yang patut untuk dikenang. Sungguh sebuah film yang sangat ‘MenSepona’…, eh salah, mempesona maksud saya. 



Rectoverso ialah sebuah film yang mempunyai ragam rasa dan warna di dalamnya, but mostly, cantik, manis, pahit, serta menyentuh. Sebuah tontonan yang indah, tapi di dikala bersamaan, merobek hati. Kelima sutradara pendatang gres di sini telah menawarkan sebuah langkah awal yang sangat menjanjikan, khususnya Marcella Zalianty dan Olga Lidya dengan segmen ‘Malaikat Juga Tahu’ dan ‘Curhat buat Sahabat’ yang luar biasa menawan. Kecakapan mereka dalam mengarahkan menerima tunjangan yang solid dari Yadi Sugandi dengan sinematografinya yang teramat sangat cantik, editing andal dari Cesa David Lukmansyah dan Ryan Purwoko sehingga kontinuitas perpindahan setiap segmen terjaga dengan rapi, skoring indah dari Ricky Lionardi, serta tentunya jajaran pemainnya yang rata-rata bermain dengan sangat cemerlang.


Yang pertama terlontar dari verbal usai melahap Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di layar lebar ialah ‘amboi… betapa eloknya film ini!’. Sunil Soraya yang sebelumnya mengomandoi Apa Artinya Cinta? berhasil membungkam siapapun yang memertanyakan kapabilitasnya dalam mengkreasi ulang karya sastra penting di Indonesia buah karya Hamka ini ke medium layar lebar. Si pembuat film tak sekadar membuat penonton berlinangan air mata secara beramai-ramai jawaban jalinan kisah yang mengharu biru serta mengoyak emosi, tetapi juga menyuarakan kembali kritikan sosial, sentilan sentilun, dan pesan bernada reliji dari Hamka yang termasuk dalam poin penting di dalam novel. Inilah yang lantas menjadikan film menjadi kaya pula padat berisi alasannya ialah tak melulu berujar soal cinta terlarang, namun juga berbincang perihal kondisi sosial, watak dan tradisi di sekitar – dalam hal ini, Minang – yang tersampaikan dengan begitu mengena.


Sulit untuk tidak jatuh hati kepada Sokola Rimba. Jelas, ini ialah salah satu film terbaik tahun lalu. Bagi Anda yang bertanya-tanya, “kapankah Indonesia bisa mempunyai sebuah film yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik?”, maka ini ialah jawabannya. Ketika film sejenis mencoba menginspirasi para penonton dengan iming-iming yang menggiurkan, maka Riri Riza memertahankan film untuk tetap berceloteh di jalur yang realistis. Bahkan, film yang dihiasi dengan gambar-gambar, musik-musik, dan performa akting yang serba natural (namun cantik) ini tidak sekadar menjadi tontonan yang edukatif dan inspiratif melainkan juga informatif. Sokola Rimba menawarkan pandangan baru, wawasan, serta membuka hati dan mata, kepada para penonton. 


Jika Anda mengira Hari Ini Pasti Menang ialah sebuah film wacana sepakbola biasa yang menjual mimpi-mimpi besar, maka Anda salah besar. Andibachtiar Yusuf dan Swastika Nohara mengajak penonton untuk menelusuri lebih jauh dengan menyidik sisi gelap dari olahraga terpopuler di Indonesia ini. Hari Ini Pasti Menang bukanlah sebuah hiburan kosong yang sanggup menguap begitu saja seiring berjalannya waktu kala film-film sepakbola dengan penggarapan apik lainnya bermunculan. Penonton dihadapkan pada setumpuk konflik yang rumit namun mengikat dan memikat yang merupakan refleksi dari apa yang bahwasanya terjadi dalam dunia persepakbolaan. Beberapa fakta mencengangkan dihamparkan. Betapa olahraga pun sanggup dijadikan sebagai ladang untuk ‘bermain kotor’. 



Meski Cinta Dalam Kardus mengais jumlah penonton paling rendah di antara ketiga film yang menampilkan Raditya Dika tahun lalu, namun justru inilah karya terbaik dari seorang Raditya Dika. Salman Aristo berhasil menghidangkan Cinta Dalam Kardus sebagai sebuah menu yang tidak hanya unik secara konsep dan kemasan, namun juga mengandung humor yang begitu segar, menghibur, manis, serta menghangatkan hati. Ditilik dari sisi penceritaan, Raditya Dika terperinci terlihat lebih matang di sini. Menyenangkan sekali melihat bagaimana Dika dengan santainya melalui tokoh Miko menyentil kesana kemari, bermain-main, khususnya (tentu saja) mengenai relationship. Perspektifnya terhadap hubungan asmara memang terkadang terkesan nyeleneh, tapi seringkali kalau direnungkan lebih mendalam, ada benarnya. 

#2 What They Don’t Talk About When They Talk About Love 

Siapa bilang film yang menempatkan tokoh-tokoh penyandang disabilitas di posisi sentral harus selalu diisi derai mata untuk meminta belas kasih penonton? Siapa bilang kisah cinta cukup umur harus selalu identik dengan sesuatu yang menye-menye dan serba klise? Dan… siapa bilang arthouse movie harus selalu berat untuk dilahap? Tengoklah apa yang telah diperbuat oleh Mouly Surya dalam film panjang keduanya yang begitu memesona, What They Don’t Talk About When They Talk About Love. Tak ada permohonan belas kasihan dari para penyandang disabilitas, tak ada kisah cinta cukup umur yang begitu-begitu saja, dan tak ada sekalipun menit yang begitu berat untuk dilalui. Sebaliknya, ia bisa menyulap premis seputar cinta monyet yang telah karatan menjadi sesuatu yang begitu unik, cerdas, jenaka, liar, manis, pedih, namun tetap ringan dan menyenangkan untuk disimak. 


9 Summers 10 Autumns menjadi sebuah film yang sangat personal bagi saya, dan saya yakin, bagi kebanyakan penonton lain. Saya menyerupai tengah melihat kilasan balik dari kehidupan saya semasa kecil, serta sedikit kehidupan dikala ini. Bukan sekadar sebuah kisah wacana from zero to hero, tapi ini ialah everybody’s story. Tidak hanya terenyuh dan merasa pedih, tetapi sesekali juga tertampar. Ifa Isfansyah berhasil menyuguhkan sebuah menu yang bersahaja, penuh kehangatan, dan luar biasa cantik. Ini ialah sebuah tontonan yang akan dengan gampang mempermainkan emosi Anda sepanjang film terutama kalau Anda ialah seseorang yang menyayangi keluarga lebih dari apapun.