November 26, 2020

Ambu (2019)

“Pergunakan air mata karaktermu dengan bijak, atau dampaknya akan lenyap”. Ambu rupanya tidak memegang prinsip tersebut. Begitu menyukai air mata, debut penyutradaraan Farid Dermawan ini terus menumpahkannya, khususnya di pipi Fatma (Laudya Cynthia Bella) yang matanya sembab hampir di segala situasi. Bukan itu caranya merebut simpati penonton.

Fatma tidak hanya mesin air mata, juga individu yang memanfaatkan penyakit kronis sebagai alasan bertindak otoriter. Oh ya, ia sakit. Apalagi jika bukan kanker. Tapi ia menolak memberi tahu siapa pun, termasuk puterinya, Nona (Lutesha) mengenai vonis dokter bahwa usianya takkan lama. Mengapa? Entah, filmnya urung menjabarkan secara gamblang. Saya berasumsi, Fatma khawatir Nona bakal menolak rencananya. Sebuah planning yang bakal mengubah arah hidup Nona, namun sang pemilik hidup tak pernah ia ajak mengembangkan opini.

Nona sendiri membenci sang ibu, kemudian menyebabkan clubbing tiap malam sebagai pelarian. Apa alasan kebencian Nona? Sederhana. Orang tuanya bercerai, dan naskah karya Titien Wattimena (Salawaku, Aruna & Lidahnya, Dilan 1991) mengikuti stigma bahwa perilaku anak korban perceraian selalu begitu.

Rencana Fatma ialah menjual seluruh harta bendanya, kemudian membawa Nona ke Baduy untuk tinggal bersama neneknya, Ambu Misnah (Widyawati). Sudah 16 tahun Fatma tak berjumpa Ambu, dan melihat keengganan sang ibu mendapatkan kepulangannya dengan tangan terbuka, sanggup ditebak keduanya berpisah akhir konflik besar. Meski dihadapkan pada perilaku ketus Ambu, Fatma tetap kukuh menyimpan rahasia. Padahal kejujurannya sanggup meredam beberapa konflik, sekaligus memberi lebih banyak quality time sebagai keluarga. Apalagi, karenanya perubahan perilaku Ambu terjadi pasca ia mengetahui penyakit Fatma.

Seperti kita tahu, Baduy amat menghormati alam. Mereka menolak pemakaian listrik atau banyak sekali bentuk teknologi modern lain sebab enggan merusak alam. Berpijak pada kepercayaan itu, Ambu turut menghadirkan dongeng perihal proses Nona—si bocah metropolitan dengan segala pernak-pernik artificial—menemukan, kemudian mengasihi alam (disimbolkan lampu kunang-kunang miliknya).

Cerita di atas sejatinya bermakna, mengingat pentingnya insan untuk menghargai alam. Tapi egoisme (terselubung) Fatma turut diperkuat olehnya. Mendorong orang kota tiba-tiba harus hidup tanpa teknologi di kawasan pelosok sama buruknya dengan memaksakan modernisasi kepada rakyat Baduy. Penekanannya ada di kata “tiba-tiba”. Elemen problematik bukan pada pembiasaan yang mesti Nona jalani, melainkan fakta bahwa Fatma, tanpa alasan jelas, menolak mendiskusikannya dahulu.

Saya sungguh menyukai penggambaran Baduy dalam Ambu. Kita diajak mempelajari banyak sekali kultur, sembari menikmati nuansa tenang serta keindahan alam di sana, yang ditangkap tepat oleh sinematografi garapan Yudi Datau (Arisan!, Supernova, Critical Eleven), yang berilmu bermain warna dan cahaya. Terik cahaya matahari kekuningan memancar di sela-sela tembok bambu, sementara langit malam terbentanng dengan warna kebiruan. Walaupun lemah di departemen naskah, aspek teknis Ambu tidak main-main.

Pun walau banyaknya tumpahan air mata mengambarkan minimnya kesubtilan, sutradara Farid Dermawan masih meluangkan beberapa momen guna menggunakan penceritaan visual demi menyalurkan emosi. Favorit saya ialah tatkala kamera ditempatkan di atas, mengatakan ketiga generasi perempuan tengah meresapi emosi masing-masing dalam tiga ruang terpisah di rumah Ambu. Shot tersebut memberi sentuhan apik perihal pemanfaatan dekorasi latar.

Selain kisah soal dua hubungan ibu-anak, Ambu memiliki subplot romansa yang terjalin antara Nona dengan laki-laki lokal berjulukan Jaya (Andri Mashadi), yang setia menemani hari-hari penuh kepenatan di Baduy. Tidak dipaparkan secara luar biasa, namun suasana cantik nan ringan miliknya, cukup menambahkan warna pada tearjerker satu ini. Tapi penyelamat terbesar berasal dari penampilan Widyawati sebagai ibu tangguh berhati kokoh yang enggan dikalahkan melankoli.

Saat karenanya tangis Ambu tumpah, hati saya pun bergetar. Ini yang saya maksud dalam kalimat pembuka di atas. Air mata Ambu memberi imbas ahli justru sebab jarang ditampilkan. Hal sama berlaku untuk Hapsa (kembalinya Endhita sehabis tujuh tahun), sahabat usang Fatma yang selalu ceria. Dan tengok bagaimana Widyawati menangani momen tersebut. Berbeda dengan Fatma, tangis Ambu tak memancarkan kelemahan, melainkan luapan perasaan campur aduk seorang ibu (termasuk cinta luar biasa besar kepada puterinya) yang tertahan selama belasan tahun. Sang aktris senior gres saja menyelamatkan filmnya.