November 24, 2020

Abigail (2019)

Kalau anda membaca goresan pena ini alasannya yaitu tertarik menonton Abigail, segera urungkan niat tersebut. Fantasi steampunk produksi Rusia ini merupakan salah satu film terburuk sepanjang 2019, sewaktu kekayaan imajinasi khas dunia fantasi digantikan oleh sajian pengantar tidur akhir kemiskinan kreativitas (juga dana).

Abigail (Tinatin Dalakishvili) tinggal di suatu kota kecil yang selama ratusan tahun dijangkiti wabah penyakit mematikan misterius. Akibatnya, kota itu terisolir dari dunia luar, dan warganya hidup kolam narapidana, di mana jam malam diberlakukan, sementara pasukan keamanan rutin berpatroli mencari para pesakitan. Salah satunya yaitu ayah Abigail (Eddie Marsan), yang dibawa pergi dikala Abigail gres berusia sembilan tahun.

Setelah dewasa, Abigail meyakini sang ayah masih hidup. Dia pun nekat melaksanakan pencarian, melawan para pasukan keamanan, bertemu kelompok pemberontak yang dipimpin Bale (Gleb Bochkov), sampai menyadari bahwa kota kawasan tinggalnya dipenuhi hal-hal ajaib, termasuk ilmu sihir yang rupanya juga Abigail miliki. 

Walau sinopsisnya mengandung kata “sihir”, ketimbang agresi laga ilmu, dialog membosankan berisi kalimat-kalimat yang mendefinisikan “penulisan buruk” lebih sering mengisi layar, pun acap kali berlangsung berlarut-larut, seolah demi menambal durasi di tengah ketidakmampuan menampilkan banyak spectacle akibat keterbatasan biaya.

Ditambah voice over berintonasi monoton cenderung memalukan serta pilihan shot sutradara Aleksandr Boguslavskiy (Beyond the Edge) yang nihil variasi dalam membungkus obrolan, Abigail bagai sinetron murahan. Daripada eksplorasi mitologi dunia maupun detail ihwal sihir yang sama-sama tampil kolam pernak-pernik remeh ketimbang sajian utama, justru mengedepankan debat kusir selaku panggung bagi penampilan menggelikan dua pemain utama.

Tinatin Dalakishvili berniat mengakibatkan Abigail sosok gadis pemberani, tapi ekspresi berlebihannya malah melahirkan parodi, sementara Gleb Bochkov ibarat menjalani seluruh proses pengambilan gambar dikala menderita sakit perut. Saya pun ikut menderita menyaksikan jalinan romansa mereka.

Menegaskan kualitas jongkok filmnya yaitu pengarahan Aleksandr Boguslavskiy akan adegan agresi berbalut CGI. Staging-nya menciptakan sakit mata, ketika banyak insiden tidak terlihat jelas. Sang sutradara nampak gundah mesti bagaimana mengemas laga “ilmu sihir” yang mengambil wujud asap-asap berwarna hitam. Beberapa kali pula, entah dengan pertimbangan apa, beliau menentukan tidak menangkap imbas serangan yang dilancarkan karakternya. Jauhi tragedi satu ini.