July 5, 2020

20 Film Terbaik Di Tahun 2017 Versi Cinetariz


Bagi saya, tahun 2017 kemudian ialah tahun terburuk dalam hal produktivitas menonton maupun mengulas film di blog di beberapa tahun terakhir. Dihadapkan pada suatu tanggung jawab besar untuk merampungkan studi yang telah tertunda cukup lama, memaksa saya mengurangi segala bentuk kegiatan yang berkenaan dengan film. Terhitung hanya sekitar 220 film yang bisa saya lahap selama setahun terakhir (sebagai perbandingan, biasanya 240 hingga 260 judul bisa ditonton) dan tiga bulan terakhir mengalami penurunan dalam membuat ulasan yang sangat signifikan sampai-sampai kebingungan harus memulai menulis dari mana tatkala waktu luang telah kembali didapatkan. 

Meski komitmen untuk memulai menulis ulasan satuan kembali tertunda, saya mencoba untuk menebusnya dengan list tahunan yang merekapitulasi film-film paling membekas di hati bagi Cinetariz sepanjang tahun 2017. Sebagai permulaan, saya telah membuat daftar untuk film Indonesia secara terpisah (secara mengejutkan, banyak film dalam negeri yang ciamik tahun lalu!) dan kali ini melanjutkannya dengan daftar 20 besar keseluruhan yang meliputi film-film dari banyak sekali negara. Memutuskan untuk mengerucutkannya menjadi 20 film saja nyatanya bukan kasus gampang alasannya ialah lagi-lagi ada banyak film yang membekas di hati. Alhasil, evaluasi turut meliputi seberapa berpengaruh harapan untuk menontonnya kembali sekaligus seberapa besar kemungkinan untuk merekomendasikannya ke orang lain. 

Usai mengurasi ke dalam beberapa tahapan berdasar beberapa pertimbangan, berikut ialah beberapa judul yang (dengan sangat terpaksa) dihempas dari 20 besar: 
Honorable Mentions (in alphabetical order): 
# Beauty and the Beast

# Call Me by Your Name

# Get Out

# It

# Okja

# Split

# The Battleship Island

# Thor Ragnarok

# Three Billboards Outside Ebbing Missouri

# Toilet Ek Prem Katha

# War for the Planet of the Apes

# Wonder Woman

…dan inilah 20 film yang berhasil lolos ke dalam daftar 20 film terbaik di tahun 2017 versi Cinetariz: 

Top 20 

#20 John Wick Chapter 2

John Wick Chapter 2 menjalankan tugasnya sebagai sebuah sekuel secara semestinya. Sejak menit pertama, film telah menggila lewat geberan laga beroktan tinggi. Disamping muatan laga pekat yang akan membuat para penikmat film action mengalami orgasme di dalam bioskop, daya pikat John Wick Chapter 2 berada di world building-nya. Detilnya bangunan semesta dalam film ditambah kulikan pada sisi ringkih sang abjad utama, membuat kita sanggup berinvestasi lebih kepada franchise ini yang menjadikannya lebih dari sekadar tontonan eskapisme pengisi waktu luang semata. 
#19 A Taxi Driver

Rekonstruksi peristiwa Gwangju di tahun 1980 ditampilkan A Taxi Driver menjadi suatu gelaran yang tidak saja mendebarkan, tetapi juga jenaka dan mengaduk emosi. Ada fase berdebar-debar tatkala si supir taksi bersama jurnalis asing mencari-cari celah untuk memasuki dan keluar dari Gwangju yang dikepung ketat oleh militer – ini masih belum ditambah dikala mereka harus bertahan hidup ditengah-tengah kerusuhan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ada fase terbahak-bahak dikala menengok interaksi si jurnalis bule dengan penduduk setempat termasuk supir taksinya yang kagok berbahasa Inggris. Ada pula fase mengaru biru ketika kita melihat bagaimana peristiwa ini berdampak sangat besar kepada warga sipil yang sejatinya tidak tahu apa-apa. 
#18 Pengabdi Setan

Jawaban dari tanya “apakah Pengabdi Setan versi Joko Anwar ini lebih ngeri atau tidak ketimbang pendahulunya?” memang akan sangat relatif, namun bagi saya secara pribadi, Pengabdi Setan versi 2017 ini bisa memperlihatkan suatu mimpi buruk. Salah satu film horor Indonesia paling angker dalam beberapa tahun terakhir. Dalam perjalanan mengarungi wahana rumah berhantu ini, saya beberapa kali dibentuk terperanjat dari bangku bioskop ibarat pada adegan lempar selimut, ketok-ketok dinding di malam hari, mendengarkan drama radio, pipis di tengah malam, rekonstruksi adegan sholat yang ikonik itu, hingga tiap kali terdengar bunyi gemerincing lonceng Ibu. 

#17 Let’s Go Jets!

Didasarkan pada kisah faktual sebuah tim pemandu sorak dari Fukui Commercial High School yang berjaya dalam NDA National Championsip di negeri Paman Sam pada tahun 2009, Let’s Go Jets! ialah jawaban Jepang untuk Bring It On (2000). Film yang jenaka, inspiratif, dan penuh energi. Saat menontonnya, hati ini dibuatnya hangat dan bahagiaaaaa sekali. Memang sih bagaimana film ini merampungkan guliran pengisahannya telah menjadi belakang layar umum. Namun, itu sama sekali tak menjadi soal alasannya ialah kenikmatan menyaksikan Let’s Go, Jets! tidak berada di tujuan simpulan melainkan pada proses menggapai kejayaan yang akan menginspirasimu. 

#16 Wind River

Melalui Wind River, dua jebolan Avengers, Jeremy Renner dan Elizabeth Olsen, tidak bekerja sama untuk menyelamatkan dunia, melainkan memecahkan masalah pembunuhan seorang wanita berdarah Indian. Putihnya salju yang menghiasi sepanjang durasi menebalkan nuansa dalam film yang meliputi misterius, depresif, dan dingin. Proses pemeriksaan guna menemukan pelaku pembunuhan bisa tergelar seru serta memancing keingintahuan untuk mengikutinya lebih mendalam, sementara dikala kita mendekat kepada karakter-karakter yang terlibat terutama orang bau tanah korban, hati ini serasa dikoyak-koyak. 

#15 The Greatest Showman

The Greatest Showman menutup tahun 2017 dengan sebuah pertunjukkan yang megah dan mengesankan. Guliran kisahnya yang dicuplik dari sepenggal kisah faktual usaha seorang pendiri pertunjukkan sirkus legendaris sanggup menginspirasi sekaligus membuat hati terasa hangat. Barisan lagu antemiknya yang merupakan kekuatan utama dari film ini terasa begitu renyah untuk didengar sekaligus membuat kaki terus menerus menghentak. Hal pertama yang dilakukan usai menonton The Greatest Showman di bioskop ialah mendengarkan album soundtrack-nya berulang-ulang. 

#14 Sweet 20

Siapa bilang me-remake sebuah film itu kasus mudah? Susah sekali. Sweet 20 yang disadur dari film Korea bertajuk Miss Granny tergolong satu dari sedikit remake yang sukses. Pemain ansambel merupakan salah satu kekuatan utama yang dipunyai Sweet 20 disamping lontaran-lontaran kelakar dengan sentuhan kearifan lokal yang sempurna mengenai sasaran, tembang-tembang lawas pengiring film, serta muatan emosional yang bekerja secara efektif. Dengan kombinasi maut semacam ini, tepatlah kiranya menyebut Sweet 20 sebagai sebuah hiburan untuk seluruh keluarga kala liburan sekaligus remake yang sangat pantas bagi Miss Granny. Sungguh sebuah obat pelepas penat yang mujarab. 

#13 Lion

Dalam Lion, penonton disuguhi plot yang menyoroti jatuh bangunnya Saroo untuk memperoleh kesempatan berjumpa kembali dengan keluarganya sejak terdampar di kota yang sama sekali asing baginya. Ada kepiluan, kengerian, serta sedikit kejenakaan di dalamnya. Kepedulian kita terhadap si tokoh utama merupakan kunci keberhasilan dari Lion. Apabila penonton tidak pernah terhubung dengan Saroo, apa yang tersaji sepanjang film akan terasa hambar. Tapi kalau penonton berhasil dibentuk bersimpati pada Saroo – ibarat telah dilakukan oleh Lion, apa yang tersaji di penghujung film akan menghajar emosimu hingga babak belur. 
#12 The Invisible Guest

Melalui The Invisible Guest, Oriol Paulo menyuarakan kritik terhadap keberpihakan aturan kepada mereka yang mempunyai uang dan kekuasaan. Dibubuhkan sesuai takaran, kritik pun terasa sangat relevan dan menyentil yang berjasa pula dalam membantu menempatkan The Invisible Guest sebagai film thriller papan atas. Ya, film ini berhasil menjerat atensi sedari awal mula dengan tuturan berintensitas tinggi yang tergelar rapi dan pada akibatnya membuat diri ini menggeleng-nggelengkan kepala karena kagum terhadap kapabilitas si pembuat film dalam mengkreasi suguhan mencekam yang sarat kejutan. 
#11 The Salesman

Trauma dan amarah yang timbul jawaban sebuah kejadian penyerangan yang tak terduga menyingkap ‘warna’ bantu-membantu dari sepasang suami istri yang tampak mempunyai kehidupan rumah tangga serasi dalam The Salesman. Dengan pengarahannya yang gemilang, Asghar Farhadi sanggup mengubah drama domestik yang lebih menitikberatkan pada studi abjad ini menjadi sebuah gelaran menegangkan berdaya cengkram kuat. Dari menit ke menit, The Salesman terus mengalami eskalasi dalam menguarkan nuansa suspense hingga akibatnya membuat ledakan jago di titik puncak yang tak saja mendebarkan tetapi juga emosional. 
#10 The Big Sick

Kumail Nanjiani mengabadikan kisah perjumpaannya dengan sang istri yang begitu manis, hangat, dan menggelitik dalam The Big Sick. Yang tidak biasa dari kekerabatan mereka yakni fakta bahwa keduanya berasal dari dua dunia yang bertolak belakang. Kumail tumbuh besar dalam keluarga Pakistan Muslim yang konservatif, sementara istrinya ialah wanita Amerika berjiwa bebas. Saat dua budaya berbeda ini saling berbenturan, hasilnya ialah tontonan yang membuatmu mengalami fase tersenyam-senyum, terpingkal-pingkal hingga terenyuh secara bergantian. Inilah film paling romantis di tahun 2017 lalu. 
#9 Baby Driver

Dibawah penanganan Edgar Wright yang mempunyai jiwa nerd sejati, Baby Driver terperinci tidak akan dijelmakan sebagai film hura-hura belaka yang sebatas mengedepankan pada laga seru penuh eksplosif ibarat halnya Fast and Furious dan Transporter. Betul saja, si pembuat film lantas memadupadankannya dengan humor sarat referensi ke budaya pop, barisan musik eklektik, romantika asmara muda-mudi, serta ketegangan ala heist film sehingga membuat Baby Driver bukan saja terasa begitu berwarna tetapi juga sangat bergaya. Baby Driver ialah kesempatan emasmu untuk menyaksikan ‘film musikal’ tanpa tari-tarian alasannya ialah seluruh koreografi tari diimplementasikan ke dalam gerak gerik abjad maupun sekuens laga yang tertata rapi. 
#8 Bad Genius

Ruang ujian dalam Bad Genius tak ubahnya bank atau ruang brankas di rumah seorang kaya dalam heist film. Situasinya memang tidak hingga tahapan seekstrim hidup-mati dan sekadar berhasil-gagal, akan tetapi itu tetap tak berdampak pada berkurangnya kadar ketegangan terlebih kalau kau pernah melaksanakan praktik menyontek atau memberi sontekan semasa sekolah. Tak pernah sedikitpun terbayang dalam benak bahwa lembar jawab pilihan ganda dikala ujian bisa membuat jantung berdegup begitu kencang kala ditampilkan dalam sebuah film layar lebar. Dalam Bad Genius, saya bisa mencicipi itu. 

#7 Secret Superstar

Usai menonton Secret Superstar, diri ini reflek berteriak, “Aamir Khan memang gila!” Betapa tidak, beliau berturut-turut menghasilkan karya yang mengangkat kembali nama Bollywood di peta perfilman dunia. Secret Superstar memang tidak semencengangkan 3 Idiots, PK, atau Dangal dalam bertutur, namun film kecil nan bersahaja ini sanggup mengobrak-abrik emosi penonton sedemikian rupa terlebih kalau kau mempunyai kekerabatan erat dengan ibu. Lebih dari itu, Secret Superstar ialah sebuah film yang ditujukan untuk para wanita yang tidak mempunyai kebebasan dalam bersuara, para wanita yang mempunyai keberanian untuk mewujudkan mimpi, dan para ibu yang rela melaksanakan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya. 

#6 Lady Bird

Lewat debut penyutradaraannya ini, Greta Gerwig berbicara perihal kisah pencarian jati diri seorang gadis Sekolah Menengan Atas berusia belasan yang berharap dirinya sanggup melepaskan diri dari kampung halamannya. Guliran kisah Lady Bird memang terkesan sederhana dan terdengar familiar, akan tetapi justru disinilah letak kekuatan film ini. Barisan karakternya yang membumi terasa begitu erat alasannya ialah kita mengenal cukup baik pribadi-pribadi ibarat itu atau malah (tanpa disadari) merefleksikan diri kita sendiri. Kedekatan dengan topik dialog inilah yang membuat saya gampang terhubung ke Lady Bird. Dari mulanya tertawa-tawa menyaksikan tingkah polah abjad tituler yang rada nyeleneh, Lady Bird perlahan tapi niscaya mulai menyentuh emosi tatkala ‘jagoan’ kita terlibat konflik panas dengan sang ibu. 
#5 Hidden Figures

Sepanjang durasi mengalun, kita menyaksikan kisah inspiratif dari tiga wanita kulit gelap dalam melawan sistem yang mengekang karir mereka di NASA pada era 60-an. Topik dialog yang diusung Hidden Figures boleh saja berat menyoal rasisme, seksisme, dunia matematika, perancangan misi luar angkasa, dan sejarah. Namun jangan salah, Hidden Figures sanggup melantunkannya secara ringan, hangat dan menyenangkan tanpa pernah sedikitpun mengalienasi penonton yang tidak menaruh minat pada topik-topik tersebut. Malah, mereka bisa memperlihatkan betapa kerennya matematika di film ini. Sungguh sebuah film yang penting untuk ditonton. 
#4 Dangal

Bollywood mempunyai cara yang berbeda dalam mengumandangkan women empowerment, kemudian menyuarakan kritik keras terhadap budaya patriarki yang seksis dan konfederasi olahraga yang korup. Salah satu manusia perfilman terkemuka di India, Aamir Khan, membalut itu semua dalam sebuah film biopik dunia gulat yang sanggup ditonton oleh seluruh anggota keluarga bertajuk Dangal. Berceloteh soal usaha dua atlet gulat wanita pertama di India untuk merengkuh medali emas di pertandingan bertaraf internasional, Dangal tentu menginspirasi. Tidak hanya itu, Dangal pun bisa tersaji sebagai sebuah tontonan yang menghibur, mengharu biru, sekaligus mengikat atensi penonton dengan sangat berpengaruh sampai-sampai durasi 2,5 jam terasa berlalu begitu cepat. 

#3 Wonder

Jika kau menerima pilihan untuk berbuat benar atau berbuat baik, mana yang akan kau pilih? Dalam Wonder, berbuat baik ialah pilihannya. Isu perisakan dikulik dengan pendekatan yang ringan dan mengikat alih-alih menghamparkannya secara merana. Yang juga menarik, penonton tak sebatas disuguhi kisah dari sudut pandang korban perisakan melainkan turut memperoleh kisah dari perspektif pelaku yang rupa-rupanya turut berada di posisi korban. Mengalun dengan hangat, jenaka, serta inspiratif, Wonder sanggup membuat diri ini terbahak kemudian beruraian air mata berulang kali di beberapa titik. Bukan air mata alasannya ialah sesuatu yang buruk, melainkan sesuatu yang baik. Sulit disangkal, Wonder terperinci terhitung sebagai salah satu film terbaik tahun ini. 
#2 Paddington 2

Paddington 2 ialah satu dari segelintir sekuel yang mempunyai kualitas melampaui pendahulunya. Petualangan beruang yang bisa berbicara dalam memperjuangkan keadilan untuk dirinya ini tanpa dinyana-nyana bisa terhidang sebagai film keluarga yang sangat menghibur, mempunyai pesan moral cantik tanpa pernah terasa ceriwis, sekaligus mempunyai sisi magis yang begitu kuat. Saat menyaksikan Paddington 2, jiwa kanak-kanak dalam diri ini mendadak hidup kembali dan bergembira. Sedikit banyak mengingatkan pada sensasi menonton film keluarga dari era 1990-an. Bersama dengan Wonder dan Coco, Paddington 2 yang menempatkan seekor beruang penjunjung tinggi kebaikan sebagai abjad sentral ini merupakan film paling indah yang saya saksikan di tahun 2017. 
#1 Coco

Sedari menit-menit pembuka, Coco telah membuat diri ini terperangah dengan keajaiban visualnya yang tergarap mendetail serta penuh warna. Bagusnya, Coco enggan untuk mengorbankan guliran pengisahannya demi mencapai visual yang berada di kelas premium itu. Racikan kisah si pembuat film yang mengusung tema utama seputar ajal (konon, landasan kisahnya bersumber dari perayaan tahunan di Meksiko, Dia de Muertos) serta keluarga dengan pendekatan yang cenderung riang sanggup menempatkan penonton Coco dalam tiga fase emosi ibarat bersemangat, tertawa, hingga tersedu-sedu. Kemampuan Coco untuk memanjakan mata penonton melalui visual dan membuai hati melalui tuturan kisahnya ini menjadi bukti bahwa Pixar masih belum kehilangan sentuhan magisnya sama sekali. Warbiyasak!