October 21, 2020

A Wrinkle In Time (2018)

Ava DuVernay (Selma) punya kepekaan soal gosip kemanusiaan, itu harus diakui. Tapi menyidik hasil selesai A Wrinkle in Time, yang membawanya mengukir sejarah sebagai perempuan non-kulit putih pertama yang menggarap live action blockbuster berbiaya ratusan juta dollar, hatinya terang bukan di dunia fantasi. Walau visinya akan estetika visual terlihat, DuVernay bagai tak percaya apa yang ia presentasikan nyata, setidaknya dalam benaknya. Maka tidak heran dikala para insan bersanding bersama sosok-sosok “khayal”, kedua sisi gagal membaur, bahkan tampak canggung sebabs sang sutradara sebatas bongkar pasang dan asal menerapkan CGI.

Ceritanya merupakan pembiasaan novel berjudul sama karya Madeleine L’Engle yang dianggap tidak mungkin difilmkan. Tidak ada yang tidak mungkin difilmkan selama si pembuat film turut menyangkal kemustahilan itu. DuVernay niscaya meyakini gadis ibarat Meg (Storm Reid), yang berubah sedih hingga jadi korban penindasan di sekolah pasca ayahnya, Dr. Alex Murry (Chris Pine), menghilang selama 4 tahun, punya kekuatan. Mungkin juga DuVernay mempertimbangkan, bahwa teori fiksi imiah Dr. Alex yang menyatakan insan bisa melintasi semesta dalam sekejap, berpoteni terlaksana satu hari kelak.
Tapi apakah ia percaya, atau terobsesi terhadap makhluk astral ibarat Mrs. Which (Oprah Winfrey), Mrs. Whatsit (Reese Witherspoon), Mrs. Who (Mindy Kaling)? Saya ragu. Ketiganya tiba menemui Meg, mengabarkan jikalau ayahnya masih hidup di salah satu sudut semesta, meski nyawanya tengah terancam. Mereka percaya Meg bisa diandalkan untuk mengalahkan entitas kegelapan penebar kejahatan. Kenapa? Narasi “the chosen one” ibarat ini perlu menjabarkan sisi Istimewa sang protagonis. Apa yang menciptakan Meg spesial? Dia menyayangi ayahnya? Saya juga, dan Oprah Winfrey belum pernah mengetuk pintu rumah saya mengatakan bantuan.

Meg dipilih lantaran ia puteri Dr. Alex yang mendobrak batasan sains umat manusia. Kaprikornus sang ayah yang spesial, bukan Meg.  Visualnya merupakan poin Istimewa lain, baik tata kostum unik nan mewah yang dikenakan trio Mrs., hingga pemandangan di banyak sekali planet selaku destinasi perjalanan Meg dan kawan-kawan. Planet pertama paling memikat, bukan lantaran CGI menawan, melainkan keberhasilan DuVernay membangun sense of wonder. Di beberapa kesempatan, DuVernay juga sempat memamerkan kreativitas mengemas pemandangan absurd, mengakibatkan A Wrinkle in Time blockbuster aneh dengan kekhasan.
Sayangnya sehabis itu rentetan kecanggungan yang menunjukan ketiadaan passion plus kurangnya pengalaman besar lengan berkuasa jelek bagi gelaran non-realis macam ini. Lihat betapa asing Oprah dalam wujud raksasa berdiri kaku tanpa berbuat apa pun. Ini duduk kasus pengadeganan, soal Mise en Scene, bukan cuma CGI buruk. Mayoritas umat insan mengagumi Oprah, tapi wajah raksasanya dibelai oleh Charles Wallace (Deric McCabe), adik angkat Meg, justru terkean creepy dan cringey. Sewaktu titik paling menarik dalam petualangan ialah Zach Galifianakis yang secara mengejutkan piawai melakoni akting dramatik, bisa dipastikan filmnya bermasalah. Storm Reid, meski tak bermain buruk, belum bisa menangani kompleksitas protagonis yang muram tapi wajib menarik simpati penonton.

Tesser”. Demikian perjalanan mengerutkan ruang dan waktu disebut. Alur naskah goresan pena Jennifer Lee dan Jeff Stockwell kolam membawa penonton melaksanakan tesser, bergerak bernafsu keraap melompat mendadak, makin melucuti intensitas emosi dan adrenalin petualangannya. Apalagi pertempuran puncak justru berujung anti-klimaks. Kedua penulis tampak gundah meladeni konsep tinggi novelnya dikala alih-alih perenungan filosofis, justru benang kusut yang terbentang. Perjalanan berkeliling semesta membawa para tokoh menuju realisasi akan duduk kasus masing-masing, dan ibarat filmnya sempat singgung, sejatinya semesta ada di dalam diri seseorang. Intinya ialah menggali, mengenali, berdamai dengan diri sendiri. Pesan indah yang karam jawaban kebingungan A Wrinkle in Time menghadapi kerumitannya sendiri.