November 24, 2020

Ad Astra (2019)

Ad Astra bukan soal perjalanan mencari kehidupan gres di luar Bumi (walau salah satu karakternya menjalani misi tersebut), melainkan kehidupan dalam diri manusia. Bakal memancing komparasi dengan judul-judul macam 2001: A Space Odyssey (1968) dan Solaris (1972) terkait penggunaan elemen fiksi-ilmiah guna membungkus drama humanis bertempo lambat, serta karya-karya Terrence Malick alasannya yaitu penggunaan monolog internal bernada kontemplatif, film teranyar sutradara James Gray (The Immigrant, The Lost City of Z) ini terang menuntut kesabaran yang bakal terbayar lunas di akhir.

Perkenalkan Mayor Roy McBride (Brad Pitt), putera astronot legendaris H. Clifford McBride (Tommy Lee Jones) yang hilang 16 tahun kemudian ketika mengorbit di Neputunus kala menjalankan “Lima Project”, sebuah misi dengan tujuan mencari makhluk ekstraterestrial. Serupa ayahnya,talenta Roy dikagumi. Kemampuannya menjaga ketenangan (detak jantungnya tak pernah di bawah 80 bpm) dianggap bukti kapabilitas oleh pihak SpaceCom. Mungkin benar, namun Gray yang menulis naskahnya bersama Ethan Gross (Klepto) mengatakan perspektif lain.

Tentu anda sering mendengar anggapan bahwa orang besar lengan berkuasa tidak kenal takut dan/atau tidak pernah menangis. Ad Astra menyanggah asosiasi tersebut. Ketenangan Roy justru menjauhkannya dari humanisme. Salah satu monolog Roy di awal menyebut bahwa segala senyum atau mulut rasa darinya sebatas “performance”. Sebuah kepura-puraan, wujud kekosongan layaknya ruang hampa di luar angkasa yang amat ia akrabi.

Apabila eksplorasi angkasa luar mengakibatkan lubang hitam sebagai momok, Roy pun terjebak di lubang hitam berjulukan kesendirian dan kesepian. Karena itulah sang istri, Eve (Liv Tyler) meninggalkannya. Roy terlihat damai di luar, tapi sejatinya, ia mempertanyakan segalanya. Sehingga ketika SpaceCom menginformasikan jikalau kemungkinan sang ayah masih hidup bahkan jadi penyebab lonjakan listrik yang mengancam tata surya akhir eksperimennya, Roy bersedia menjalankan misi menemui Clifford guna membujuknya menghentikan itu.

Apa yang menyusul berikutnya yaitu observasi perihal insan melalui pergulatan batin Roy, yang digambarkan bermental baja kala menatap maut, tidak ragu menantang ancaman dan mengambil risiko, tetapi seketika runtuh sewaktu dihadapkan pada rasa. Berbeda dibanding barisan pusi Malick, monolog internal Ad Astra, biarpun terdengar puitis, amat memudahkan sebagai alat bantu memahami poin-poin yang ingin Gray sampaikan.

Lambatnya permainan tempo Gray mungkin menyulitkan bagi banyak penonton, namun berjasa menjembatani penyaluran rasa sang protagonis kepada penonton. Pun Ad Astra masih “berbaik hati” menyelipkan beberapa set-piece aksi yang menyiratkan potensi Gray menangani spectacle besar. Bukan suguhan bombastis, luasnya jangkauan pengadeganan sang sutradara nampak betul. Momen sewaktu Roy jatuh dari ketinggian menampilkan kemegahan, baku tembak di bulan menyelipkan teror, pula pertarungan melawan babun yang mengandung kebrutalan layaknya seri Alien. Bukan cuma Gray, desain produksi meyakinkan garapan Kevin Thompson (Birdman, Okja, Michael Clayton) juga cerminan keagugan semesta lewat sinematografi Hoyte van Hoytema (Her, Interstellar, Dunkirk) yang mengambil gambar memakai format 35mm, masing-masing layak diacungi dua jempol.

Di titik ini, tentu anda telah banyak mendengar banjir kebanggaan terhadap performa Brad Pitt. Seringkali mengandalkan kharisma, melalui Ad Astra, Gray memanfaatkan wibaya sang pemain film sebagai media komparasi perbedaan ekstrim sisi eksternal dan internal individu. Menengok tampilan luar, Roy kolam karang kokoh yang takkan terkikis, sedangkan kondisi dalam hati Roy jadi panggung Pitt menampilkan mulut kerapuhan subtil, yang memuncak selepas third act yang membahas “putusnya sebuah ikatan”. Di situ untuk kali pertama kita menyaksikan senyum si tokoh utama, yang kali ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kebahagiaan hakiki.