October 18, 2020

20 Film Terbaik 2015 Versi Cinetariz


Menyusun daftar film terbaik tahunan memang tidak pernah simpel bagi saya, namun tahun 2015 menjadi tantangan tersendiri alasannya ialah tidak disangka-sangka ada cukup banyak film yang mencuri perhatian. Saat pertama kali memilah-milahnya awal tahun ini, ada perilaku skeptis bahwa kuota 20 film akan sulit terpenuhi dengan lebih banyak didominasi berisi filler (dipaksakan masuk hanya untuk mencapai target). Tapi sesudah membuka lembaran kenangan manis menonton (ya, saya mencatatnya!), kemudian menonton kembali beberapa film, alangkah terkejutnya saya dikala mendapati setidaknya terdapat 40-an judul yang memenuhi kualifikasi untuk daftar tahunan ini. Karena enggan puyeng, selain faktor ada kesibukan lain dan meneruskan tradisi, maka kali ini pun tetap dibatasi menjadi 20 film saja. 

Mengerucutkan hingga separuhnya tentu bukanlah kasus simpel alasannya ialah itu berarti akan ada film-film ciamik yang terpaksa disenggol. Demi mempermudah penyusunan daftar, maka kriteria utama yang saya menetapkan ialah “masih memberi kesan manis meski telah ditonton 2-3 kali.” Lalu, alasan personal (mungkin tidak akan saya beberkan di penjelasan) tentunya turut mengikuti alasannya ialah pada karenanya menonton film ialah mengenai pengalaman pribadi yang adakala sulit dimengerti oleh pribadi lain. Itulah mengapa formasi film favorit setiap orang berbeda-beda, bukan begitu? Kaprikornus ya, daftar film terbaik tahun 2015 pilihan Cinetariz ini memang begitu kental unsur subjektifitasnya sehingga sangat mungkin beberapa judul jagoanmu tidak muncul disini dan malah tergantikan oleh film yang tidak kau suka (atau sebaliknya). Tanpa perlu berpanjang lebar lagi – toh pada karenanya kata pengantar ini tidak akan terlalu diperhatikan – maka inilah saya persembahkan formasi film terbaik, atau paling meninggalkan kesan, sepanjang tahun 2015 lalu: 

Honorable Mentions 
(sesuai urutan abjad): 

• Assassination


• Dum Laga Ke Haisha

• Ex-Machina

• Jurassic World 


• Spy

• The Gift 


• Unfriended 


Dan, inilah 20 film terbaik 2015 versi Cinetariz: 

#20 When Marnie Was There

Kado ‘perpisahan sementara’ Ghibli sebelum vakum ialah When Marnie Was There yang bisa digambarkan dalam satu kata, indah. Memang bukan mahakarya lainnya dari Ghibli, tapi film kreasi Hiromasa Yonebayashi ini masih mempunyai daya magis cukup berpengaruh pada tuturan maupun presentasinya (yang sangat cantik) sehingga ada kesedihan menggelayuti seusai menontonnya. Bukan semata-mata alasannya ialah konklusinya yang mengharu biru, tetapi juga faktor tidak akan lagi bisa menikmati karya-karya terbaru buatan Ghibli dalam waktu dekat. 

#19 That Thing Called Tadhana

Membawa kita pada perjalanan dua orang asing tanpa arah dengan percakapan-percakapan ‘suka suka gue’ mengenai kehidupan percintaan yang tidak jarang sangat menancap di hati, kenikmatan menonton That Thing Called Tadhana banyak bergantung pada rangkaian dialog-dialog cerdasnya plus interaksi berpengaruh pelakon utamanya. Dimulai dengan lucu, tanggapan sineas Filipina untuk Before Sunrise maupun Hello Stranger ini perlahan tapi niscaya seiring semakin intensnya percakapan diantara dua insan berkelok ke area manis yang akan membuatmu gregetan. 
#18 Ode to My Father

Melodrama berlatar Perang Korea di Ode to My Father mungkin tidaklah sedramatis, seepik, maupun secantik Taegukgi, akan tetapi tribut terhadap para ayah yang bersedia mengorbankan dirinya untuk kelangsungan hidup keluarganya ini tetap sanggup dihidangkan oleh Yoon Je-kyoon menjadi tontonan pilu pencabik-cabik hati. Adegan pertemuan kembali sang protagonis dengan salah satu anggota keluarganya sesudah puluhan tahun terpisahkan oleh perang yang disiarkan di stasiun televisi nasional ialah ‘gong’ tumpahnya air mata. 
#17 Paper Towns 


Tidak disangka-sangka diri ini akan sangat menikmati Paper Towns. Kesan pertama yang menyeruak hadir usai menontonnya adalah: seru! Menduga film akan bernasib serupa dengan sang abang The Fault in Our Stars yang cenderung mengalun datar, Paper Towns justru bergerak penuh dinamika dan letupan-letupan ibarat halnya masa muda yang penuh semangat. Menonton film ini seketika melayangkan kenangan ke masa-masa SMA; menggila bersama para sahabat, melanggar sedikit aturan, hingga naksir gadis tercantik di sekolah. Bahkan ada kombinasi perasaan antara lega, bahagia dan bersemangat yang didapat usai menyaksikan Paper Towns. What a feel-good movie! 
#16 Veteran 


Keberhasilan utama dari Veteran ialah sanggup menciptakan perhatian penontonnya tertambat ke layar seraya menggulirkan pertanyaan di benak, “apa yang akan terjadi kemudian?.” Kita memang telah sama-sama tahu siapa yang salah, siapa yang benar, akan tetapi proses dalam pembuktian kesalahan-kesalahan sang antagonis inilah yang memberi keasyikkan selama menonton terlebih para pelakonnya pun memperlihatkan energi hebat untuk tokoh yang mereka perankan. Hwang Jung-min berhasil memunculkan simpati, sedangkan Yoo Ah-in ingin rasanya saya cabik-cabik saking menjengkelkannya. Seru! 

#15 ‘71 


Reka ulang kerusuhan besar The Troubles di Irlandia Utara pada tahun 1971 didramatisir sedemikian rupa oleh Yann Demange dalam ’71 yang nyaris tidak mempersilahkan penontonnya untuk menghembuskan nafas barang sedetikpun begitu konflik resmi dimulai. Menghadirkan kengerian kerusuhan yang menggedor keras jantung, kebrutalan mencengangkan yang divisualisasikan secara otentik dan akting kelas premium dari Jack O’Connell, ’71 adalah salah satu kejutan terbesar tahun kemudian dalam kaitannya menghadirkan tontonan mencekam. Ya, bahkan lebih mencekam (pula meneror) dari film horor manapun yang dirilis setahun terakhir. 
#14 The Martian 

Alih-alih depresif The Martian justru menginjeksi banyak keriangan terhadap tuturan kisahnya. Ya, walau nadanya cenderung getir, humor-humor bertebaran ini tergolong efektif dalam mencairkan ketidaktentuan suasana yang kadang mencekam, kadang menjemukan, yang disokong pula oleh asupan oksigen dari performa gemilang Matt Damon. Kemampuannya untuk menciptakan penonton bersimpati penuh kepada Mark Watney merupakan aset paling berharga dari film yang tersusun atas imbas khusus mengesankan, pilihan tembang-tembang pengiring yang unik (hey, lagu disko di film fiksi ilmiah!), dan skrip enak olahan Drew Goddard ini. Berkat The Martian, karenanya Mars memperoleh tempat yang layak di film layar lebar, Ridley Scott kembali ke jalan yang benar, dan mata pelajaran ilmu eksakta tidak lagi terlihat sebagai momok menyeramkan. 

#13 Little Big Master

Didasarkan pada sebuah kisah nyata, Little Big Master tidak segan-segan dalam mengobrak abrik emosi penonton semenjak menit-menit pembuka. Seperti melihat kombinasi antara drama pembangkit semangat asal Indonesia, Laskar Pelangi, dengan melodrama penuh air mata dari Taiwan, Mama Hao (My Beloved), Little Big Master tidak saja dikreasi sebagai melodrama mengharu biru belaka yang meminta penonton iba pada kondisi para tokohnya melainkan juga difungsikan sebagai tontonan inspiratif sarat motivasi yang akan menggugah semangatmu terutama jikalau kau menaruh minat tinggi pada dunia pendidikan. Dan oh, siapkan tissue sebelum menonton film ini! 

#12 Birdman

Bukan, Birdman bukanlah film mengenai pahlawan berkekuatan super dengan kostum burung yang bertugas menyelamatkan dunia. Garapan terbaru Alejandro G. Iñárritu– yang karenanya melepaskan diri dari metode penceritaan andalannya (terbagi segmen-segmen) dan tidak lagi berdpresif ria – ini mengelupas suka sedih di balik segala keglamoran panggung Broadway dengan gaya satir yang luar biasa memikat. Mempunyai presentasi memukau dengan pergerakan kamera yang menonjolkan suasana intim plus setiap adegannya seakan-akan direkam hanya dalam satu kali tangkapan, Birdman juga diberkahi ensemble cast yang sangat ‘sadis’ dalam berolah peran. 

#11 Star Wars The Force Awakens 


J.J. Abrams tahu betul bagaimana caranya memanjakan penonton melalui gaya berceritanya yang mengasyikkan di The Force Awakens. Selepas perkenalan singkat satu demi satu ke karakter inti, tensi film tidak pernah dibiarkan mengendur. Terjaga konstan berkat rangkaian gelaran agresi menyenangkan pula seru, bahkan perlahan tapi niscaya mendaki naik begitu film mendekati klimaks. Di sela-sela laga pertempuran yang beberapa diantaranya memaksa diri ini menahan nafas, Abrams juga menginjeksi momen emosional dan sejumput humor yang menciptakan The Force Awakens terasa lebih menggetarkan. Membuat saya yang semula menganggap Star Wars tidak lebih dari fenomena budaya pop biasa mempunyai ketertarikan untuk menyelami kisah petualangan antar galaksi ini lebih jauh – terlebih adegan penutupnya sangat berhasil memunculkan ketidaksabaran dalam menanti seri berikutnya. 

#10 Mencari Hilal

Mencari Hilal ialah sebuah tontonan mengenai hubungan antar insan yang terajut begitu indah, jujur sekaligus bersahaja. Tanpa pernah terasa menggurui sekalipun berada di area reliji, film memunculkan keinginan pada diri untuk memberi pelukan hangat kepada ayah tercinta selepas menontonnya. Kombinasi tepat dari penuturan penuh ‘rasa’ Ismail Basbeth, interaksi benci tapi sayang ‘pasangan ayah anak’ Deddy Sutomo-Oka Antara, tangkapan gambar-gambar penyejuk mata, serta lantunan tembang pengiring penyayat hati berulang kali menciptakan saya tertawa, tersentuh, hingga karenanya tertohok untuk kemudian merenunginya dan melahirkan pertanyaan, “apakah selama ini saya telah menjadi seorang Muslim yang baik? Atau jangan-jangan sekadar memanfaatkan agama supaya mempunyai identitas sebagai bentuk eksistensi diri?.” Sulit dipungkiri, Mencari Hilal merupakan salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, bahkan beberapa tahun terakhir. 
#9 Heart Attack

Salah satu yang menarik dari Heart Attack ialah film ini mempunyai feel agak berbeda dibanding film rilisan GTH selama ini mengikuti style dari sang sutradara yang sedikit nyentrik. Mungkin akan sedikit janggal bagi penonton yang kedarung terbiasa dengan cara bercerita film-film GTH yang sangat ngepop tetapi Heart Attack masih mengaplikasikan sederet formula wajib dari film produksi GTH, ibarat pengisahan beserta guyonan lekat keseharian (terutama jikalau kau pernah mengalami kerja secara freelance atau setidaknya pernah berhadapan dengan deadline membunuh), sensasi feel-good seusai menonton, dan tentunya, performa berpengaruh jajaran pemainnya. Ya, dikala kedua bintang utamanya bersatu di layar, ada semacam getaran sulit dideskripsikan yang menciptakan kita berharap-harap cemas pada kelanjutan hubungan mereka. Berharap mereka bersatu ibarat dikala kita menonton sebuah film romansa bagus. Sangat, sangat manis. 

#8 The Intern

Satu kata terlontar dari verbal sesaat sesudah menyaksikan The Intern adalah, “wow, saya sangat menyayangi film ini!.” Menghibur dan menghangatkan hati. Terindikasi akan mengandalkan senda gurau tak berisi sekadar untuk meriuhkan suasana ibarat terlihat dalam trailer, kenyataannya The Intern malah jauh lebih dari itu. Terlebih, tidak ada yang lebih tepat dari menyatukan Robert De Niro dan Anne Hathaway untuk bersinergi di garda terdepan. Saat dipisahkan, masing-masing tampil ciamik, dan dikala disatukan, hasilnya jauh lebih dahsyat lagi. Keduanya benar-benar tampak ibarat dua orang yang saling membutuhkan satu sama lain untuk saling menguatkan. Memercikkan unsur magis dan kehangatan, boleh jadi De Niro-Hathaway ialah pasangan terbaik di layar lebar tahun ini. 

#7 Mad Max: Fury Road

Sulit untuk tidak menjlentrehkan kata-kata bernada hiperbolis dikala memperbincangkan Mad Max: Fury Road alasannya ialah memang ibarat itulah filmnya: over-the-top – serba berlebihan dalam memvisualisasikan kegilaan laganya – namun begitu menyenangkan ibarat menyaksikan film-film agresi keluaran 70-80’an. Pada akhirnya, gila, liar, gahar, mengasyikkan dan menegangkan ialah sederetan kata paling cocok untuk mendeskripsikan Mad Max: Fury Road. Sebuah instant classic yang tidak keberatan untuk kita tonton ulang lagi dan lagi. George Miller memperlihatkan kepada para juniornya di ranah agresi ihwal bagaimana seharusnya sebuah film laga dibuat. 

#6 Kingsman The Secret Service 


Kingsman: The Secret Service berniat mengembalikan film spy ke jalur sepatutnya yang tidak mengharamkan buat bersenang-senang namun tetap mempunyai sentuhan elegan ibarat halnya mata-mata elit di dalamnya. Ya, kurang lebih ibarat memadukan serangkaian film James Bond masa awal dengan Kick-Ass maupun Austin Powers yang berarti kau tidak semata-mata hanya akan memperoleh banyak kegembiraan tetapi juga mendapat kegilaan yang mungkin belum pernah kau bayangkan sebelumnya (adegan kembang api penuh warna, anyone?). It’s bloody fantastic! 

#5 Me and Earl and the Dying Girl 


Siapa bilang kisah sedih harus selalu diratapi? Me and Earl and the Dying Girl memperlihatkan bahwa celotehan mengenai dewasa dengan penyakit mematikan pun bisa dihantarkan secara jenaka dan penuh keceriaan. Ya, ketimbang menangisi penderitaan, para tokoh utama di film instruksi Alfonso Gomez-Rejon ini mencoba memandangnya dari sisi positif sehingga penonton – termasuk saya – pun memperoleh pembelajaran mengenai kehidupan. Deep? Memang. Dan itulah salah satu keistimewaan Me and Earl and the Dying Girl selain gaya saji quirky-nya, tuturan kisahnya yang unik, dan penggambaran hubungan antar karakternya yang luar biasa bagus sampai-sampai muncul keinginan akrab dengan mereka. Karena faktor jatuh hati pada barisan tokohnya inilah, Me and Earl and the Dying Girl sanggup menghujam emosimu keras-keras tanpa harus menjadi cengeng. Sebuah film coming of age yang sangat indah, hangat, dan lucu. 
#4 Drishyam

Dibuat berdecak kagum oleh Kahaani dan dilanjutkan Talaash tiga tahun silam, sekarang sineas Bollywood kembali menciptakan saya geleng-geleng kepala lewat sebuah film thriller cerdas berjudul Drishyam yang di-remake dari film bertajuk sama asal tempat Malayalam. Mengapungkan pertanyaan, “sejauh mana kau akan mengambil tindakan untuk menyelamatkan keluargamu?,” Drishyam hidup berkat kombinasi gemilang antara lakon dahsyat barisan pemainnya – angkat topi khususnya kepada Ajay Devgan dan Tabu – yang berhasil memancing emosi sedemikian rupa (dari kasihan, takjub, hingga gregetan), serta pengarahan plus naskah terjalin rapi sehingga sukses membetot perhatian semenjak menit pembuka dengan level ketegangan terus menerus dinaikkan tanpa henti di menit-menit selanjutnya hingga mencapai adegan pamungkasnya yang luar biasa sinting sampai-sampai diri ini sulit untuk berkata-kata selama beberapa menit. 
#3 Wild Tales 


Wild Tales ialah sebuah hidangan yang di luar dugaan begitu menyenangkan buat disantap dengan bercampur baurnya canda tawa, jalinan penceritaan dengan emosi meletup-letup sedemikian rupa, kejutan demi kejutan, dan visualisasi gambar bagus dalam satu piring. Jarang-jarang ada (atau malah sama sekali tidak bisa kau jumpai) film omnibus yang setiap segmennya saling menguatkan satu sama lain sehingga jikalau masing-masing dilepas, kesemuanya layak diganjar penghargaan untuk film pendek terbaik sekaligus bisa dipergunakan sebagai landasan dari lahirnya suatu film panjang. Sederet reaksi hiperbolis, ibarat mengucap ‘watdefak’ berulang kali kemudian memberi standing ovation di ujung film, seharusnya sudah cukup menggambarkan betapa edannya film asal Argentina ini. Betul-betul edan. Silahkan saja luangkan waktu selama dua jam untuk mendapat salah satu pengalaman menonton terliar, terlucu dan teraneh dalam hidupmu lewat Wild Tales

#2 Whiplash

Meski dirimu bukanlah pecinta musik kelas berat, anggota dari band, atau pelajar di sekolah musik, Whiplash akan tetap mencengkrammu erat bahkan sekalipun dirimu sama sekali buta terhadap not balok dan tetek bengeknya. Roda penceritaan bergulir begitu cepat, membawa banyak suntikan emosi di dalamnya, dan dibaluri ketegangan disana sini. Ledakan-ledakan dalam bentuk emosi telah menampakkan diri semenjak awal yang berangsur-angsur membaur bersama pertunjukkan musik yang dikemas selayaknya set piece dari gelaran blockbuster. Menyaksikan Whiplash memang tidak ubahnya menonton film olahraga – bisa juga membandingkannya dengan film agresi – berintensitas tinggi yang akan membenamkanmu pada sensasi berdebar-debar sekaligus menahan nafas dengan pandangan sulit dienyahkan dari layar walau hanya sedetik terutama pada adegan puncaknya di 15 menit terakhir yang gila-gilaan, phew! 

#1 Inside Out 


Hanya dengan mendengar premisnya saja, “bagaimana jikalau ada makhluk-makhluk kecil yang mendiami badan insan saling berhubungan untuk mengontrol emosi dan tetek bengeknya?” antisipasi seketika meninggi yang berarti masih ada impian untuk Pixar kembali berdiri seusai beberapa karya terakhirnya kurang memuaskan. Dan memang, Inside Out merupakan sebuah langkah awal tepat bagi Pixar guna merebut lagi posisi penguasa dunia film animasi yang sebelumnya sempat mereka genggam. Pixar terbukti tidak membual dikala menjual Inside Out dengan label ‘a major emotion picture’ alasannya ialah selama durasi mengalun, emosi penonton dibawa naik turun selayaknya tengah menunggangi roller coaster dari semula tertawa-tawa, bersemangat, hingga mengusap bulir-bulir air mata (khususnya di menit-menit penghujung yang melibatkan Bing Bong dan keluarga Riley, tidak pernah gagal memaksaku mengeluarkan sekotak tissue). Seruan ‘Pixar is back!’, pada akhirnya, memang tidak terdengar berlebihan alasannya ialah Pixar benar-benar kembali patut diperhitungkan berkat Inside Out yang tampak kentara dibentuk memakai hati ini. Sangat bagus!