November 28, 2020

Antologi Rasa (2019)

“Selamat tiba di kehidupan cinta gue yang berantakan”, sapa Keara (Carissa Perusset) pada penonton. Dan memang pernyataan itu paling pas, alasannya yaitu Antologi Rasa sungguh menghadirkan dongeng cinta segiempat luar biasa rumit nan berantakan. Begitu berantakan, pesan yang filmnya hendak sampaikan soal relasi pun kolam hilang ditelan keruwetannya. Atau memang tiada pesan apa pun? Ketika pikiran para huruf semakin jernih jelang dongeng berakhir, tidak demikian halnya penonton.

Tapi kalau anda memandang Antologi Rasa hanya sebagai satu lagi film wacana betapa resahnya menyayangi seseorang yang tak sanggup dimiliki, pembiasaan novel berjudul sama karya Ika Natassa ini bahwasanya bekerja cukup baik. Saya bisa memahami lebih banyak didominasi rasa sakit karakternya, bahkan nyaris menitikkan air mata tatkala konflik lagi-lagi dibawa menuju resolusi di bandara, yang mana telah digunakan menutup ribuan drama romantika.

Keara, Harris (Herjunot Ali), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime) yaitu sobat yang mencari nafkah di satu kantor, bahkan sama-sama tiba terlambat di hari pertama bekerja. Ada persamaan lain di antara mereka, di mana masing-masing saling memendam cinta. Harris menyayangi Keara yang menyayangi Ruly yang menyayangi Denise yang sudah menikah. Rumit memang. Antologi Rasa ibarat antologi hal-hal menyakitkan yang terjadi ketika cinta bertepuk sebelah tangan.

Begitu banyak hal menyakitkan muncul menciptakan paling tidak ada satu-dua insiden yang pernah penonton alami, sehingga merasa terikat terhadapnya. Cukup ambil referensi perasaan Harris. Dia terjebak di friendzone, terlanjur jadi kawasan Keara mencurahkan isi hati soal laki-laki lain yang ia cintai. Fisik sang gadis amat dekat, namun tidak hatinya, yang digambarkan oleh suatu malam di Singapura, kala Keara berbaring di perut Harris, sementara si laki-laki hidung belang mengaku sudah menemukan perempuan yang tepat baginya. Tentu Keara tak tahu bahwa perempuan itu yaitu dirinya.

Paruh pertama, yang menjabarkan perjalanan Keara dan Harris ke Singapura untuk menyaksikan balapan F1 (Ruly membatalkan keikutsertaannya demi menemani Denise), merupakan kepingan paling bernyawa berkat keberhasilan Junot sejenak mengesampingkan persona “cowok cool” yang lekat padanya (AKHIRNYA!). Kepribadian unik dan cerianya membawa energi serta getaran menyenangkan, bukan hanya dalam hidup Keara, juga bagi pengalaman menonton kita. Walau sewaktu dipaksa melakoni adegan serius, kecanggungan kaku khasnya kembali lagi.

Carissa, dalam penampilan layar lebar perdana, mengatakan kualitas yang hanya bisa dideskripsikan melalui kalimat Ruly untuk Keara berikut: “Efek lo ke pemuda itu luar biasa”. Bukan cuma soal paras cantik. Ada aura mensugesti yang memancing ketertarikan. Sesuatu yang tidak mungkin dilatih, dan kelak bakal menjadikannya bintang besar selama jeli menentukan peran. Di situasi dramatik, konsistensi Carissa perlu diperbaiki, tapi caranya menghantarkan kalimat emosional di “adegan bandara” cukup menandakan potensinya. Sebuah kalimat yang usang saya nantikan keluar dari verbal huruf ketika menghadapi perpisahan. Kalimat berpengaruh yang bertindak selaku ungkapan perasaan jujur, sehingga saya memaafkan bagaimana Antologi Rasa karam dalam kerumitannya sendiri.

Fase berikutnya, yang menampilkan perjalanan bisnis Keara bersama Ruly ke Bali, sayangnya tak seberapa menarik. Refal menandakan kapasitasnya memerankan laki-laki baik kharismatik, tapi fakta bahwa Ruly yaitu laki-laki kalem yang kurang andal menyegarkan suasana lewat lawakan ibarat Harris, menjadkan interaksinya dengan Keara seringkali hampa. Terlalu banyak kekosongan di paruh kedua Antologi Rasa.

Film ini disutradarai Rizal Mantovani (Kuldesak, 5 cm, Eiffel…I’m In Love 2), yang saya percaya, senantiasa mempunyai visi ciamik perihal merangkai gambar bagus meski pengadeganannya kekurangan sensitivitas (itu sebabnya kebanyakan horor Rizal berakhir buruk). Rizal tak kuasa mengangkat bobot emosi adegan, tapi lebih dari bisa untuk membuatnya nampak elegan sekaligus mewah. Dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (Sang Kiai, My Stupid Boss, Target), semua selalu terlihat cantik, baik pemandangan (Singapura, Bali, bahkan nuansa malam Jakarta) maupun tokoh-tokohnya. Walau akan lebih baik andai Rizal tak terlalu bergantung pada jajaran pemain atau benih-benih yang ditanam naskah buatan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh) dan Ferry Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur).