November 26, 2020

Angel Has Fallen (2019)

Angel Has Fallen membawa seri film Fallen dari gelaran agresi destruktif berskala besar ke arah tontonan medioker yang lebih banyak didominasi bagiannya lebih pantas berjajar di rak DVD ketimbang diputar di layar lebar. Dan bagi Gerard Butler, fakta bahwa ia kalah badass dibanding Nick Nolte yang telah menginjak 78 tahun, seolah jadi membuktikan ancaman untuk karirnya sebagai pahlawan laga.

Jangankan Leonidas, Butler bahkan tak lagi seprima tiga tahun kemudian dalam London Has Fallen. Dia tampak kepayahan dan kurang fit, yang sejatinya bisa dipakai selaku bahan menarik dalam eksplorasi naskah buatan sutradara Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) bersama Robert Mark Kamen (The Fifth Element, The Transporter, Taken) dan Matt Cook (Patriots Day, Triple 9) ihwal kondisi fisik sang protagonis.

Selepas menyelamatkan petinggi negara dua kali, badan Mike Banning (Gerard Butler) mencapai batas. Gegar otak membuatnya kerap mendadak pusing, pun tulang punggungnya semakin rapuh. Fisik ditambah keberadaan keluarga, menciptakan Mike mulai berpikir hendak mengambil pekerjaan di belakang meja sebagai eksekutif paspampres, walau sebagaimana diungkapkan mitra lamanya, Wade Jennings (Danny Huston), Mike selamanya ialah singa yang haus akan agresi di lapangan.

Tapi apa guna memberi penyakit pada huruf bila itu cuma besar lengan berkuasa kala ia tidak sedang beraksi? Setiap Mike mengangkat senjata, beliau selalu baik-baik saja. Seperti dikala ratusan drone coba membunuh Presiden Allan Trumbull (Morgan Freeman), pula membantai seluruh paspampres kecuali Mike. Dia sempoyongan sebelum serangan, namun tiba-tiba segar bugar dikala dibutuhkan. Bahkan Mike bisa selamat dari ledakan bom persis di bawah tubuhnya!

Bukan saja satu-satunya paspampres yang selamat, penyelidikan FBI yang dipimpinn Helen Thomposn (Jada Pinkett Smith) menemukan DNA Mike di kendaraan pelaku bersama bukti-bukti lain yang menyudutkannya. Malaikat penjaga Presien telah jatuh, namun kita tahu pasti, nantinya Mike bakal berhasil membersihkan namanya. Tidak sulit pula menebak siapa dalang di balik percobaan pembunuhan itu.

Tapi elemen alur semacam itu bukan poin substansial dalam seri Fallen. Seberapa besar, gila, dan bombastis adegan aksinya merupakan hal terpenting. Sayang, khususnya di paruh pertama, penyutradaraan Ric Roman Waugh begitu medioker, sukar mencerna detail adegan. Baku tembak maupun hantam dikemas lewat quick cuts yang tersusun oleh (terlalu) banyak shot, sedangkan aski kejar-kejaran bertempat di latar super gelap, menghasilkan tensi nol besar.

Beruntung, sejurus kemudian diperkenalkanlah sosok Clay (Nick Nolte), ayah Mike, yang meninggalkan keluarganya selepas kembali dari Perang Vietnam dalam kondisi mengidap PTSD. Dia hidup sendirian di kabin di tengah hutan, membangun terowongan bawah tanah serta memasang bom perangkap yang cukup untuk meratakan seluruh area hutan. Jangan mengharapkan cerita kekeluargaan emosional, tapi kehadiran Clay mampu menambah energi aksinya, membawa filmnya kembali ke hakikat seri Fallen, dengan ledakan-ledakan over the top yang menambah daya hibur Angel Has Fallen, di luar sentuhan humor yang tampil menggelitik berkat sikap antik plus kegemaran Clay berkelakar.

Berikutnya, Angel Has Fallen sempat cukup bernyawa, menyuguhkan agresi solidi di tengah alur bertempo cepat, sebelum mencapai pertarungan puncak, sewaktu Ric risikonya memutuskan tak lagi menutupi perkelahian dengan trik kamera atau penyuntingan…..yang malah berujung bencana. Tersusun atas penyutradaraan lemah dan koreografi malas, kita hanya disuguhi dua laki-laki paruh baya yang kurang prima saling berpelukan, mencengkeram, kemudian menggeram.

Tanpa ekspektasi apa pun, Angel Has Fallen berpotensi jadi hiburan sekali waktu sebelum dengan gampang anda lupakan, tapi tatkala sebuah franchise dikenal sebab agresi masif berskala raksasa plus pahlawan badass, percuma melanjutkannya jikalau skala diperkecil sementara sang pahlawan tidak lagi tampak tangguh. Hasilnya murahan.