November 28, 2020

20 Film Terbaik 2018 Versi Cinetariz

Tidak disangka sama sekali kalau menyusun senarai “20 Film Terbaik 2018 Versi Cinetariz” bakal menghadapkan saya pada pilihan-pilihan dilematis. Memang sih konflik batin (halah!) semacam ini selalu hadir setiap kali menyusun list. Tapi saya tidak mengira bakal muncul juga di tahun 2018 yang mulanya saya anggap sepele karena hingga pertengahan tahun lalu, belum ada film yang benar-benar mencuri hati ini. Yang anggun sih banyak, cuma yang klik di hati tak kunjung ditemukan. Mengira ini akan memudahkan dalam membuat senarai (meski kandidat 3 besar belum terbaca kala itu), eh ternyata ketika kiprah itu datang, sulitnya bukan kepalang. Diantara 238 film rilisan tahun 2018 yang sanggup ditonton, banyak juga yang membekas di hati.


Usai bongkar pasang beberapa kali, saya alhasil menemukan konfigurasi yang dirasa tepat. Lagi-lagi, walaupun dinamai sebagai “20 Film Terbaik”, senarai ini disusun menurut preferensi pribadi. Kualitas film terang menjadi pertimbangan, tapi bobotnya tak seberat kepuasan menonton. Kedekatan representasi dan pengalaman selama menyaksikan film menjadi pertimbangan utama disamping faktor krusial lainnya yang sebelumnya jarang saya sebut: rewatch value. Dalam artian, semakin sering saya menonton ulang film tersebut, maka semakin tinggi pula posisinya. Apalagi kalau saya semakin menyukainya ketika menonton untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, dan seterusnya. Itulah mengapa kadang saya pun menemukan beberapa kejutan dalam daftar buatan sendiri ini – serius!

Jadi jangan kaget kalau ada satu dua film asing dalam senarai ini alasannya ialah toh pada alhasil seni bersifat relatif. Kemungkinan adanya perbedaan pendapat sangatlah besar dan itu tidak duduk perkara bagi saya asalkan tidak membuat pertikaian atau keangkuhan dengan merasa “selera gue lebih keren dari loe!”. Dua hal yang tidak saya harapkan hadir alasannya ialah bagi saya, film ialah suatu perayaan. Adanya perbedaan justru memungkinkan adanya penambahan rujukan tontonan alih-alih membuat perselisihan maupun superioritas.

Baiklah, tanpa perlu berpanjang lebar lebih jauh lagi, berikut saya persembahkan formasi film-film terbaik 2018 pilihan Cinetariz dimulai dari…

Honorable Mentions (diurutkan menurut abjad):

# Avengers: Infinity War


Kapan lagi coba bisa menonton seabrek superhero beraksi bersama dalam satu layar?
   
# Mission Impossible: Fallout


Franchise yang satu ini memang makin tak terkendali kegilaan laganya dari seri ke seri.

# Padman


Siapa menduga kalau menstruasi dan pembalut merupakan duduk perkara yang sangat pelik di India?

# Peter Rabbit


Sebuah tontonan segala umur yang liar dan nakal, mengingatkan pada Tom & Jerry yang legendaris.

# Ralph Breaks the Internet


Sisi gila dari putri-putri di film animasi Disney terkuak di sini. What a squad! 

# The Hows of Us


Sebuah film yang memperlihatkan pelajaran berharga bagi mereka yang hendak (atau sudah) berumah tangga

Dan akhirnya, inilah…

Top 20

#20 Bad Times at the El Royale


Sebuah dongeng menggelitik wacana penebusan dosa yang mempertemukan kita dengan karakter-karakter menarik yang menyimpan belakang layar kelam dalam diri masing-masing. Lajunya boleh perlahan, tapi daya cengkramnya terus menguat seiring berjalannya durasi. Satu adegan paling berkesan dalam film ini ialah ‘mengintip dari balik cermin’ yang memperlihatkan kejeniusan si pembuat film. 

#19 Game Night


Jika ada yang menyebut film ini mempunyai daya humor tinggi yang bikin ketawa terpingkal-pingkal, rasa-rasanya tidak akan banyak yang terkejut. Tapi bagaimana kalau saya menyebut film ini mempunyai guliran pengisahan yang sulit diterka (penuh twist!) dan bertabur keseruan di dalamnya? Entah dengan kalian, tapi saya sih terkejut begitu mendapatinya ketika menonton film ini.  

#18 Tully


Totalitas Charlize Theron dalam berperan yang dibuktikan dari berat tubuh melonjak drastis bukanlah satu-satunya yang bisa dikagumi dari Tully. Ada narasi penuh sensitivitas di sini yang memperlihatkan penghormatan kepada para ibu yang telah mengorbankan banyak waktu serta tenaga bagi putra-putri mereka. Ini ialah film yang akan mengingatkanmu untuk menghargai dan menghormati para ibu.

#17 Bumblebee


Alih-alih memberondong penonton dengan gelaran langgar penuh eksplosif, Bumblebee justru menghadirkan dongeng persahabatan lintas spesies yang sederhana nan menghangatkan hati yang sudah lebih dari cukup untuk menempatkannya sebagai film Transformers terbaik yang pernah dibuat. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau franchise ini alhasil bisa membuat saya sesenggukkan di dalam bioskop. 

#16 Spider-Man: Into the Spider-Verse


“Keren banget!” ialah reaksi yang terlontar selepas menyaksikan sepak terjang Spidey versi animasi ini. Bukan hanya gesekan animasinya yang bisa dibilang menakjubkan, tetapi juga narasi yang dikedepankan. Bayangin, dongeng mengenai “lintas dimensi” yang sejatinya sangat rumit, bisa dijabarkan dengan lancar dan terang sehingga sanggup dipahami oleh penonton cilik sekalipun. Itu saja sudah membuat terperangah!

#15 Andhadhun


Seolah telah menjadi tradisi, Bollywood senantiasa mempunyai stok ‘film thriller keren’ setiap tahunnya. Tahun ini, stok tersebut ialah Andhadhun yang akan membuat para penggemar twist bersuka cita. Betapa tidak, film yang dibubuhi komedi gelap ini mempunyai banyak sekali kelokan dalam penceritaan yang menggugah semangat untuk mengetahui: apa ya yang akan terjadi selanjutnya?  

#14 Brother of the Year


Dibawakan dengan gaya komikal, sulit untuk tak tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan Brother of the Year yang menguliti tema sibling rivalry ini. Membuat saya teringat pada segala pertengkaran dengan kakak, membuat saya bernostalgia pada rivalitas diantara kita. Usai dibentuk ngakak tak berkesudahan di paruh awal, film perlahan membuat air mata menetes memasuki babak titik puncak yang menegaskan pesan klasik mengenai keluarga.
  
#13 Mamma Mia: Here We Go Again


Jilid pertamanya memang agak norak, tapi sekuelnya ini berada di kelas yang berbeda. Ada dongeng menyentuh soal motherhood, ada pula sajian wajib berupa momen musikal penuh dansa dansi yang energinya akan membuatmu mencicipi kebahagiaan. Tembang ABBA terdengar segar kembali di film yang mengingatkan saya sekali lagi mengapa diri ini bisa jatuh hati kepada film musikal.

#12 Eighth Grade


Sedikit banyak mengingatkan pada Lady Bird yang kece angin puting-beliung itu, Eighth Grade memperlihatkan potret jenaka, mengena, dan cenderung miris mengenai kehidupan sampaumur usia belasan yang masih gundah dengan urusan menemukan jati diri. Praktis untuk terhubung dengan guliran kisah yang ditawarkan oleh film ini terlebih kalau dirimu ialah seseorang yang kerap mengalami kecanggungan dalam bersosialisasi alasannya ialah mempunyai sifat dasar pemalu dan pendiam.

#11 Badhaai Ho


Masyarakat yang hobi menghakimi, ngomongin, dan mencampuri urusan orang lain dengan berlindung dibalik alasan “tidak sesuai norma yang dianut” ialah target tembak dari Badhaai Ho yang sentilannya terasa makjleb dan kelucuan humornya tak main-main ini. Berhubung karakter utama di sini ialah sebuah keluarga, bisa diterka kalau kemudian ada momen sentimentil mengharu biru yang meski sudah diantisipasi sekalipun tetap saja bikin mata ‘kelilipan’.

#10 Us and Them


Di sini, tak ada dongeng percintaan yang berakhir dengan happily ever after. Yang ada hanyalah dua insan insan yang mati-matian memperjuangkan cinta dan harapan mereka ditengah terpaan hidup di Beijing yang keras. Us and Them menghadirkan kisah realistis yang menjungkirbalikkan segala perasaan mengikuti naik turunnya korelasi dua protagonis dalam film. Terkadang bahagia, terkadang marah, dan terkadang pula ikut tercabik-cabik tak karuan.
   
#9 A Quiet Place


Hidup tanpa bersuara saja sudah cukup repot, apalagi ditambah adanya monster yang siap siaga untuk menerkam setiap dirimu membuat suara. Bisa dibayangkan dong mirip apa rasanya? Untungnya, ini hanya terjadi dalam A Quiet Place. Premis dengan high concept ini berhasil dituangkan menjadi tontonan yang sangat mencekam oleh John Krasinski dalam karya perdananya. Saking mencekamnya, keberadaan sebuah paku saja bisa menjadi duduk perkara besar. Fix, paku ialah villain terbaik dalam film tahun lalu! 
  
#8 Love Simon


Menemukan film sampaumur dengan sensasi rasa mirip film buatan John Hughes di abad 1980-an sudah terdengar mustahil, hingga kemudian saya menemukan Love Simon yang sederhana, ringan, tapi mempunyai sensitivitas tinggi. Ya, ini memang kisah percintaan dalam lingkup LGBT. Tapi itu tidak lantas mengurangi sisi romantisnya dan film ini pun memperlihatkan kehangatan pada hati alasannya ialah memanusiawikan seorang gay. Mereka tidak dipandang berbeda, melainkan dipandang sebagai seorang insan biasa yang membutuhkan cinta. Baik cinta dari kekasih, cinta dari sahabat, maupun cinta dari keluarga.

#7 Searching


Meski hanya mengandalkan layar komputer untuk memberikan cerita, Searching tak pernah sekalipun menjemukan. Malah, atensi senantiasa tertambat karena narasi memungkinkan saya untuk dilingkupi keingintahuan dalam mendapat balasan atas pertanyaan, “kemana perginya Margot? Apa yang menyebabkannya menghilang?.” Saya ikut penasaran, saya ikut berdebar-debar, saya ikut frustrasi, dan saya pun ikut menyeka air mata mirip halnya si protagonis utama. Pada akhirnya, saya hanya berharap keluarga kecil ini bisa bersatu kembali.
     
#6 Along with the Gods: The Two Worlds


Saat menonton Along with the Gods: The Two Worlds, saya dihantui oleh satu pertanyaan: ada berapa banyak ya penonton di Korea Selatan yang buru-buru bertaubat usai menyaksikan film ini? Betapa tidak, film ini memperlihatkan visualisasi alam infinit yang impresif – khususnya di neraka bagi insan malas – dan menyajikan narasi yang bukan hanya mengobrak abrik emosi tetapi juga meminta penonton untuk berkontemplasi. Kita dibawa pada perenungan yang tujuannya untuk mengulas kembali manfaat kita sebagai seorang manusia. Harus diakui, inilah film religi yang sebenar-benarnya.
 
#5 Shoplifters


Apa sih makna dari keluarga? Apakah orang-orang yang tidak mempunyai korelasi darah tapi mempunyai cinta dan kepedulian bisa disebut sebagai keluarga? Apakah mungkin bagi seseorang untuk menentukan keluarganya sendiri sesuai dengan keinginannya? Dalam Shoplifters, Hirokazu Kore-eda mengajakmu menjawab serentetan pertanyaan ini melalui narasi yang intim, indah, sekaligus mengoyak hati. Di waktu bersamaan, ia turut menghantarkan komentar sosial yang mengusik pemikiran perihal pandangan masyarakat urban mengenai keluarga.

#4 Ready Player One


Sebagai seseorang yang menggilai budaya populer, Ready Player One tak ubahnya perwujudan dari nirwana dunia. Ada banyak sekali rujukan yang bikin jingkrak-jingkrak kegirangan kolam anak kecil di sepanjang durasinya. Lebih dari itu, Pak Steven Spielberg turut menghadirkan sebuah pengalaman sinematis yang sulit untuk dilupakan begitu saja. Rangkaian laganya mendebarkan, penceritaannya mempunyai hati, dan visualnya menakjubkan sekaligus menguarkan sense of wonder. Jika kau bertanya-tanya soal alasanku menyayangi film, maka jawabannya bisa kau temui di sini.
 
#3 Won’t You Be My Neighbor?


Saya memang tidak mempunyai kenangan sedikitpun dengan mendiang Fred Rogers. Tapi melalui Won’t You Be My Neighbor? yang merekam sepenggal perjalanan karir pemandu program bawah umur ini, saya memahami mengapa warisannya sangat layak untuk dilestarikan. Fred Rogers ialah figur yang diharapkan oleh masyarakat ketika ini yang kian kehilangan tenggang rasa terhadap sesama. Dia mengajak publik untuk menebarkan cinta kasih kepada orang lain, kemudian menghempaskan jauh-jauh perilaku penuh prasangka dan rasisme. Sebuah film yang sangat indah dengan momen epilog yang akan membekas di hati dalam waktu sangat lama.   

#2 Crazy Rich Asians


Sepintas lalu, Crazy Rich Asians memang tak ubahnya roman picisan yang menjual mimpi-mimpi babu. Ada yang bilang mirip FTV, ada juga yang bilang mirip Meteor Garden. Tapi apa yang salah dengan itu? Seorang sutradara pernah berkata, “tidak gampang bikin film anggun dari premis sederhana nan usang.” Dan Crazy Rich Asians bisa melakukannya. Ini ialah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali alasannya ialah melibatkan aneka macam macam emosi: dari tertawa, tersenyum-senyum gemas, hingga menangis. Bahkan, film ini sejatinya tidak sedangkal itu kalau kau bersedia menengoknya lebih dalam. Terdapat subteks mengenai perbedaan kultur dan nilai-nilai yang diterapkan oleh keluarga Asia di sini. Yang juga patut diketahui, film ini ialah sebentuk selebrasi bagi Asian-American yang kerapkali termarjinalisasi dalam sinema Hollywood. Sebuah pesta, mirip halnya nuansa film ini yang memang ibarat pesta. 
#1 One Cut of the Dead

Satu kata yang saya rasa cukup untuk mendeskripsikan One Cut of the Dead ialah sinting. Jujur, saya tidak sedikitpun mengantisipasi bakal dibikin terpingkal-pingkal secara maksimal dan terperangah ketika menonton film ini. Dimulai dengan 40 menit pertama yang akan membuatmu mengernyitkan dahi seraya melontarkan komentar “film apaan sih ini?”, tanpa diduga-duga keadaan berbalik 180 derajat di puluhan menit selanjutnya. Kebusukan adegan pembukanya yang memang disengaja tiba-tiba terasa masuk akal, bahkan bisa dibilang jenius. Selama sisa durasi, saya pun hanya bisa melaksanakan dua hal: ngakak dan geleng-geleng kepala. Ngakak alasannya ialah seluruh materi humornya mengenai sasaran, sementara geleng-geleng kepala alasannya ialah mengagumi kreativitas si pembuat film. Ya, ini ialah sebuah surat cinta untuk seni pembuatan film dan zombie films yang sungguh sinting! 

* Ucapan terima kasih khusus buat sobat saya, Masudi, yang sudah berkenan membantu ngutak-atik banner *