November 24, 2020

6,9 Detik (2019)

Diam-diam Lola Amaria ialah sineas produktif, dengan catatan lima film dalam enam tahun terakhir, di mana semenjak Jingga pada 2016, ia rutin merilis film setiap tahun. Kenapa saya sebut “diam-diam”? Karena melihat catatan jumlah penonton, produktivitas Lola rasanya tak banyak diketahui publik. Pun secara kualitas, karyanya belakangan gampang terlupakan. Sama sekali tidak buruk, namun selalu meninggalkan kesan, “Sebenarnya ini bisa bagus, tapi…..”.

Selalu bertindak selaku produser, berarti Lola jeli mencari bahan berpotensi, tapi lemah perihal eksekusi. Tidak terkecuali 6,9 Detik, yang mengangkat kisah hidup Aries Susanti Rahayu, atlet panjat tebing peraih medali emas cabang panjat tebing kategori “speed” di Asian Games 2018, yang dijuluki “Spider-Woman”.

Kisahnya membawa kita mundur menuju masa kecil Aries (Kayla Ardianto) di Purwodadi, dikala ia mesti memendam rindu kepada sang ibu (Brilliana Arfira), yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Berbeda dibanding dua kakak perempuannya, semenjak dini Aries sudah menawarkan minat akan olah raga. Dia kerap menjuarai lomba lari antar sekolah, hingga karenanya mengenal panjat tebing, mulai mengikuti banyak sekali pelatihan, hingga karenanya meraih emas Asian Games 2018 di bawah tempaan keras pelatihnya, Hendra (Ariyo Wahab).

Kisahnya mengalir mulus selama sekitar 35 menit pertama (total durasi 78 menit). Naskah buatan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali, Lima) merangkum drama ibu-anak hangat di tengah paparan coming-of-age yang bisa memberi pemahaman atas bagaimana masa kemudian Aries membentuk sosoknya sekarang: seorang perempuan tangguh. Informatif, meski sederana pun belum mencapai tingkat “eksplorasi mendalam”.

Pengarahan Lola menjauhkan filmnya dari jurang melodrama cengeng, cenderung mendekati gaya sinema alternatif, di mana keintiman diutamakan, dramatisasi dilakukan secukupnya, termasuk lewat minimnya pemakaian usik. 6,9 Detik memang ingin tampil sederhana, memaksimalkan drama lewat interaksi normal sehari-hari. Sentuhan nasionalisme pun dimunculkan sempurna guna. Jargon-jargon macam “Kita satu Indonesia” masih terdengar, tapi tidak dalam kadar berlebih (“Rumah Merah Putih”, I’m waving at you).

Sayang, melewati selepas 35 menit, progres ceritanya bergerak secepat lesatan Aries memanjat. Begitu buru-buru, seolah Lola dan Sinar hanya tertarik bercerita wacana masa kecil sang protagonis, namun sadar bahwa meninggalkan fase dewasa Aries merupakan kemustahilan. Padahal di situlah pergolakan batin Aries mencapai titik puncak. Rasa rindu terhadap ibu berubah jadi benci, kelabakan menghadapi beratnya pelatnas, sempat lari ke alkohol (dalam sekuen mabuk-mabukkan konyol dikala tim artistik lupa kalau minuman keras tidak berbuih menyerupai teh), hingga konflik percintaan yang cuma numpang lewat beberapa detik.

Paling fatal ialah caranya meringkas goresan Aries dengan ibu. Mendadak semua usai, mendadak semua baik-baik saja. Dampaknya, upaya menjembatani antara gejolak di tiap fase hidup Aries dengan kesuksesannya gagal total tatkala perjalanan panjang penuh lika-liku sang juara dikemas sebagai proses kilat, yang mengakibatkan keberhasilan Aries menyabet medali emas kurang menggetarkan hati. Ini soal momentum. Karena tampil serba kilat, saya tidak merasa terikat dan menanti-nanti momen bersejarah itu. Terlebih klimaksnya hanya tersusun atas kompilasi rekaman pertandingan orisinil seadanya.

Satu-satunya penyelamat paruh kedua justru tiba dari Aries Susanti Rahayu yang memerankan dirinya sendiri. Jelas bukan akting kelas ajang penghargaan, tapi sukses mencapai tujuan yang ada di balik penunjukkan dirinya sebagai pemain. Lola terperinci mengincar kesan natural, baik terkait elemen panjat tebing maupun drama, dan Aries bisa menghadirkan itu. Andai saja filmnya menyisihkan waktu guna eksplorasi lebih jauh. Respon “andai saja…” sayangnya masih mengakrabi karya-karya Lola Amaria.