December 3, 2020

After The Storm (2016)

Sambil menyiapkan makan malam, Yoshiko (Kirin Kiki menggelitik nan simpatik, senantiasa menghembuskan nyawa bagi filmnya) bercengkerama dengan puterinya, Chinatsu (Satomi Kobayashi). Bukan aktivitas yang jarang mereka lakukan, tampak dari bagaimana tiada keengganan untuk saling melempar ejekan. “I’ve always had bad handwriting. I took after you“, demikian ungkap Chinatsu yang seketika dijawab oleh sang ibu, “I’m not as bad as you“. Pemandangan natural soal kehangatan keluarga tanpa sisi cantik yang dibuat-buat. Dalam pembicaraannya, Yoshiko dan Chinatsu sering beda pendapat, namun setuju akan satu hal, mengenai salah satu anggota keluarga yang berdasarkan mereka cocok dengan istilah “Great talents bloom late“.

Seketika adegan berpindah menuju sebuah kereta. Diiringi musik karya Hanaregumi berupa petikan gitar plus siulan yang terdengar bagai melankoli ironis, protagonis kita hadir. Dia yaitu Ryota (Hiroshi Abe), seorang penulis novel sekaligus pemenang penghargaan literatur. Ibu dan kakaknya, serta seorang teman masa Sekolah Menengan Atas yang ia temui di jalan menyatakan hal serupa, bahwa Ryota berprestasi di dingklik sekolah. Namun semua itu masa lalu. Sejak debutnya, ia tak lagi menulis, terjebak kegemaran berjudi, berujung tumpukan hutang. Ryota telah menjadi sosok yang tidak beliau sukai: mendiang ayahnya.
Sebagai modal riset buku terbaru  yang tak kunjung mulai ditulis  Ryota bekerja di kantor detektif swasta. Tapi pekerjaan ini pun urung ia jalankan dengan baik, di mana bersama sang partner, Ryota kerap menghilangkan bukti hingga menyuap klien demi memperoleh uang lebih. Lagi-lagi uang kotor itu juga dihabiskan untuk berjudi. Ryota selalu berkelakar wacana kejayaan masa kemudian maupun mimpi besar masa depan, tetapi lupa akan sekarang. Secara mulus, Hirokazu Koreeda (Like Father, Like Son, Our Little Sister) selaku sutradara dan penulis naskah, menautkan gagasan seputar “right here, right now” dengan tema kesukaannya, yakni keluarga.

Di suatu kesempataan, pernah Koreeda berkata, “Families are priceless but troublesome“, dan permasalahan pelik juga begitu berharganya keluarga terasa betul dalam After the Storm. Kebiasaan berjudi menciptakan Ryota kesulitan membayar pinjaman anak pada mantan istrinya, Kyoko (Yoko Maki) yang sudah mulai berkencan dengan laki-laki lain, menyulut kecemburuan Ryota. Padahal pembayaran itu yaitu syarat semoga ia sanggup bertemu puteranya, Shingo (Taiyo Yoshizawa), tiap bulan. Terbuai angan tak niscaya berwujud menang judi turut merenggut kesempatan membelikan sarung tangan bisbol bagi Shingo, satu hal yang sejatinya sanggup Ryota lakukan seketika itu juga, begitu mendapatkan uang.
Bukan saja terkait penulisan naskah, kelembutan pun pemikiran mulus ikut hadir pada penyutradaraan Koreeda, yang mementingkan keaslian situasi sekaligus emosi. Rangkaian dialog sederhana mendominasi, tetapi sensitivitas Koreeda menciptakan kesan apa adanya jadi penuh rasa ketimbang menjemukan. Tengok momen jalan-jalan Ryota dan Shingo yang mengawali paruh kedua durasi, dikala filmnya mulai membawa penonton menyusuri lebih dalam ruang privasi para tokoh sehabis sebelumnya mengobservasi dari luar. Ryota bukan laki-laki jujur. Setiap orang, bahkan sang ibu pernah ia tipu. Berbeda kala bersama anaknya, membelikan sepatu dengan sisa tabungan, mengajak makan yummy meski membuatnya tak sanggup ikut makan, kasih sayang jujur seorang ayah terpancar jelas. Kepiawaian Hiroshi Abe bermain emosi berpengaruh secara subtil amat berperan merangkum kelembutan menyengat tersebut.

Pendekatan naturalistik dipertahankan Koreeda hingga konklusi. Ryota (dibantu Yoshiko) mencari rekonsiliasi, berusaha menyatukan lagi perpecahan keluarga mereka, tapi sang sutradara enggan memaksakan kejadian cantik dadakan selaku usaha penyelesaian masalah. Proses mengalir semestinya, sebagaimana seharusnya perasaan remuk yang takkan begitu saja kembali tersusun rapi. Kemudian segalanya memuncak sewaktu ketiganya sejenak bersama sebagai satu keluarga utuh, mencari tiket lotere di tengah gempuran topan layaknya usaha menggapai mimpi meski harus diterjang problematika.