November 24, 2020

27 Steps Of May (2019)

Ada istilah twelve-step program, sebuah tahap-tahap panduan pemulihan persoalan sikap (behavioral problem). Di sini, huruf utamanya melalui 27 langkah, dalam film Indonesia langka—bahkan di antara jajaran judul arus alternatif—yang benar-benar memanfaatkan penceritaan bertempo lambat, yang diterapkan sutradara Ravi Bharwani (Jermal, The Rainmaker) bukan sekedar demi “gaya-gayaan”, melainkan dibutuhkan biar presentasi dramanya meyakinkan sekaligus efektif.


27 Steps of May dibuka melalui pemandangan mengganggu, bukan saja akhir pelecehan seksual terhadap huruf utamanya, juga karena, tidak peduli seberapa memikat aktingnya, memaksa Raihaanun memerankan gadis Sekolah Menengah Pertama berambut kepang (trik paling klise guna memudakan usia) yakni keputusan yang dipaksakan. Beruntung kita cuma melihat itu selama beberapa menit sebelum filmnya melaksanakan lompatan waktu.

Delapan tahun berselang, May masih terguncang, menolak keluar kamar, mengidap kelainan sikap komplusif. Rutinitasnya selalu sama: bangun, lompat tali, menghitung boneka yang tersusun di lemari, menyetrika baju secara hati-hati, mengatur rapi rambutnya dengan jepit, kemudian membuka pintu kamar di mana sang ayah (Lukman Sardi) telah menanti untuk mengeluarkan boneka-boneka buatan May yang dijual lewat proteksi seorang teman (Verdi Solaiman).

Setahu saya, stres takkan mengakibatkan OCD (Obsessive Compulsive Disorder), tapi insiden traumatis dapat memicu bila seseorang memang menyimpan kecenderungan. Kita urung melihat banyak kehidupan May sebelum pemerkosaan, sehingga sulit memastikan akurasi unsur psikologisnya. Tapi pastinya, bukan ia semata yang menderita. Pula sang ayah, yang merasa gagal melindungi puterinya ibarat ia melindungi sebutir telur biar tak menggelinding jatuh dari meja. Dia dikuasai amarah termasuk pada diri sendiri akhir rasa bersalah, mendorongnya bertingkah liar di arena (Dia seorang petinju). Muncul dorongan menghajar orang lain, walau mungkin saja, ia pun ingin dihajar sebagai bentuk eksekusi bagi diri sendiri

Rutinitas May dan Ayah dipaparkan bergantian, menghadirkan studi kasus wacana dampak insiden traumatis, baik terhadap korban maupun keluarga. Hingga suatu hari ketaknormalan terjadi. Kebakaran kecil meninggalkan lubang pemberi ruang untuk secercah cahaya menyinari kamar May. Sang gadis belum siap melangkah keluar dari kegelapan, menentukan menjauh bahkan menutup saluran cahaya, namun seiring waktu, rasa penasarannya tersulut. Apalagi sesudah May mengintip agresi sesosok pesulap (Ario Bayu) melalui lubang itu.

Naskah buatan Rayya Makarim (Banyu Biru, Jermal, Buffalo Boys) cukup cerdik memposisikan ketertarikan May akan trik-trik si pesulap selaku simbolisasi teruntuk terapi yang May lalui demi mengalahkan depresi. 27 Steps of May pun berjalan layaknya terapi, saat Ravi dengan penuh kesabaran menyuguhkan satu per satu fase secara mendetail. Pertemuan May dengan sang pesulap mungkin tampak aneh, tapi membawa pesan nyata. Bukan saja soal konflik batin May, pula mengenai bagaimana seharusnya cinta bersemi yang melibatkan tahap-tahap saling kenal, saling pikat, bukan sekadar penyaluran nafsu sepihak (Dengarkan wahai para lelaki).

27 Steps of May juga sebuah kenikmatan visual berkat sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur) yang tepat menangkap keindahan dalam kesederhanaan milik kamar May, yang artistiknya ditata oleh Vida Sylvia (Sweet 20, Critical Eleven). Tiada banyak barang, hanya kasur, lemari boneka, dan tentunya lubang di dinding sebagai perlambang perjalanan May keluar dari kurungan mentalnya.

Walau mengusung tema kelam, proses karakternya mencari kedamaian terasa magis nan memuaskan, salah satunya berkat akting mengagumkan Raihaanun. Di awal kita melihat sorot kosong di matanya yang secara sedikit demi sedikit (bukan perubahan dadakan) makin “bernyawa”. Sang aktris memberi sentuhan-sentuhan kecil, dari mata yang mulai bercahaya sekilas senyum simpul, atau gerakan tergesa-gesa menutup rok sebagai perwujudan kondisi psikis May. Raihaanun menghadirkan akting subtil yang hanya dapat diimpikan banyak pelakon seni peran.

Sebagaimana telah disebut, 27 Steps of May bukan sekadar soal korban, juga betapa rasa bersalah turut menguasai keluarga. Perasaan yang acap kali justru sama sekali tak membantu korban. Ayah May terjebak dalam kesakitan luar biasa, berusaha mencari pelampiasan, berujung menelantarkan sang puteri yang butuh uluran tangan. Dinamika dua insan terluka itu bertambah kompleks, sewaktu May pelan-pelan membaik, sedangkan sang ayah sebaliknya, seolah betah mendekam dalam penderitaan.

Tatkala sikap komplusif May berkurang, sang ayah justru menganggap ada kesalahan. 27 Steps of May mengingatkan jika kesedihan tersebut manusiawi, meski tak semestinya kita menemukan kenyamanan dari menghukum diri. Apalagi sewaktu membantu korban semestinya jadi prioritas. Saya menggunakan kata “mengingatkan”, lantaran film ini tidak melontarkan kritik pedas, melainkan “tepukan lembut di pundak”. Sebuah kasih hangat yang diwakili konklusi menyentuh, di mana Raihaanun menyulap sebaris kalimat sederhana menjadi ungkapan mengharukan.