December 2, 2020

A Dog’s Journey (2019)

A Dog’s Journey bukan film yang bisa bekerja dengan baik bagi otak saya. Penceritaannya mengandung setumpuk kelemahan. Tapi ini yaitu melodrama. Sebuah fantasi melankolis yang menyentuh hati lewat penggambaran sederhana seputar bundar kehidupan dan perjalanan mengarunginya, yang melibatkan sederet pertemuan dan perpisahan, juga kelahiran dan kematian.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya W. Bruce Cameron, filmnya melanjutkan simpulan kisah A Dog’s Purpose (2017), di mana Ethan (Dennis Quaid) dan Hannah (Marg Helgenberger menggantikan mendiang Peggy Lipton) menjalani masa bau tanah nan tenang mereka di peternakan sambil menjaga cucu Hannah, CJ (Emma Volk memerankan CJ balita, Abby Ryder Forstson sebagai CJ kecil, Kathryn Presscott menjadi CJ remaja), sesudah ayah si bocah meninggal dunia.

Ibunda CJ, Gloria (Betty Gilpin), terang belum siap mempunyai anak, apalagi menjadi orang bau tanah tunggal. Dia selalu bersikap tak acuh, hanya berpikir soal mengejar impiannya di dunia musik. Hari yang dikhawatirkan pun tiba. Gloria membawa CJ pergi meninggalkan Ethan dan Hannah. Tidak usang berselang, Bailey (Josh Gad), anjing kesayangan Ethan sekaligus protagonis kita, menghembuskan napas terakhir. Mengetahui Bailey bakal bereinkarnasi ibarat sebelumnya, Ethan memohon biar di kehidupan berikutnya, Bailey menjaga CJ.

Begitulah awal perjalanan gres Bailey. Biarpun ajal berulang kali menjemput, ia terus kembali sebagai jenis anjing berbeda, dengan nama berbeda, tapi tujuannya tetap sama. Apa pun rintangannya, Bailey selalu menemukan cara untuk kembali pada CJ.

Polanya masih sama. Kita akan melihat si anjing menatap ajal kemudian reinkarnasi berkali-kali. Tapi apa yang membedakan A Dog’s Journey dengan pendahulunya yaitu bagaimana Bailey mempunyai peranan serta dampak lebih faktual terhadap hampir seluruh sendi kehidupan CJ, mulai dari hubungannya dengan kakek-nenek, sampai kisah cintanya dan Trent (Henry Lau), sahabat CJ semenjak kecil.

Besarnya bantuan Bailey berjasa memproduksi banyak momen emosional selaku aspek terkuat film ini, dikala naskah buatan W. Bruce Cameron, Cathryn Michon (A Dog’s Purpose, A Dog’s Way Home), Maya Forbes (Monsters vs. Aliens, Infinitely Polar Bear), dan Wallace Wolodarsky (Coldblooded, The Polka King) gemar terlampau menyederhanakan konflik. Segalanya hitam-putih. Kekasih-kekasih CJ selain Trent selalu brengsek, sedangkan Gloria bagai abjad ibu keji yang diambil dari sinetron, sebelum filmnya menyelipkan sedikit kompleksitas penokohan, yang sayangnya tiba terlambat.

A Dog’s Journey memang punya banyak elemen sinetron. Ibu kejam? Ada. Pacar kurang ajar? Ada. Penyakit mematikan? Ada. Kecelakaan? Ada. Penuturannya jauh dari kata “pintar”, namun tiap kali otak saya menyadari itu, hati ini pribadi tercuri oleh adegan-adegan menyentuh, yang dikreasi dengan baik oleh Gail Mancuso selaku sutradara. Dia tahu cara menyusun momen mendayu yang efektif membuat penonton mencari-cari tisu.

Anjing-anjingnya masih menggemaskan, dan ditambah voice acting Josh Gad, ketulusan cinta serta kemurnian hati Bailey pun dengan gampang mencengkeram perasaan, walau serupa film pertama, terkadang ketidakmampuan sepenuhnya mengontrol sikap para anjing berujung membuat momen-momen acak yang tiba tiba-tiba entah dari mana. Setidaknya film ini coba menyulap faktor di luar kontrol tersebut menjadi situasi jenaka yang membuat Bailey semakin loveable.

Sekali lagi, berbekal screentime terbatas—meski jauh lebih banyak dibanding porsinya di A Dog’s Purpose—Dennis Quaid menghembuskan nyawa melalui matanya yang sarat emosi, juga senyuman hanngat. Mencapai simpulan durasi, ditemani air mata saya mulai menyadari betapa panjang, berwarna, pula bermakna perjalanan yang telah Ethan dan Bailey arungi.