October 21, 2020

16 Film Indonesia Terbaik 2019 Versi Cinetariz


Para pengunjung Cinetariz yang setia, bagaimana pengalaman kalian dalam menonton film Indonesia di satu tahun terakhir ini? Memuaskan, menyenangkan, biasa-biasa saja, atau justru kurang mengenakkan? Kalau bagi saya pribadi sih, 2019 ialah tahun yang menyenangkan bagi sinema tanah air. Disamping keberagaman temanya mulai terasa seiring dengan semakin beraninya para sineas untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan baru, saya juga menjumpai beberapa film yang membuat diri ini rela untuk menyaksikannya lebih dari satu kali. Entah ketika masih berada di layar lebar maupun ketika sudah nangkring manis di platform streaming legal yang keberadaannya semakin menjamur. Apa saja judul-judul itu? Well, apabila kau mengikuti saya di akun media sosial, tentu sudah mengetahui apa saja film yang saya maksud. Hihihi.

Kamu mungkin bertanya-tanya, apa sih kualifikasi yang diharapkan bagi suatu film untuk bisa menyelinap ke dalam senarai “16 Film Indonesia Terbaik 2019 Versi Cinetariz” ini? Satu yang jelas, film tersebut harus sudah tayang di bioskop atau platform streaming Indonesia (tahun ini tak ada, tahun kemudian ada The Night Comes for Us) di sepanjang tahun 2019. Beberapa judul yang sempat saya tonton di pameran film, gres akan diikutsertakan di seranai tahun depan karena film-film ini sudah dipastikan rilis ke bioskop. Sedangkan untuk kata “terbaik” sendiri, tentu bersifat sangat subjektif. Apa yang terbaik untuk saya, belum tentu tentu terbaik buat kalian. Kaprikornus jangan mengeluh soal peringkat atau daftar filmnya, ya? Bikin pusing. Terlebih, urutannya dipengaruhi pula oleh tingkat kepuasan selama menonton selain kualitas film itu sendiri dan seberapa besar impian saya untuk merekomendasikan film-film ini kepada kalian.

Tanpa berpanjang lebar lagi, saya persembahkan senarai “16 Film Indonesia Terbaik 2019 Versi Cinetariz” dimulai dari…

Honorable Mentions (diurut berdasar abjad)

# Ghost Writer


# Hit & Run


# Pretty Boys


# Si Doel The Movie 2


# Sunyi



…dan inilah yang menghuni posisi 16 besar.

#16 Orang Kaya Baru


Orang Kaya Baru merupakan pilihan yang sangat tepat apabila kau ingin melepas penat barang sejenak dengan bersenang-senang. Betapa tidak, ini ialah film yang mempunyai kandungan hiburan di level cukup tinggi dan gelak tawa berderai-derai dari penonton akan gampang terdengar di banyak sekali titik. Entah itu ketika para protagonis kita masih tergolong proletar, maupun ketika protagonis kita telah berjalan beriringan bersama kaum borjuis. Para pemainnya, terutama Cut Mini, layak diacungi dua jempol.

#15 Susi Susanti: Love All


Saya menyukai bagaimana Susi Susanti: Love All tidak semata-mata menekankan pada aspek usaha Susi Susanti di arena yang nyaris tanpa cela, tetapi juga ikut mengupas informasi rasialisme yang memang terpampang konkret di kurun Orde Baru bahkan juga sekarang. Ya, film ini menjalankan tugasnya dengan baik sebagai film biopik olahraga. Mempermainkan emosi, informatif, membuka mata, menggugah semangat, dan membuat kita bersyukur bahwa perfilman Indonesia mempunyai Laura Basuki. Performanya sebagai sang legenda badminton ialah akting terbaik yang pernah dipersembahkannya di sepanjang karir.

#14 Ave Maryam


Disamping permainan visual yang memang berada di kelas wahid dan ambience yang memungkinkan saya untuk bisa menyelami situasi kondisi di susteran, satu hal lain yang membuat diri ini sanggup terhubung ke Ave Maryam adalah pendeskripsian karakter yang manusiawi. Maryam menyimpan sebersit impian untuk bebas dari aturan-aturan keagamaan alasannya ialah dorongan hawa nafsunya, sementara Yosef pun tak bisa menekan hasratnya untuk mencintai. Alhasil, kedua karakter utama ini sempat mengalami krisis keimanan ketika mereka menyadari benih-benih cinta mulai timbul meski saya sendiri mempunyai perspektif lain mengenai relasi dua insan ini. Benarkah gejolak yang muncul dari dua belah pihak bisa disebut cinta? Atau jangan-jangan gejolak itu muncul dari dorongan seksual belaka?

#13 Perempuan Tanah Jahanam


Selama kurang lebih satu jam selanjutnya, Perempuan Tanah Jahanam memang menghadirkan rasa gelisah dan ketakutan secara konstan. Pemilihan lokasi yang jitu beserta kinerja dari departemen teknis membuat kesan menyeramkan sangat menonjol. Yang juga berkontribusi dalam menyokong sensasi eerie yang dimunculkan film ialah performa sangat baik dari jajaran pemain. Saat misteri melingkungi, rasa penasaran, cemas, serta ngeri ialah sobat baik bagi penonton. Kita dibentuk menaruh curiga, berdebar-debar, sekaligus terperanjat yang dipicu oleh gerak-gerik penduduk desa maupun trik menakut-nakuti yang dirangkai efektif.

#12 Terlalu Tampan


Saat menonton Terlalu Tampan yang disadur dari LINE Webtoon populer, saya sempat berulang kali dibentuk terkekeh-kekeh. Segala absurditas yang biasa kau jumpai pada manga, anime, maupun versi webtoon-nya, divisualisasikan secara efektif oleh sang sutradara. Saya masih saja ngikik geli setiap kali teringat pada visual ledakan menyerupai gres ditimpa bom atom, bagaimana salah satu siswi tiba-tiba kayang kolam kerasukan, dan tur rumah Kulin. Kocak brooo!

#11 99 Nama Cinta


Chemistry ciamik yang terjalin antara Deva Mahenra dengan Acha Septriasa ternyata bukan satu-satunya alasan yang membuat 99 Nama Cinta terasa bernyawa. Ada narasi menyenangkan untuk diikuti, sejumlah momen manis menggemaskan, dan jajaran pemain pendukung asyik yang turut membantu. Sudah cukup usang saya tidak menonton film dengan konten keagamaan pekat (dalam hal ini, Islam) yang sanggup bikin merenung serta hati terasa adem. Film ini berhasil melakukannya melalui pesan berharga yang mengajak penonton untuk menjadi insan berkhasiat bagi sesama. Bagusnya lagi, penyampaian ini tak pernah terasa ceriwis.


#10 Ratu Ilmu Hitam


Alih-alih sekadar mendayagunakan jumpscares yang jumlahnya relatif minim di sini (Thank God!), Kimo Stamboel memantik ketakutan penonton melalui imaji-imaji menggelisahkan yang bermain-main dengan fobia dan atmosfer tidak mengenakkan hati yang senantiasa membuat kita menaruh curiga. Senantiasa membuat kita bertanya-tanya, apakah ada diantara karakter ini yang benar-benar bisa dipercaya? Terlebih lagi, sebagian dari karakter ini mengubur satu belakang layar gelap, dan sebagian lainnya mengusung motif dipertanyakan dibalik kehadiran mereka. Kombinasi antara kecurigaan pada karakter tertentu beserta kewaspadaan terhadap datangnya santet yang akan mendera para karakter ialah apa yang menjaga atensi saya terhadap Ratu Ilmu Hitam untuk tetap hidup. Saat santet itu alhasil tiba, sang sutradara pun tidak lagi berkompromi dalam memvisualisasikan teror yang sanggup membuat mimpi jelek khususnya dalam adegan “siksa neraka”.

#9 Mantan Manten


Tak sebatas berceloteh soal pahit manisnya cinta, Mantan Manten turut menyinggung budaya Jawa dengan segala unsur mistis yang melingkunginya serta informasi women empowerment dimana si karakter wanita berjulukan Nina tidak dideskripsikan tunduk pada lelaki yang dicintainya. Dia ialah seorang pejuang yang menolak untuk mengalah pada keadaan dan lantas membuat film terasa menyerupai tontonan pengembangan diri yang menohok dengan tema utama “sebuah seni untuk bersikap ikhlas.” Babak pamungkas film ini begitu menyesakkan dada yang akan membuat penonton beruraian air mata, khususnya bagi mereka yang mempunyai pengalaman serupa. Tapi bagi saya, air mata ini tumpah bukan alasannya ialah kenelangsaan si karakter utama melainkan alasannya ialah akting ciamik Atiqah Hasiholan yang memperlihatkan bagaimana Nina alhasil bisa memenangkan pertarungannya secara elegan. Dia menegakkan kepala, ia pun tersenyum. Andai karakter ini benar-benar konkret adanya di depan mata, saya niscaya sudah menghampirinya seraya berujar, “kamu wanita hebat, Mbak Nina. I am so proud of you!”

#8 Bumi Manusia


Dibawah penanganan Hanung Bramantyo, Bumi Manusia tersaji sebagai tontonan epik yang menambat atensi sekaligus mempermainkan emosi sehingga durasi panjang bukan jadi soal. Selain elemen teknis yang berada di kelas wahid dan cara bertutur sang sutradara yang nyaman untuk diikuti, Bumi Manusia memperlihatkan keunggulannya di sektor akting dimana pemain ansambelnya benar-benar berlakon secara solid. Satu pemain paling menonjol ialah Sha Ine Febriyanti yang menyerupai dilahirkan untuk melakonkan Nyai Ontosoroh. Ine mempunyai semacam daya tarik besar lengan berkuasa yang memungkinkan setiap kemunculannya senantiasa mempunyai energi yang membuat perhatian kita tertuju kepadanya. Entah ketika ia terlihat menyerupai wanita tangguh yang tidak tergoyahkan oleh apapun, maupun ketika ia bertransformasi menjadi wanita tak berdaya yang terinjak-injak oleh sistem.

#7 Dua Garis Biru


Melalui Dua Garis Biru, Gina S Noer menghadirkan tontonan yang tak saja menguras emosi tetapi juga membuka mata. Ada upaya untuk ciptakan ruang diskusi di kalangan penonton – khususnya anak dengan orang renta – demi meminimalisir ketidaktahuan, kesalahpahaman, serta efek-efek negatif yang mungkin timbul akhir keengganan berbicara soal seks. Tak sebatas mengupas konflik seputar “ngebuntingin anak orang” dan pembicaraan mengenai ancaman kehamilan di usia dini, film turut mengajukan informasi menggigit terkait budaya victim blaming yang berkembang di masyarakat, contoh asuh orang tua, hingga relasi dalam keluarga. Tidak ada karakter yang sepenuhnya putih higienis disini, tidak ada pula karakter yang diperlihatkan hitam legam tanpa ada setitik nilai kebaikan yang dipercayainya. Mereka pernah berlaku, mengambil keputusan, atau minimal mengucap keliru dan itu tidak masalah. Dari sana mereka berguru dari konflik yang mengikat mereka, kemudian tumbuh menjadi insan yang lebih baik berkat problem tersebut.

#6 Kucumbu Tubuh Indahku


Tidak menyerupai kerap dituduhkan oleh ormas tertentu, Kucumbu Tubuh Indahku bukan bermaksud mempromosikan LGBT. Garin Nugroho membawa kita ke pedalaman Banyumas guna berkenalan dengan kebudayaan khas Indonesia dalam wujud Tari Lengger yang kian terpinggirkan. Dari sana, penonton diajak untuk mengikuti perjalanan satu anak insan yang kerap menghadapi serentetan kekerasan dalam hidupnya seraya memperbincangkan soal seksualitas, gender, serta kemanusiaan. Visualisasinya boleh saja puitis dan menyiratkan simbol-simbol tertentu, tapi narasi yang dihaturkan oleh Garin sanggup dicerna secara mudah. Ditambah adanya sokongan akting apik dari barisan pemain beserta iringan musik yang merupakan salah satu skoring terbaik yang pernah saya dengar dalam sinema tanah air, kau akan terpukau, kau akan terhanyut, dan pada alhasil kau akan dibawa ke dalam perenungan mendalam kala menyaksikan Kucumbu Tubuh Indahku yang manis ini.   

#5 Twivortiare


Menonton Twivortiare tak ubahnya sedang menyaksikan dongeng kita sendiri atau seseorang yang kita kenal. Begitu dekat, begitu membumi. Tidak ada glorifikasi romansa yang dipenuhi keindahan beserta untaian kata-kata manis di sini alasannya ialah film mencoba menghadirkan sebuah realita dalam relasi pasca mengikat akad suci. Sebuah realita yang tak melulu menggembirakan, tetapi juga menggoreskan rasa sakit di dada. Bagaimana jadinya ketika dua orang yang mengaku saling mengasihi memutuskan untuk menikah? Akankah mereka bahagia… atau tidak? Twivortiare mengapungkan topik pembicaraan menggugah untuk siapa saja yang ingin berguru dalam membina relasi percintaan yang sehat. Tak sekalipun terasa menjemukan, film justru akan mempermainkan emosimu sedemikian rupa. Hatimu akan dibentuk teriris-iris, kau akan dibentuk terenyuh, dan kau juga akan dibentuk tersenyum-senyum gemas olehnya.

#4 27 Steps of May


Berkat pengarahan teliti, tangkapan-tangkapan gambar yang “berbicara”, beserta penampilan luar biasa dari jajaran pemain khususnya Raihaanun yang sanggup menyuarakan emosinya melalui lisan serta gestur-gestur kecil, penonton bisa memenuhi impian si pembuat film: mencicipi kenelangsaan dua karakter utama dalam 27 Steps of May. Alhasil, saya pun terkoneksi dengan si protagonis sehingga saya tidak ingin melihatnya terjerembab lagi ke jurang depresi dan saya tidak ingin perjuangannya untuk mengatasi stress berat berkepanjangan berakhir sia-sia. Saya ingin melihatnya bangun dari keterpurukkan dan menginspirasi para penyintas kekerasan seksual yang belum berkenan melanjutkan hidup. Kalaupun May tidak melakukannya (karena ia bukanlah karakter nyata), tapi paling tidak, itulah yang dilakukan oleh film ini. Merangkul para penyintas kemudian membuka mata publik khususnya mereka yang masih menganut asas victim blaming dalam kasus pelecehan seksual.

#3 Imperfect


Selepas menonton Imperfect di layar lebar, ada satu hal yang saya lakukan, yakni menyeka air mata. Bukan alasannya ialah filmnya sebegitu pedihnya hingga meremas-remas emosi, melainkan alasannya ialah saya mencicipi sebuah kebahagiaan yang muncul berkat pesan indah yang diutarakannya. Mengenai mendapatkan diri sendiri secara apa adanya, mengenai kebahagiaan yang akan mengikuti ketika kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Pun begitu, film ini tak lupa mengajak penonton bersenang-senang. Setiap karakter diberi amunisi untuk melontarkan humor yang sebagian besar diantaranya mulus mengenai sasaran.  Yang sedikit unik kali ini, Ernest Prakasa tak sekadar memakai karakter-karakter tersebut sebagai pemancing tawa belaka. Mereka dilibatkan ke dalam narasi utama, dan keberadaan mereka turut difungsikan untuk melontarkan dua komentar berbeda mengenai pemujaan terhadap sosok ideal dan memandang ketidaksempurnaan dari perspektif lain. I can relate!

#2 Bebas


Memboyong ekspektasi cukup tinggi karena film ini disadur dari film Korea Selatan berjudul Sunny, nyatanya saya sanggup melangkahkan kaki keluar bioskop dengan senyum mengembang mengambarkan kepuasan tiada tara. Jika boleh meminjam pernyataan anak gahoel zaman sekarang, Bebas memang seasyik, seseru dan semenyenangkan itu. Satu hal yang bisa pribadi diapresiasi ialah performa dari jajaran pemain yang sangat kompak seperti mereka memang betulan berkawan karib. Saking asyiknya chemistry diantara mereka, rasanya betah berlama-lama bersama mereka dan berharap film tidak akan pernah berakhir. Saya tertawa heboh bersama mereka, saya ingin ikut menari dengan riang bangga bersama mereka, dan saya pun menangis tersedu-sedu bersama mereka. Seolah kesenangan ini belum cukup, masih ada kurasi lagu Indonesia yang jempolan dari kurun 90-an yang akan mengajak kita bersenandung bersama dan mengenang masa muda.

#1 Keluarga Cemara


Usai menyaksikan Keluarga Cemara di bioskop, ada satu perasaan yang terus hinggap di hati yakni hangat. Tak terhitung berapa kali saya menyeka bulir-bulir air mata yang menuruni pipi, memberi pelukan erat-erat kepada diri sendiri, hingga muncul dorongan untuk sesegera mungkin menelpon orang renta di rumah ketika menonton Keluarga Cemara yang merupakan salah satu film Indonesia terindah yang pernah saya tonton. Deskripsi yang mungkin terdengar agak hiperbolis, tapi sejujurnya, ini benar-benar terjadi. Ketimbang mengeksploitasi kesedihan, film mencoba tampil berenergi dengan segala humor yang ciptakan gelak tawa serta adanya pesan penumbuh semangat yang sekaligus berfungsi menghilangkan stereotip terhadap kemiskinan. Pada akhirnya, bukan hanya bantuan para pemain yang sanggup membawa emosi dalam Keluarga Cemara semenonjok ini, melainkan juga dipengaruhi naskah bernas, pengarahan penuh sensitivitas dari Yandy Laurens, pilihan-pilihan lagu pengiring yang menyatu, beserta penyuntingan mengalir. Buagus sekali!