October 22, 2020

All The Money In The World (2017)

J. Paul Getty (Christopher Plummer) tak bergeming, teguh pada keputusannya menolak membayar uang tebusan bagi penculik cucunya, Paul Getty III (Charlie Plummer), meski mendapat tekanan aneka macam pihak termasuk sang menantu, Gail (Michelle Williams). Sutradara Ridley Scott, kukuh pada keputusan melaksanakan pengambilan gambar ulang demi menendang Kevin Spacey dari film pasca tertimpa perkara pelecehan seksual, meski hanya punya waktu sembilan hari yang bagi banyak orang yaitu misi bunuh diri. Baik Getty maupun Scott yakin akan keputusan mereka sebab menyimpan satu modal penting: pengalaman.

Pengalaman Scott yang telah 40 tahun berkecimpung di industri film, selain nampak dari caranya menangani problem di balik layar, terlihat juga dari hasil di atas layar. All the Money in the World, selaku penyesuaian buku Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, dikemas lewat ketepatan pacing dan dinamika. Scott menguasai betul dasar-dasar bercerita. Kapan alur harus dibawa berlari, kapan berjalan perlahan, kapan membisu sejenak untuk memberi penonton kesempatan mencerna fakta. 
Semua soal kematangan, yang mana turut dimiliki Plummer, sehingga persiapan mepet tak menghalanginya memberi performa yang bagi banyak pemain film mungkin memerlukan waktu panjang untuk mendalami peran. Di tangan Plummer, Getty bagai medan magnet berpengaruh yang menarik segala atensi tatkala mengisi layar. Dialah taipan minyak sukses sekaligus orang terkaya kala itu (1973) yang bersedia menawar selama satu jam untuk mendapat patung murahan dan menjabat tangan sang putera layaknya rekan bisnis sesudah berpisah bertahun-tahun ketimbang memeluk hangat. Beberapa dari penonton (termasuk saya) mungkin akan iseng bertanya dalam hati, “apakah Getty memiliki gudang kawasan ia berenang di bak uang logam?”. 

Sewaktu Paul diculik, dan para penculik meminta tebusan $17 juta, Getty cuma tertawa di hadapan awak media sambil menyatakan enggan membayar. Lalu masuklah Gail yang coba membujuk mertuanya semoga mau mengesampingkan keserakahan demi sang cucu. Ketika perjuangan tersebut sia-sia, dibantu oleh Fletcher Chase (Mark Wahlberg) selaku penasihat Getty plus mantan anggota CIA serta kepolisian, Gail coba mencari cara sendiri guna menyelamatkan Paul. Gail menolak hancur. Ketegaran yang malah memancing opini negatif media. Menurut salah satu wartawan, seorang ibu semestinya menangisi nasib putera yang diculik. 
Tapi Gail enggan bersikap sebagaimana ekspektasi umum. Dia melawan ekspektasi dan berani bertindak seorang diri. Keberanian yang terpancar dari tatapan menyengat dan selorohan sinis Williams. Mata sang aktris bicara begitu banyak. Serupa filmnya yang tidak pernah meledak-ledak namun mengikat melalui pemeriksaan dan studi karakter, Williams mengekspresikan setumpuk rasa tanpa luapan besar. Obrolan Gail dengan Fletcher di penghujung film menyiratkan setumpuk interpretasi. Apakah ia mengingkan lelaki itu menetap? Apakah ia rahasia jatuh cinta? 

Di luar investigasi, intensitas All the Money in the World bersumber dari seruan untuk penonton mempertanyakan intensi Getty sesungguhnya. Benarkah ia sekedar kikir ataukah tengah menjalankan permainan pikiran terselubung? Inilah teka-teki sesungguhnya, yang hadir sambil diselimuti musik megah nan misterius buatan Daniel Pemberton. All the Money in the World merupakan hidangan yang dikemas menggunakan gaya dasar minim terobosan. Dan Scott begitu menguasai dasar, sehingga film ini tersaji sedemikian solid. Tidak mendobrak batas, tidak pula meninggalkan banyak cacat.