November 27, 2020

20 Film Terbaik 2014 Versi Cinetariz


Phew. Akhirnya tuntas sudah menyusun daftar ’20 Film Terbaik 2014 Versi Cinetariz’. Setelah sempat vakum sejenak tahun kemudian alasannya yaitu kesibukan dan lain sebagainya, Cinetariz memutuskan kembali menghadirkan susunan film-film terbaik dalam setahun terakhir atas ajakan sejumlah pengunjung setia (ehem!) sekaligus alasannya yaitu ya, kerinduan mengolah list tahunan semacam ini. Ada semacam candu yang menghinggapi walau selalu ada tekanan disana-sini ketika menatanya karena mau tak mau banyak film bagus – bagi saya, tentunya – yang terpaksa tersisihkan menurut banyak sekali macam pertimbangan. 

Sekilas, tahun 2014 bukanlah tahun yang meninggalkan kesan mendalam dalam kaitannya dengan film. Hanya segelintir film yang menonjol, sementara kebanyakan film unggulan malah terperosok jatuh ke jurang. Seharusnya membuat daftar film terbaik 2014 yaitu kasus mudah… tapi kenyataannya tidak! Selain peta film-film berkualitas di atas rata-rata cenderung tersebar merata, terdapat pula kejutan-kejutan manis dari film kecil yang tanpa dinyana-nyana memberi dampak besar sehingga persaingan pun kian ketat. Lantas, apa pertimbangan utama mengapa film A lolos seleksi dan mengapa film B tidak? 
Well, pada kesudahannya ini kembali pada selera. Akan sangat sulit memilih kalau landasan penilaiannya yaitu film tersebut dikaruniai elemen-elemen terbaik atau harus dicintai penonton kebanyakan. Pada dasarnya, daftar ini tidak lebih dari sekadar 20 film paling membekas di hati (sekaligus mengatakan dampak mendalam secara emosional) dalam setahun terakhir dan saya rekomendasikan untuk kau tonton. Sebisa mungkin berasal dari bermacam-macam genre, walau tak sanggup dihindari akan ada dominasi genre tertentu yang memang saya gemari secara personal. Kamu boleh oke atau menolak, tapi ya, bagaimanapun ini yaitu daftar personal dari catatan menonton lebih dari 200 film sepanjang 2014. 

Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, inilah 20 film terbaik (serta beberapa honorable mentions) di tahun 2014 versi Cinetariz: 
Honorable Mentions (in alphabetical order): 

• The Babadook (Australia)

• Begin Again (Amerika Serikat)

• The Grand Budapest Hotel (Amerika Serikat – Inggris – Jerman) 

• How to Train Your Dragon 2 (Amerika Serikat)

• John Wick (Amerika Serikat) 


• Snow White Murder Case (Jepang)

• Teacher’s Diary (Thailand)

• What We Do in the Shadows (Selandia Baru)

• X-Men: Days of Future Past (Amerika Serikat)

• Yasmine (Brunei)

Mari memulai hitung mundur di 20 besar… 

#20 
Housebound (Selandia Baru)

Sepertinya tidak ada lagi yang sanggup dieksplorasi dari ranah haunted house di film memedi… hingga kita melihat Housebound. Seolah akan tampil klise, pada awalnya, namun begitu hebat dalam membangun atmosfir ngeri dengan banyak sekali ketidaknyamanannya dan banyak dibumbui humor yang bagusnya tidak menurunkan kadar keseraman. Tanpa diduga, Housebound lantas membelokkan kemudi menginjak pertengahan film. Tingkat seramnya memang perlahan memudar, tapi tidak dengan ketegangannya. 
#19 
The Tale of Princess Kaguya (Jepang)

Dongeng seorang putri dari kerajaan bulan yang ‘terlahir’ di pelepah bambu memang telah kelewat sering diceritakan ulang melalui banyak sekali versi. Akan tetapi, di bawah penanganan Isao Takahata yang dinauingi oleh Ghibli, folklore terkenal Putri Kaguya ini memancarkan pesonanya sendiri di balik kesederhanaan teknik animasinya kolam diguratkan memakai kuas cat air. The Tale of Princess Kaguya sama rupawannya dengan sang putri. 
#18
Way Back Home (Korea Selatan)

Harus diakui bahwa Korea Selatan memang ahlinya dalam membuat tontonan tearjerker. Lihatlah apa yang mereka lakukan di Way Back Home yang tuturannya dicuplik menurut kisah aktual seorang ibu rumah tangga yang dipenjara alasannya yaitu dituduh menyelundupkan obat-obatan terlarang ini. Selama kau masih mempunyai hati dan korelasi erat dengan keluarga, Way Back Home akan membuatmu kesulitan setengah mati membendung tumpahan air mata. Benar-benar ‘horor’. 

#17
Philomena (Inggris)

Nyaris tidak ada yang mengenali Philomena Lee bahkan mungkin enggan peduli, hingga kita menyaksikan kisah hidupnya yang dramatis di Philomena. Seperti halnya kehidupan di dunia nyata, Philomena tidak dihantarkan secara lurus, mulus, dan gampang ditebak, melainkan dipenuhi kelokan serta kejutan yang tidak disangka-sangka datangnya. Memberi cecapan bermacam-macam rasa yang terkadang manis, terkadang pahit. Philomena memiliki salah satu titik puncak menyesakkan dada yang sangat sulit untuk dilupakan. 


#16 
Fury (Amerika Serikat)

Fury yaitu salah satu film perang terbaik yang pernah dihasilkan oleh sineas manapun paska kegemilangan Saving Private Ryan. Corak khas David Ayer yang enggan berkompromi dengan kekerasan dan kesukaannya memperhatikan detail diterapkannya pula di sini sehingga aroma teror dari medan pertempuran semerbak terasa. Kamu akan mencicipi nuansa yang jauh dari kata menyenangkan, dingin, suram, mengerikan, serta menyedihkan ketika Ayer mengajakmu untuk mengikuti perjalanan para protagonis menelusuri zona perang. 
#15
Guardians of the Galaxy (Amerika Serikat)

Saat Marvel Studios meluncurkan Avengers di layar lebar, kita mengira inilah puncak kejayaan mereka dan sulit membayangkan akan ada film superhero lain yang sanggup melampauinya… hingga Guardians of the Galaxy tiba dan menunjukan pada khalayak ramai bahwa masih banyak hal yang sanggup dilakukan oleh Marvel. Siapa yang mengira tembang-tembang 60 dan 70’an sanggup menjadi pengiring yang tepat untuk sepak terjang barisan superhero kurang dikenal yang kocak-kocak ini?

#14
Nightcrawler (Amerika Serikat)

Salah satu kesalahan terbesar Oscars tahun ini yaitu menyingkirkan Jake Gyllenhaal yang memberi penampilan mencengangkan di Nightcrawler dari formasi nominasi. Berduet bersama Rene Russo yang sama gilanya, keduanya memberi topangan tepat bagi premis unik yang dihukum secara efektif oleh Dan Gilroy dalam menyingkap sisi kelam insan serta kebiadaban media yang masing-masing diperbudak oleh uang dan rating. Nightcrawler menawarkan studi aksara mendalam, mengasyikkan nan menegangkan yang akan membuatmu terpaku sepanjang film. 

#13 
The Raid 2: Berandal (Indonesia)

The Raid 2: Berandal memperlihatkan bagaimana sebuah sekuel seharusnya dibuat. Seluruh elemen terbaik yang dimiliki oleh seri pembukanya dihadirkan kembali untuk kemudian ditambah elemen gres yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Beragam bentuk bela diri dalam bentuk hantaman, pukulan, tendangan, hingga tusukan yang berlangsung dimanapun kapanpun tentu ada di sini yang kesemuanya dirangkai memakai koreografi rumit yang membutuhkan presisi, tangkapan kamera yang dinamis, editing yang cekatan, dan alunan musik skoring yang menghentak, sehingga ketika menyaksikannya… sungguh sulit untuk bernafas! 

#12 
PK (India)

Dalam menyuarakan sentilan-sentilunnya yang begerak dalam area sensitif, PK cenderung memanfaatkan teknik bercerita yang sederhana, ringan, kocak, dan menyentuh sehingga kesan menceramahi yang memungkinkan melukai hati penonton sanggup terhindarkan. Kita tidak diajak untuk mengutuk melainkan sekadar menertawakan kekonyolan-kekonyolan yang diperbuat oleh manusia, bahkan diri sendiri. Karena pada kesudahannya PK hanya ingin mengajakmu bersenang-senang hanya saja lewat cara yang berbeda, thought-provoking dan inspiring

#11 
Her (Amerika Serikat)

Mengingat sang tokoh utama dibentuk mabuk kepayang pada sebuah OS (Operating System), terang Her bukanlah film percintaan yang biasa-biasa saja. Ini sebuah sajian yang begitu unik dan istimewa. Bahkan, kau akan mendapati banyak sekali macam rasa yang tertinggal usai menyaksikan Her. Tidak hanya sekadar menyisakan rasa manis, tetapi juga ada percampuran antara kehangatan, kebahagiaan yang tiada terkira, hingga getir yang menyayat hati. 

#10
Boyhood (Amerika Serikat)

Tidak ada adegan bombastis, dramatis, tragis, atau apapun yang bersifat meletup-letup di Boyhood. Sepintas memang terasa sunyi dan hambar, namun kepiawaian Richard Linklater dalam menangkap setiap momen terbaik yang berlangsung selama 12 tahun secara efektif maupun konsisten dengan guliran dongeng begitu personal yang membuat kedekatan pada para penontonnya dan akting prima para pemainnya yaitu nyawa bagi Boyhood. Membutuhkan lebih dari sekadar keberanian, kesungguhan, dan kecermatan, untuk merangkai sebuah film dengan masa syuting 12 tahun. 

#9 
Serial (Bad) Weddings (Prancis)

Bagaimana jadinya ketika pasangan bau tanah penganut Kristen taat harus mendapatkan kenyataan bahwa keempat menantunya berasal dari ras dan agama yang berbeda-beda? Imagine that. Dengan satu sama lain mementingkan ego masing-masing, maka ya, kekacauan tanpa henti penuh taburan tawa yang akan membuatmu tergelak-gelak pun menghiasi sepanjang durasi Serial (Bad) Weddings. Guyonannya rasis banget sih, tapi bukankah intinya setiap orang memendam jiwa rasis? 

#8 
Coherence (Amerika Serikat)

Semakin sedikit kau mengetahui soal Coherence, semakin berlipat-lipat kadar keasyikkan yang sanggup didapat ketika menontonnya. Seperti halnya kedelapan aksara di film, ada sensasi takut, cemas, bingung, dan ingin tau yang bercampur baur menjadi satu tatkala secara serempak listrik tiba-tiba padam. Tidak perlu gelontoran bujet raksasa dengan imbas khusus canggih untuk mewujudkan guliran menegangkan ini, hanya butuh skrip cerdas dan jajaran pemain yang berlakon meyakinkan. 
#7 
Big Hero 6 (Amerika Serikat)

Big Hero 6 mempunyai formula yang dibutuhkan ada pada sebuah film superhero. Sebut saja yang kau inginkan: agresi gegap gempita? Check! Guyonan segar pencair ketegangan? Check! Drama mengharu biru penguras emosi? Check! Villain yang tangguh? Check! Tokoh utama yang gampang untuk dicintai? Check! Dan alasannya yaitu ini film keluarga, pesan moral yang bagus untuk anak-anak? Check! Big Hero 6 betul-betul tidak kekurangan amunisi untuk menjadikannya sebagai hidangan keluarga bercita rasa hiburan yang enak menggoyang lidah. Keberadaan robot gendut berjulukan Baymax yang imut-imut menggemaskan saja sudah cukup untuk dijadikan sebagai alasan untuk tak melewatkan Big Hero 6

#6 
Edge of Tomorrow (Amerika Serikat)

Menyaksikan Tom Cruise berlaga sebagai jagoan tak terkalahkan sih sudah biasa. Yang istimewa, ketika ia memerankan seorang pengecut yang dipaksa memerangi pasukan alien… dan ia sanggup mati berkali-kali. Bukankah terdengar begitu menjual? Lalu, kesemua itu lantas berpadu anggun bersama penampilan humoris Cruise, Emily Blunt yang badass, adegan pertempuran ganas, dan rakitan kisah yang terolah pintar, yang menyebabkan Edge of Tomorrow sebagai tontonan blockbuster paling mengejutkan sekaligus memuaskan tahun lalu. So much fun! 

#5 
The Journey (Malaysia)

Hubungan antara orang bau tanah dan anak selalu memilikii pokok kupasan yang menarik untuk disimak. Tambahkan itu dengan keberadaan calon menantu yang berusaha menyesuaikan diri dalam kultur yang sama sekali berbeda maka hasilnya yaitu tontonan sederhana, lucu, manis, sekaligus hangat berwujud The Journey yang akan seketika membuatmu ingin memberi pelukan erat-erat pada ayah. Inilah film perjalanan sebar-sebar undangan ijab kabul paling menyenangkan sejak Hari Untuk Amanda

#4 
The Secret Life of Walter Mitty (Amerika Serikat)

Walter Mitty mewakili siapapun yang mempunyai banyak mimpi-mimpi besar, namun hanya mempunyai sedikit keberanian untuk mewujudkan. Adanya kedekatan secara personal terhadap Walter Mitty inilah membuat banyak penonton gampang terkoneksi dengannya, menaruh simpati, dan memberi derma tulus. Ben Stiller yang menyelipkan banyak sekali hati dan kehangatan untuk sekali ini tetap tidak lupa mengatakan humor gila-gilaan yang menjadi ciri khasnya dan petualangan fantastis penuh kejutan mengasyikkan di The Secret Life of Walter Mitty
#3 
Gone Girl (Amerika Serikat)

Hanya sesaat sesudah memutuskan untuk melahap Gone Girl, sulit rasanya memalingkan pandangan dari layar maupun memutuskan rehat sejenak di pertengahan film alasannya yaitu guliran kisahnya yang begitu mencengkram erat. Garapan David Fincher ini tak saja memperlihatkan ranah drama kriminal mencekam yang senantiasa membuatmu gemas menerka-nerka ‘apa yang akan terjadi kemudian’ dengan segala misteri yang mengerubunginya, melainkan juga mengapungkan satir sosial soal permainan media dan kehidupan ijab kabul pasangan modern disertai performa sinting (pula menyeramkan) yang dipersembahkan oleh Rosamund Pike. 
#2 
Queen (India)

Dengan premis ‘seorang gadis dari keluarga konservatif mencari pelipur lara di Paris dan Amsterdam usai dicampakkan sang tunangan’, gampang bagi kita menyepelekan Queen. Mungkinkah ini soal pencarian cinta lengkap beserta tari-tarian khas Bollywood? Kenyataannya, ketimbang berbincang mengenai roman picisan, Queen justru tanpa basa-basi menyentil etika moral di India yang dianggap mengekang wanita dan shock culture lewat balutan kisah perjalanan yang seru, penuh semangat, serta informatif, berbalut dialog-dialog jenaka penuh kejujuran yang akan memberimu perasaan senang seusai menontonnya. 

#1 
Stand By Me Doraemon (Jepang)

Sebagai pemuja klasik manga dan serial anime dari robot kucing berwarna biru, Stand By Doraemon yaitu kado yang keberadaannya sungguh sulit ditolak. Mengapungkan kembali memori-memori indah yang sudah terjalin menahun bersama Doraemon dan konco-konco. Teramat jelas, Takashi Yamazaki dan Ryuichi Yagi betul-betul mengetahui bagaimana seharusnya mempresentasikan tokoh ikonik ini kepada para penggemar beratnya. Bahkan, tanpa harus menjadi pemuja Doraemon sekalipun, penonton manapun yang telah melalui masa kanak-kanak, sanggup jadi akan gampang mencintainya. Rangkaian kisah-kisah terbaik dari Doraemon dirajut oleh duo sutradara secara tepat dengan mempertemukan kehangatan, kekocakan, serta keseruan yang dilengkapi muatan pesan moral ihwal persahabatan, mimpi, dan mempercayai diri sendiri. Jika kau memutuskan untuk menontonnya, jangan lupa membawa tissue!

Cek juga: 14 film Indonesia terbaik 2014 versi Cinetariz.