November 28, 2020

A Shaun The Sheep Movie: Farmageddon (2019)

Dua faktor penentu kepuasan menonton A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon adalah seberapa suka anda akan humor British dan seberapa banyak rujukan soal judul-judul fiksi ilmiah klasik dalam filmnya yang bisa anda tangkap. Di antara jalinan plot familiar milik sekuel Shaun the Sheep Movie (2015) ini, kedua hal di atas berjasa menghadirkan hiburan menyenangkan dengan kreativitas di luar dugaan. Belum menonton film pertama atau serial televisinya? Bukan masalah, alasannya kisah Farmageddon berdiri sendiri.  

Peternakan Mossy Bottom tampak ibarat biasa. Dipimpin oleh Shaun (Justin Fletcher), para domba selalu memancing kekacauan, sehingga Bitzer (John Sparkes) si anjing dibentuk kerepotan. Hingga suatu malam sebuah UFO mendarat, membuat kehebohan massal di seluruh penjuru kota. Awak pesawat tersebut ialah Lu-La (Amalia Vitale), alien kecil menggemaskan yang bisa menggerakkan barang-barang kolam pemilik kemampuan telekinesis.

Shaun pun tetapkan mengantarkan Lu-La—yang tersasar hingga ke peternakannya—kembali ke pesawat, tanpa menyadari bahwa sebuah organisasi ibarat Men in Black sedang memburu Lu-La, dalam misi yang dipimpin Agen Red (Kate Harbour). Bisa ditebak, lebih banyak didominasi 87 menit durasinya dipenuhi agresi kejar-kejaran konyol. Naskah garapan Mark Burton dan Jon Brown tidak menerapkan modifikasi formula sedikit pun, membangun alurnya berbasis kekacauan demi kekacauan di tiap lokasi yang disinggahi karakternya.

Keunikannya terletak pada gaya melucu. Burton dan Brown menolak setengah-setengah membangun kekonyolan, organisasi misterius yang jadi lawan para protagonis pun tidak digambarkan sebagai sosok mengerikan, jauh dari kesan kompeten, kerap melaksanakan formasi kesalahan bodoh, tidak terkecuali Agen Red yang mengira Bitzer dalam balutan kostum astronot ialah alien. Pun ketika menyentuh ranah slapstick yang biasanya kerap jadi jalan keluar malas, Farmageddon menawarkan kreativitas, ibarat dicontohkan “adegan supermarket” ketika duo sutradara, Will Becher dan Richard Phelan, memvisualkan ide-ide abstrak para penulisnya guna membangun kekacauan sarat kelucuan.

Sebagaimana sempat disinggung di paragraf pertama, gagasan kreatif para pembuat film ini turut tertuang dalam selipan-selipan rujukan untuk banyak sekali film maupun serial fiksi ilmiah sebutlah 2001: A Space Odyssey (1968), E.T. the Extra-Terrestrial (1982), Close Encounters of the Third Kind (1977), hingga seri The X-Files. Bentuknya beragam, dari penggunaan musik, adegan, elemen cerita, hingga pernak-pernik lain.

Diproduksi oleh Aardman Animations (The Pirates! In an Adventure with Scientists!, Shaun the Sheep Movie, Early Man),teknik stop-motion claymation masih tetap memanjakan mata. Sekali waktu Farmageddon bisa membuat kita lupa bahwa filmnya dibentuk memakai tanah liat, khususnya di gambar-gambar wide shot maupun ketika elemen fiksi ilmiah tengah jadi sorotan (Lu-La memamerkan kekuatannya, perjalanan luar angkasa, dan lain-lain), kemudian gres tersadar sewaktu kamera menyorot karakternya dari akrab dan menunjukkan sisa-sisa sidik jari di wajah mereka.

Upaya Farmageddon menambahkan elemen dramatik tidak selalu berjalan lancar. Penggunaan lagu pop berlirik sendu (Everything I do is just my way to escape you) guna mengekspresikan kegetiran batin karakternya terasa mengganggu, mengingat ini merupakan animasi di mana tokoh-tokohnya tidak bertutur kata layaknya insan pada umunya. Tapi kekurangan itu bisa terobati melalui konklusi menyentuh hati ketika (secara tak terduga) salah satu huruf memperoleh bobot emosi. Tatkala reuni keluarga bertemu terwujudnya kenangan masa kecil. Hangat.