October 21, 2020

20 Film Terbaik 2012 Versi Cinetariz


Akhirnya, selesai juga saya membuat daftar ’20 Film Terbaik 2012 Versi Cinetariz’ sehabis berhari-hari lamanya berjuang memilah-milah film mana saja yang berhasil menembus daftar selesai dan film mana saja yang terpaksa untuk digugurkan. Sejujurnya, tidak menyerupai tahun-tahun sebelumnya yang terbilang gampang dalam menyusun list tahunan ini, alasannya untuk sekali ini, susahnya luar biasa. Pusing saya dibuatnya. Bukan alasannya terjadi kemerosotan dalam hal kualitas, tetapi justru sebaliknya. Banyak sekali film yang membuat saya berdecak kagum, jatuh hati, dan tergila-gila dibuatnya. Tahun kemudian benar-benar menjadi salah satu tahun terbaik bagi perfilman dunia. 

Dengan total film yang saya tonton mencapai lebih dari 250 film, maka pilihan pun semakin meluas. Ada banyak pertimbangan mengapa film tertentu sukses mencapai top 20, mengapa film tertentu hanya sukses mendiami ‘honorable mentions’, dan mengapa beberapa film yang  digemari oleh masyarakat malah sama sekali tidak masuk. Tentunya, semua pilihan ini bersifat subjektif sehingga sanggup dimaklumi kalau ada kesamaan atau perbedaan selera dengan para pembaca di dalamnya. Film-film yang berhasil lolos di daftar ini yaitu film-film produksi tahun 2011-2012 yang tayang secara luas (baik bioskop maupun home video) serta saya simak sepanjang tahun 2012. Maka kalau Anda bertanya, dimana Les Miserables dan The Impossible yang sedemikian saya puji, maka saya akan menjawab, mungkin tahun depan. Mayoritas film Indonesia pun tak saya loloskan dengan pertimbangan telah ada list khusus ‘12 Film Indonesia Terbaik 2012‘. Bukan berarti tidak layak atau kalah bagus, tetapi memberi ruang untuk film lain. 

Sebelum kita menapaki 20 besar, menyerupai biasa, saya akan mengajak Anda untuk mengintip film-film apa saja yang juga mencuri perhatian saya sepanjang 2012 namun kurang beruntung di detik-detik pemilihan yang berlangsung ketat. Fuh… 

Honorable Mentions :

The Grey 

• A Simple Life 

• Headhunters 

• 21 Jump Street 

Brave
Dan inilah 20 film terbaik pilihan Cinetariz… 
Dikemas dengan gaya found footage, Chronicle membuka gelaran film di tahun 2012 dengan apik. Tak ada kisah superhero mari-kita-selamatkan-dunia di sini. Yang ada, bagaimana sekumpulan remaja menyikapi kekuatan gres dengan cara mereka sendiri. Usai menyimak film ini saya berdebat panjang dengan seorang teman membahas, “siapa yang bekerjsama patut disalahkan atas serangkaian insiden yang terjadi di sini, sang ayah atau sang anak?”. 

Joss Whedon menjalankan tugasnya dengan tepat dalam mengerjakan The Avengers sehingga hasilnya… boom! Salah satu film superhero terbaik yang pernah dibuat. Penuh hingar bingar dengan agresi serta imbas khusus yang mempesona, pembagian jatah screentime yang adil merata untuk ke-6 superhero kondang milik Marvel serta suntikkan humornya yang cerdas, membuat film ini sangat menyenangkan untuk disimak. 
18. Ruby Sparks 
Banyak dari kita yang menginginkan pendamping hidup yang sempurna, dalam artian tak pernah melaksanakan kesalahan, sementara, well… nobody’s perfect, rite? Ketika kita jadinya diberikan kesempatan untuk membuat pasangan kita sendiri dan mengontrol sesuai dengan kemauan, akankah hidup lantas tepat dan penuh dengan kebahagiaan? Inilah yang Jonathan Dayton dan Valerie Faris coba singgung melalui Ruby Sparks. Sebuah film komedi romantis yang unik dengan sindiran-sindiran yang tepat sasaran. 
The Raid yaitu balasan atas pertanyaan ‘kapan perfilman Indonesia bisa membuat film laga yang seru?’ yang telah dilayangkan menahun. Tanpa dibekali skrip yang memadai, Gareth Evans tetap sanggup membuat penonton duduk manis di dalam bioskop dan terpukau menyaksikan gelaran agresi yang ditebar nyaris tanpa putus yang memacu adrenalin. Desingan peluru, baku hantam, hingga muncratan darah yaitu apa yang akan Anda dapatkan dikala menyaksikan film ini. Penonton terlalu sibuk untuk dibentuk tegang, bersorak sorai, atau malah mengumpat sehingga sanggup memaafkan plot-nya yang setipis kertas. 

Christopher Nolan menawarkan hampir semua yang diinginkan oleh fans Batman dan film-filmnya melalui The Dark Knight Rises. Seri epilog dari trilogi Sang Ksatria Hitam ini dibentuk dengan lebih ambisius, lebih megah, lebih dalam, lebih suram, lebih rumit, dan lebih seru dari sebelumnya. Walaupun bagi saya Batman Begins dan The Dark Knight masih lebih unggul, khususnya dalam hal penceritaan, The Dark Knight Rises tetaplah sebuah konklusi epik dari Batman Nolan yang akan teramat sayang kalau dilewatkan begitu saja. 

Yah… ini yaitu salah satu kejutan manis bagi saya di tahun 2012. Sama sekali tidak menyangka kalau jadinya sanggup terpesona dengan Wreck-It Ralph sehabis keraguan sempat melanda di hati beberapa kali. Wreck-It Ralph mengombinasikan sebuah petualangan yang seru dengan komedi cerdas dan drama menyentuh secara padu. Banyaknya tumpuan terhadap budaya pop serta nostalgia terhadap arcade game yang diusungnya merupakan salah satu dari aneka macam macam alasan mengapa film ini enak untuk disantap. Sebagai pecandu game di periode 90-an, rasanya sungguh mengasyikkan melihat sejumlah tokoh game yang familiar berseliweran di layar. 
14. Monsieur Lazhar 
Sebuah film yang hangat mengenai relasi seorang guru pengganti dengan murid-muridnya yang mengalami sebuah insiden traumatis usai guru kesayangan mereka bunuh diri di dalam kelas yang mereka tempati. Saya benar-benar dibentuk emosi dan sepanjang film tiada henti mengutuk perbuatan si guru yang entah sanggup wangsit terbelakang darimana untuk bunuh diri di dalam kelas. Rasanya ingin sekali memberi pelukan erat kepada setiap murid di kelas Pak Lazhar, khususnya Simon yang terlihat sangat terpengaruh dengan insiden ini. 
13. Looper 
Menonton Looper pun menjadi salah satu pengalaman menonton paling mengasyikkan yang saya dapatkan, setidaknya untuk tahun lalu. Rian Johnson bisa memadukan thriller, romansa, dan sedikit bumbu komedi menjadi satu kesatuan yang apik. Sesekali memang terasa memusingkan, namun seringkali film sanggup membawa saya melewati fase deg-degan yang menyenangkan. Looper telah membawa saya ke dalam sebuah perjalanan seru yang penuh dengan hal-hal mengejutkan yang di dalamnya mengandung naskah cerdas berisi, akting menawan para pemain, serta kandungan hiburan dengan dosis yang pas. 

12. Kahaani 
Ketika masih ada sejumlah masyarakat Indonesia mencemooh film India, tanpa mereka sadari Bollywood telah melangkah jauh ke depan. Kahaani yaitu salah satu bukti terkonkritnya. Meniadakan lagu serta gerakan tari yang telah menjadi ciri khas film India, garapan Sujoy Ghosh ini membawa kita kepada sebuah jalinan penceritaan yang menegangkan dan tak henti-hentinya mengakibatkan rasa penasaran. Akting cemerlang dari Vidya Balan serta ‘twist ending’ yang sama sekali tidak disangka-sangka datangnya (dan sangat watdefak tentunya), membuat saya berani melabeli Kahaani dengan… Bollywood at its best! 

11. Frankenweenie 
Selamat tiba kembali, Tim Burton. Setelah beberapa tahun terakhir tersesat dalam film-film yang memble, Burton jadinya bangkit, menggebrak, memuaskan para penggemarnya, dan siap untuk merebut kembali kejayaannya yang telah pudar melalui Frankenweenie yang merupakan reka ulang dari film pendek garapannya. Hadir dengan nuansa ‘gothic’ yang menjadi ciri khasnya, ada banyak magis di dalam film ini serta satu elemen yang nampaknya telah bolos dalam beberapa film terakhir Burton, hati. Frankenweenie yaitu sebuah film animasi yang hangat, menyentuh, jenaka, sekaligus menyeramkan. 
End of Watch bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang usang, klise, dan gampang ditebak. Memilih pendekatan gres untuk genre ini dengan menyajikannya dengan gaya mockumentary seolah kita tengah menyimak sebuah reality show berjudul Cops, menyuntikkan hati, menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, dan chemistry yang luar biasa antar para pemainnya, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah sajian yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out
9. Pitch Perfect 
Pitch Perfect bagaikan sebuah perpaduan yang tepat antara Bridesmaids, Bring It On, dan serial televisi musikal, Glee. Penuh dengan keceriaan, canda tawa, dan formasi tembang yang cepat menjadi candu. Kehadiran Rebel Wilson sebagai Fat Amy membuat film yang sejatinya telah dianugerahi naskah yang lucu menjadi berkali-kali lipat lebih lucu. Tak henti-hentinya saya tertawa terbahak-bahak menyimak Pitch Perfect. It’s freaking hilarious, andexcuse me, bitch, It’s aca-awesome
8. Ted 
Ted yaitu film komedi paling lucu, paling kasar, paling nakal, paling kurang ajar, dan paling tidak mengenal sopan santun tahun lalu. Seth MacFarlane telah membuat sebuah film komedi fantasi yang bagi saya nampak sebagai ‘Christmas movie’ yang penuh dengan kegilaan, sentilan, lucu, menyenangkan, namun tetap punya hati. Ini bukan hanya sebuah film komedi gila-gilaan tanpa tujuan yang mengajak penonton tertawa habis-habisan dikala si Teddy Bear mengejek tanpa ampun aneka macam fenomena pop culture, tetapi juga mengajak untuk merenungi makna dari kedewasaan, tanggung jawab, janji serta berguru membuat keputusan. Dalam! 

7. Skyfall 
Saya tidak pernah benar-benar menjadi fans berat dari James Bond yang mengenal setiap abjad serta franchise filmnya luar dalam. Akan tetapi, Skyfall telah mempengaruhi saya untuk mempelajari sekaligus memahami si biro 007 ini berkat Sam Mendes yang lebih asyik dalam menguliti dan menyelami sisi humanis dari Bond ketimbang menggeber agresi menyerupai dua jilid pendahulu (dari generasi Daniel Craig). Pun demikian, Skyfall tetap mempunyai serentetan adegan agresi yang mendebarkan – simak saja set piece pembukanya yang seru dan habis-habisan – serta yang menjadi highlight dari jilid ini, sinematografi yang sangat cantik. Inilah film agresi terbaik dari tahun lalu. 
6. Hugo 
Martin Scorsese istirahat sejenak dari ‘dunianya’ yang sarat akan kekerasan untuk mengajak Anda merayakan sinema melalui Hugo. Diangkat dari novel buatan Brian Selznick, ini yaitu sebuah surat cinta yang berisi ungkapan hati dari seseorang yang sangat mengagumi keindahan dan magis dari sebuah film yang dihadirkan dalam bentuk serangkaian gambar yang luar biasa cantik. 3D yang umumnya hanya sebagai gimmick belaka, dimanfaatkan secara maksimal oleh Scorsese sehingga membuat Hugo terasa lebih emosional, lebih nyata, dan lebih bersahabat dengan hati. Ini tentunya sebuah film yang sangat penting bagi siapapun yang menyayangi film atau ingin mengenal lebih jauh mengenai film. 
5. The Intouchables 
Salah satu film terlaris sepanjang masa di Prancis ini benar-benar sanggup membuat saya tersihir dikala pertama kali menyimaknya hingga kemudian memutuskan untuk melahapnya lagi dan lagi. Guliran dongeng persahabatan yang diangkat dari kisah aktual antara Philippe, seorang kaya raya yang lumpuh, dan Driss, perawatnya yang penuh dilema namun seringkali menyemburkan energi positif, dikemas oleh duo Olivier Nakache dan Eric Toledano dengan santai dan penuh humor tapi tetap berhasil membuat hati tersentuh hingga (oh ini memalukan, sebenarnya) menitikkan air mata. Dua tokoh utamanya sangat ‘lovable’ dan track ‘Una mattina’ gubahan Ludovico Einaudi sungguh menghantui. 

 4. The Perks of Being a Wallflower 
Sulit untuk mendeskripsikan mengapa saya bisa benar-benar dibentuk jatuh hati kepada film ini. Ada sebuah magnet berpengaruh yang membuat saya sulit untuk begitu saya melupakan The Perks of Being a Wallflower dari pikiran. Apa yang dimunculkan oleh Stephen Chbosky di sini tak jauh-jauh dari kisah suka sedih kehidupan remaja yang bersinggungan dengan persahabatan, cinta, seks, hingga pencarian jati diri dengan aksesori belakang layar kelam yang menghinggapi tiap tokohnya. Jalinan penceritaannya yang sangat berpengaruh menerima pemberian penuh dari akting para pemainnya; Logan Lerman, Emma Watson, dan Ezra Miller, yang sangat prima. 

Salah satu film horror paling cerdas yang pernah saya saksikan dalam beberapa tahun terakhir. Kapankah terakhir kali Anda bersenang-senang, berteriak ketakutan, dan melontarkan ‘Watdefak!’ berulang kali tatkala menyaksikan sebuah film menakutkan di bioskop? The Cabin in the Woods mengobati kerinduan saya akan film horor yang tidak hanya membuat saya terlonjak dari bangku bioskop dan berteriak sekencang mungkin, tetapi juga terpana dengan kisah yang disajikan. Duo Drew Goddard dan Joss Whedon berhasil menampilkan teror klasik yang mencekam dengan balutan obrolan berselera humor tinggi, sindiran-sindiran atas ramuan klise film horor, dan alur yang susah ditebak kemana akan bermuara. 20 menit terakhir dari film ini pertanda kejeniusan Goddard dan Whedon. Ini yaitu sebuah kado (atau surat cinta?) istimewa untuk para penikmat horror. 
Pernahkah Anda menitikkan air mata dikala menonton sebuah film alasannya saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist yaitu salah satunya. Film isyarat sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Dikemas dalam bentuk film hitam putih dan tanpa dialog, The Artist merupakan sebuah surat cinta yang dihaturkan untuk film bisu. Absennya bunyi tokoh di sini membuat film bergantung sepenuhnya kepada para pemainnya yang ekspresif serta naskah yang sekalipun sederhana dalam bertutur namun terasa manis dan jenaka. Saya benar-benar dibentuk jatuh hati kepada film ini… dan saya tidak sendiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah menyaksikan film di bioskop (pemutaran reguler, bukan screening khusus), penonton serempak menawarkan tepuk tangan penuh penghormatan usai menyimak The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema! 

Jika ada pertanyaan, “apa film yang paling sering Anda saksikan di tahun 2012?”, dilayangkan kepada saya, maka tanpa ragu saya akan menjawab, Life of Pi. Empat kali saya menyaksikan film ini di bioskop, tak sekalipun rasa bosan menghinggapi, dan rasa kagum menyerupai pertama kali menyaksikannya selalu saya dapatkan dikala menyimak ulang. Ini yaitu sebuah pencapaian sinematis yang sangat luar biasa, Ang Lee at his best! Selama lebih dari dua jam, Life of Pi membuat saya bersemangat, terlibat, tersentuh, tertawa, terkejut, hingga tertampar keras-keras. Penampilan apik dari para pemain, penceritaan yang menakjubkan, sinematografi yang memesona, visual imbas yang mencengangkan, musik skor yang indah, hingga petualangan berbalut fantasi yang penuh kejutan yaitu apa yang akan Anda dapatkan dari Life of Pi. Dan masih ditambah dengan 3D-nya yang merasuk sempurna. Pesan moral yang coba untuk dihaturkan oleh film ini pun berhasil tersampaikan dengan sangat baik dan mengena, setidaknya bagi saya. Ada sebuah dampak positif yang saya rasakan usai menyaksikan film ini. Everything about this movie was simply beautiful.