October 25, 2020

25 Film Terbaik 2019 Versi Cinetariz


Bisa melewati tahun 2019 dengan selamat yaitu sebuah pencapaian hidup yang semestinya saya rayakan. Kamu mungkin menganggapnya berlebihan, tapi 2019 bakal selamanya saya kenang sebagai tahun terberat. Beragam dilema menghujam secara bertubi-tubi seolah tanpa tamat yang lantas mendorong diri ini ke jurang depresi dan pada balasannya secara resmi divonis mengidap Generalized Anxiety Disorder oleh psikiater. Sebuah bentuk “gangguan” yang senantiasa menempatkan saya dalam kecemasan berlebih dengan atau tanpa penyebab yang jelas. Menyenangkan sekali, bukan? Itulah mengapa, senarai “25 film terbaik 2019 versi Cinetariz” ini akan bersifat jauh lebih personal ketimbang sebelumnya. Bukan semata-mata unggul secara kualitas, bukan pula semata-mata akan saya rekomendasikan ke kalian dengan senang hati, tetapi juga mempunyai kedekatan representasi. Makara jangan mengeluh berpanjang-panjang apabila kalian menjumpai judul-judul yang terkesan “acak” alasannya satu alasan jelas: senarai ini bersifat sangat subyektif. Semakin tinggi ranking suatu film, maka semakin tinggi pula level akrab di hati dan kemungkinan untuk ditonton berulang-ulang pun semakin besar.

Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, inilah senarai “25 film terbaik 2019 versi Cinetariz” yang saya seleksi dari 228 judul film yang berhasil saya lahap sepanjang tahun 2019 lalu. Seperti biasa, senarai ini dimulai dari…

Honorable Mentions (diurut menurut abjad):

# Article 375


Ada dua sisi kisah dibalik suatu kasus perkosaan yang menghebohkan India.

# Booksmart


Hari terakhir di Sekolah Menengan Atas memang semestinya dirayakan dengan penuh suka cita.

# Capernaum


Kisah pilu seorang bocah yang menuntut orang tuanya di pengadilan.

# Dolemite is My Name


Biopik lucu nan nyeleneh dari seorang pembuat film di periode 70-an.

# Exit


Disaster movie tak melulu mesti menegangkan, disampaikan secara jenaka pun bisa.

# Fighting with My Family


Melongok lahirnya bintang WWE yang mungkin tak banyak kita ketahui prosesnya.

# Ford vs Ferrari


Biopik yang penyampaiannya kolam film balapan kendaraan beroda empat yang mengasyikkan.

# Hotel Mumbai


Rekonstruksi satu bencana kemanusiaan yang mendebarkan.

# Imperfect


Kebahagiaan yaitu mendapatkan ketidaksempurnaan diri, bukan mengejar kesempurnaan.

# Us


Menghadapi versi jahat dari diri sendiri yaitu hal yang mengerikan.

…dan inilah yang menghuni posisi 25 besar:

#25 Joker


Tidak menyenangkan atau gegap gempita kolam film berdasar komik pada umumnya, Joker justru disampaikan dengan nada pengisahan teramat depresif mengikuti kondisi kejiwaan dari si karakter tituler. Sangat tidak nyaman buat disimak bagi penderita kecemasan, tapi tak bisa disangkal bahwa film ini yaitu buah karya yang sangat apik. Joaquin Phoenix mencengangkan, iringan musiknya menciptakan bulu kuduk meremang, dan serentetan adegannya begitu membekas di ingatan. Siapa sih yang akan bisa lupa adegan tarian di tangga?

#24 Ad Astra


Dibalik tampilan visual yang mengundang decak kagum dan kemasan luar yang seolah mengindikasikan bahwa ini sajian space adventure berbalut kisah keluarga, Ad Astra sejatinya merupakan tontonan kontemplatif nan menggigit yang mengajak kita untuk merenungi wacana makna dibalik kehidupan dan kemanusiaan seraya memperbincangkan soal mental health beserta toxic masculinity. Terdengar berat? Memang begitulah adanya. Bagi saya, topik inilah yang menimbulkan Ad Astra tak saja terasa indah dari sisi visual tetapi juga rasa.

#23 Blinded by the Light


Sebuah kisah pencarian jati diri yang diiringi tembang-tembang milik Bruce Springsteen ini terasa sangat mengasyikkan untuk disimak. Blinded by the Light merekam perjalanan dari seorang cowok Inggris berdarah Pakistan dalam upayanya untuk melawan tindak rasisme dari lingkungan sekitar, dan upayanya untuk melawan tradisi kurang berilmu yang ditegakkan oleh sang ayah. Kita akan bersimpati pada si protagonis alasannya mimpi-mimpinya, kita akan kesal pada si protagonis alasannya perilaku pemberontaknya yang melebihi batas, dan kita akan bersenandung keras-keras alasannya tembang Pak Springsteen yang amat asyik nan relatable.

#22 Green Book


Alih-alih bermuram durja dan dipenuhi dengan kemarahan yang meletup-letup, Green Book mengutarakan segala keresahannya terhadap diskriminasi, prasangka, hingga rasisme dengan cara yang lebih elegan. Cenderung santai dalam bertutur dimana didalam narasinya dipenuhi canda tawa maupun momen-momen mengangatkan hati. Pada dasarnya, ini yaitu kisah kemanusiaan yang beranjak dari persahbatan tak biasa antara seorang musisi kenamaan dengan supir barunya dalam satu perjalanan yang “menantang nyawa”. 

#21 The Irishman


Durasinya yang merentang hingga 3,5 jam memang mengintimidasi. Namun kemahiran Martin Scorsese dalam bercerita memungkinkan kita untuk menikmati setiap menit dari The Irishman tanpa ada keinginan berhenti sejenak. Narasinya yang sedemikian kompleks menguliti dunia para gangster dengan seabrek dilema dan karakter dilantunkan secara santai sehingga mengeliminasi kesan njelimet dan membosankan yang berpotensi menghinggapi. Ditambah sokongan akting-akting kelas atas, khususnya dari trio pemain inti, saya justru senantiasa dilingkupi tanya, “apa yang akan terjadi selanjutnya?,” selama menonton. Seru!

#20 Marriage Story


Terkadang tersenyum dan sesekali tertawa, tetapi lebih sering termangu, merasa pedih, dan balasannya terisak-isak ketika menyaksikan kisah kesepakatan nikah pasutri yang di ujung tanduk dalam Marriage Story. Ada keinginan melihat mereka rujuk, ada ketidakrelaan melihat mereka pisah. Melalui sorot mata beserta gestur yang diperagakan oleh Adam Driver maupun Scarlett Johansson, kita bisa mencicipi bahwa cinta bergotong-royong masih ada dalam diri masing-masing. Hanya saja, keduanya telah berkembang menjadi orang abnormal bagi satu sama lain dan itu memilukan. Pertanda kapal yang hendak tenggelam ini memang sudah tak bisa diselamatkan lagi.

#19 Bebas


Satu hal yang bisa eksklusif diapresiasi dari Bebas yaitu performa dari jajaran pemain yang sangat kompak seperti mereka memang betulan berkawan karib. Saking asyiknya chemistry diantara mereka, rasanya betah berlama-lama bersama mereka dan berharap film tidak akan pernah berakhir. Saya tertawa heboh bersama mereka, saya menari dengan riang bangga bersama mereka, dan saya pun menangis tersedu-sedu bersama mereka. Seolah kesenangan ini belum cukup, masih ada kurasi lagu Indonesia yang jempolan dari periode 90-an yang akan mengajak kita bersenandung bersama dan mengenang masa muda.

#18 Knives Out


Rian Johnson mempunyai caranya sendiri dalam mengkreasi tontonan whodunit seraya memberi penghormatan kepada Agatha Christie dan melemparkan komentar sosial politik. Ketimbang sepenuhnya berada di jalur suspense yang suram, Knives Out justru mengajak penonton bersenang-senang dengan narasinya yang ceria nan penuh gelak tawa. Alhasil, kita pun dibentuk tergelak-gelak berulang kali ditengah proses pemeriksaan yang memicu penasaran, bikin gregetan, sekaligus menciptakan jantung berdebar-debar. Dan oh, jangan lupakan barisan pemain ansambelnya yang memperlihatkan definisi sesungguhnya dari kata “gila” tersebut.

#17 Once Upon a Time… in Hollywood


Once Upon a Time in Hollywood memang bukan karya terbaik dari seorang Tarantino, tapi ini yaitu karya paling personal dan sentimentil yang pernah dibuatnya. Tak hanya dibikin takjub, tertawa, tegang serta meringis melihat adegan kekerasannya, sekali ini beliau pun sanggup menciptakan penonton untuk merasa tersentuh kemudian mengeluarkan sapu tangan dari dalam kantong guna menyeka air mata. Inilah sebuah surat cinta untuk Hollywood yang mengajak kita bernostalgia ke periode 60-an tamat dimana industri perfilman terbesar di dunia ini mewujudkan sekaligus menenggelamkan cita-cita besar dari para pemimpi.

#16 Kim Ji-young Born 1982


Kim Ji-young Born 1982 sanggup membangun kesadaran terhadap mental illness seraya mengkritisi budaya patriarki dengan amat baik dan powerful. Melalui film ini, penonton akan sedikit banyak memperoleh pemahaman mengenai depresi berikut faktor-faktor yang melatarinya, mendapat citra wacana budaya patriarki yang semestinya tidak dilanggengkan, dan pada balasannya terdorong untuk memanusiakan manusia. Ya, film yang juga hidup berkat bantuan akting mengagumkan dari jajaran pemain ini akan membuatmu tersadar betapa besarnya jasa beserta pengorbanan dari para ibu, para istri, dan para perempuan.

#15 Midsommar


Bagi saya, keunggulan utama dari Midsommar bukan semata-mata berasal dari imaji-imaji mengerikan pengusik kenyamanan, melainkan turut bersumber dari pokok pembicaraannya. Disamping mengulik soal perspektif, sang sutradara juga berniat memperbincangkan wacana mental illness, atau dalam hal ini depresi, dan keberadaan support system. Film ini sejatinya merupakan kisah perjalanan spiritual bagi si protagonis utama dari seseorang yang menanggung sedih akhir kehilangan keluarga dalam satu tragedi, kemudian menyimpan luka akhir penolakan implisit dari orang-orang di sekitarnya, hingga kemudian menemukan satu komunitas yang bersedia menerimanya dengan tangan terbuka.

#14 Bento Harassment


Salah satu kejutan manis tahun kemudian berasal dari Bento Harassment yang tak saja menciptakan tertawa terbahak-bahak berkat gaya kelakar ala Jepang yang sedikit nyeleneh, tetapi juga menciptakan diri ini menangis sesenggukan akhir narasinya yang menghangatkan hati, terutama di 20 menit terakhir yang luar biasa ‘jahanam’. Ini yaitu sebuah kisah unik wacana korelasi yang renggang antara seorang single mother dengan putrinya yang pemberontak. Melalui sekotak makan siang berisi makanan-makanan yang dihiasi, sang ibu mencoba berekonsiliasi dengan putrinya tersebut sebelum beliau meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di kota besar.

#13 Gully Boy


Pustaka musik asal India tidak terbatas pada soundtrack dari film-film Bollywood. Gully Boy menunjukkan bahwa rap turut mempunyai efek di sana dengan membawa kita menyusuri area pemukiman padat penduduk yang kumuh. Sebuah daerah yang melatari lahirnya seorang musisi yang mengutarakan keresahan, kemarahan, hingga cita-cita mereka mengenai kehidupan melalui tembang-tembang beritme cepat. Mengaplikasikan tipe narasi “from zero to hero”, film ini akan menciptakan emosimu teraduk-aduk di sepanjang durasi yang meliputi aneka macam macam rasa. Dari bahagia, sedih, hingga pada balasannya terinspirasi untuk mengikuti pilihan hidup sang protagonis yang berupaya untuk pertanda kepada orang-orang yang telah memandangnya rendah bahwa beliau tidak akan selamanya menjadi “nobody”.

#12 Last Christmas


Di lapisan paling permukaan, Last Christmas yaitu film komedi romantis yang akan menciptakan penonton tersenyum-senyum gemas berkat interaksi manis nan hidup yang terjalin diantara dua pelakon utamanya. Tapi ketika kita bersedia untuk melongok lebih dalam, ternyata fokus utamanya bukanlah soal muda-mudi yang dimabuk cinta. Melainkan perihal menjalani kehidupan yang pesannya benar-benar mengena di hati. Satu pesan besar yang coba diutarakannya berbunyi, “tidak apa-apa untuk menjadi seseorang yang biasa-biasa saja alasannya kehidupan tidak harus diisi dengan pencapaian yang serba gilang gemilang. Yang terpenting yaitu kau senang menjalaninya, sehingga bisa membagi kebahagiaan tersebut pada orang lain.” An underrated gem yang saya yakini bakal menjadi tontonan wajib menjelang Natal.
#11 Instant Family


Dibalik kemasan luar yang seolah mengindikasikan ini sebagai tontonan keluarga yang ringan-ringan saja, ternyata terselip life lesson berharga di dalam Instant Family yang disampaikan secara efektif mengenai parenting dan makna non-konvensional dari keluarga. Instant Family yaitu feel good movie yang kau butuhkan untuk menjaga positivity dalam badan ditengah terjangan arus kebencian, kepenatan sehari-hari, serta isu tak menggembirakan di televisi. Kamu akan dibuatnya berkaca-kaca, berlanjut menangis sesenggukan, hingga kemudian tetapkan untuk menghubungi orang renta di rumah melalui ponsel demi melontarkan pertanyaan sederhana, “apa kabar? Kalian sehat?.”

#10 House of Hummingbird


House of Hummingbird memberi kita narasi pendewasaan diri dari seorang remaja wanita yang hanya ingin dicintai oleh orang-orang terdekatnya. Ada kejenakaan tersemat di beberapa titik mengikuti obrolan-obrolan polosnya, tapi kegetiran dan kepiluan yang menyesakkan dada yaitu rasa yang hiasi durasi sampai-sampai diri ini ingin sekali memberi pelukan hangat kepada si protagonis ketika film berakhir. Betapa tidak, di usianya yang masih 14 tahun, si protagonis telah dirundung bermacam-macam problematika. Di rumah yang nihil interaksi hangat, fisiknya kerap disakiti oleh abang laki-lakinya yang disanjung berlebihan oleh sang ayah. Sementara di sekolah, beliau dikucilkan oleh teman sekelasnya dan dua orang yang dianggapnya sebagai teman maupun kekasih pun mengkhianatinya. Nyesek nggak, sih?

#9 Toy Story 4


Mengingat kisah Woody beserta kawanannya sudah diakhiri dengan sangat pantas di jilid ketiga, saya sama sekali tidak menaruh ekspektasi apapun kepada Toy Story 4 yang ternyata oh ternyata masih sanggup bersanding dengan tegak bersama jilid-jilid terdahulu. Dongeng seputar babak hidup gres dari kawanan mainan ini tak saja dilantunkan secara kocak dan seru yang akan membuatmu bersemangat di sepanjang film, tetapi juga mengharu biru yang akan membuatmu menitikkan air mata di penghujung durasi. Instalmen keempat yang mempunyai tampilan animasi luar biasa ini (well, Pixar tak pernah mengecewakan!) pertanda bahwa Toy Story merupakan franchise animasi paling dahsyat dan paling magis ketika ini.  
  
#8 Hello Love Goodbye


Hello Love Goodbye terang bukan film percintaan biasa. Ya, kau akan tetap gregetan menyaksikan kisah kasih “benci jadi cinta” berkat chemistry padu antara Kathryn Bernardo bersama Alden Richards. Tapi yang menciptakan film ini lebih bersinar yaitu topik pembicaraannya yang mendalam mengenai mimpi, pengorbanan, serta keluarga. Disamping itu, si pembuat film turut sodorkan potret realistis dari kehidupan PRT abnormal di Hong Kong yang sama sekali jauh dari kesan “menjanjikan”. Kamu akan dibuatnya tertawa, kau akan dibuatnya kesengsem dengan dua sejoli yang menjadi sentral kisah, dan kau akan dibuatnya menangis. Dua puluh menit terakhirnya benar-benar mengobrak-abrik hati hamba yang sangat sensitif ini. Bahkan melihat adegan reunian kecil-kecilan saja, saya banjirrr.  

#7 The Two Popes


Dalam The Two Popes, kita melihat dua Paus berdialog mengenai banyak hal yang lantas mengungkap bahwa mereka tak ubahnya insan kebanyakan. Ada penyesalan, kesepian, serta krisis spiritual. Kita pun melihat keduanya meragu alasannya Paus terang bukanlah jabatan sepele. Mengusung topik berat yang turut menyinggung skandal pemerkosaan dari kaum pemuka agama Katolik, film nyatanya bisa dihantarkan secara ringan tapi tetap mengena dan bermakna. Diluar percakapan serba genting, tampak kehangatan korelasi diantara dua sosok penting ini dan tampak pula bahwa mereka saling menghormati satu sama lain. Inilah satu film yang sebaiknya tidak kau lewatkan begitu saja – apapun agamamu – alasannya ini yaitu kisah wacana persahabatan, belas kasih, dan kemanusiaan yang membuka mata sekaligus mendamaikan hati.

#6 Avengers: Endgame


Avengers: Endgame tetap membawa saya pada pengalaman menonton yang mungkin saja tidak akan dijumpai dalam waktu dekat. Ada banyak gegap gempita yang menciptakan saya girang bukan main kolam bocah cilik yang gres saja diberi mainan baru, ada banyak canda tawa yang menciptakan saya tertawa terpingkal-pingkal, ada banyak hamparan visual mencengangkan, ada kebahagiaan alasannya film memunculkan karakter-karakter favorit dalam satu titik, ada pujian bisa melihat mereka sanggup mencapai posisi ini, dan ada kesedihan alasannya kemungkinan untuk tak lagi berjumpa terbuka begitu lebar. Endgame terang merupakan persembahan yang sangat istimewa untuk para penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) yang telah setia menemani selama satu dekade terakhir. Saat film balasannya mencapai ujung durasi, saya pun hanya bisa berkata lirih, “thank you, Stan Lee! Thank you, MCU!”.

#5 Keluarga Cemara


Tak terhitung berapa kali saya menyeka air mata yang menuruni pipi, memberi pelukan erat-erat kepada diri sendiri, hingga muncul dorongan untuk sesegera mungkin menelpon orang renta di rumah ketika menonton Keluarga Cemara yang merupakan salah satu film Indonesia terindah yang pernah saya tonton. Deskripsi yang mungkin terdengar agak hiperbolis, tapi sejujurnya, ini benar-benar terjadi. Ketimbang mengeksploitasi kesedihan, film mencoba tampil berenergi dengan segala humor yang ciptakan gelak tawa serta adanya pesan penumbuh semangat yang sekaligus berfungsi menghilangkan stereotip terhadap kemiskinan. Pada akhirnya, bukan hanya bantuan para pemain yang sanggup membawa emosi dalam Keluarga Cemara semenonjok ini, melainkan juga naskah bernas, pengarahan penuh sensitivitas dari Yandy Laurens, pilihan-pilihan lagu pengiring yang menyatu, beserta penyuntingan mengalir.

#4 The Peanut Butter Falcon


The Peanut Butter Falcon adalah film sederhana yang lebih menekankan pada korelasi kepedulian yang terbentuk diantara para karakter kesepian alih-alih dihamparkan sebagai sajian petualangan yang mendebarkan. Film ini bertutur secara apa adanya dan justru disitulah yang menciptakan saya bisa jatuh cinta kepadanya. Terasa jujur, nyata, sekaligus merasuk di hati. Didukung ikatan kimia meyakinkan dari para pemainnya, saya pun menyunggingkan senyum dan meneteskan air mata haru setiap kali tiga karakter utama berinteraksi. Saya sanggup mencicipi adanya cinta kasih yang nrimo diantara mereka, saya sanggup mencicipi bahwa mereka saling membutuhkan, dan saya bisa menyampaikan bahwa mereka yaitu definisi dari kata superhero. Mereka memang tidak menyelamatkan dunia dari marabahaya, tetapi mereka telah menyelamatkan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar dengan kekuatan yang kita sebut cinta. Indah sekali.

#3 Parasite


Ketimbang menjejali penonton dengan petuah-petuah atau dialog-dialog banal guna menekankan komentar si pembuat film terhadap kesenjangan sosial yang memisahkan si miskin dengan si kaya, Parasite justru memberi kita rangkaian adegan menggelitik, mendebarkan, serta menyesakkan yang menciptakan setiap menitnya begitu mengikat atensi sehingga terasa nikmat buat disantap. Saat film berakhir, kita disadarkan oleh kenyataan bahwa tidak ada karakter yang sepenuhnya putih higienis tanpa dosa di sini dan kedua belah pihak pun intinya yaitu parasit bagi pihak lain. Yang kita anggap sebagai parasit rupanya mempunyai motif masuk logika dibalik tindakan mereka, sedangkan yang kita anggap sebagai korban ternyata bukan pula kaum suci. Sulit juga untuk menyalahkan masing-masing pihak alasannya mereka sejatinya korban kapitalisme dan korban ekspektasi sosial yang menuntut kesempurnaan beserta pencapaian besar.

#2 The Farewell


Sebuah kisah mengenai kembali ke kampung halaman untuk berkumpul kembali bersama keluarga memang acapkali goreskan rasa hangat di dada. The Farewell mengangkat narasi tak lekang zaman tersebut seraya memperbincangkan wacana berdamai dengan kehilangan, perbedaan kultur yang mencolok, hingga kontradiksi pemikiran dari tiga generasi. Sebagai pecahan dari generasi milenial yang kebetulan tinggal di benua Asia bersama keluarga konservatif yang menjunjung tinggi etika ketimuran, saya bisa memahami perasaan si karakter utama yang mengalami gegar budaya. Pengalamannya serupa, tapi tak sama. Dalam merekam perjalanan berkunjung ke rumah nenek yang kurang mengenakkan ini, si pembuat film menentukan menginjeksikan banyak sekali humor dalam setiap momen ketimbang bermuram durja. Sebuah pendekatan yang menarik mengikuti narasinya yang mengajak kita untuk merayakan kehidupan ketimbang menyesali kematian.

#1 Klaus


Tidak sulit untuk menyebut Klaus sebagai salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Sebuah interpretasi gres atas dongeng asal mula Sinterklas ini dihantarkan secara jenaka, seru, sekaligus menyentuh. Ditunjang oleh gesekan animasinya yang sangat bagus dimana setiap menitnya tak ubahnya lukisan di galeri seni, lagu pengiring yang gampang nyantol di telinga, serta pesan klasiknya yang mengena wacana mengembangkan kebaikan, semakin sulit untuk menolak pesonanya begitu saja. Saya tidak hanya dibentuk bergembira selama menontonnya, tetapi saya juga mencicipi ketenangan hati dan saya pun dibentuk terpukau oleh sisi magisnya yang menguar kuat. Dialognya yang berbunyi “we need to show people that a true selfless act always spark another” membekas kuat, begitu pula dengan adegan penutupnya yang memperlihatkan definisi atas kata “indah”. Klaus yang layak mendapat predikat instant classic sebagai tontonan pemeriah Natal ini memperlihatkan bahwa film animasi 2D masih sangat layak untuk diperhitungkan.