December 3, 2020

Arwah Noni Belanda (2019)

Arwah Noni Belanda adalah salah satu komedi terlucu tahun ini!

*Sayup-sayup terdengar bisikan* “Mas, ini horor, bukan komedi”.

Apa maksudnya ini bukan komedi?! Saya terang menemukan setumpuk momen menggelitik, contohnya ketika Kevin (Ferdian Aryadi) menyebut “evil” sebagai “efel” alih-alih “e·vil”. Mustahil film non-komedi bisa sehebat itu mengocok perut. Bagaimana bisa, di saat…..ah, saya mengerti. This is not a comedy, but simply a highly incompetent movie.

Walau Arwah Noni Belanda cuma berdurasi 75 menit, rasanya menyerupai menonton Avengers: Endgame 75 kali berturut-turut tanpa henti. Tanpa diperbolehkan makan, minum, atau buang air. Pokoknya neraka dunia.

Bukan saja diakibatkan kualitas yang tiarap, juga alasannya yaitu filmnya bergerak begitu lambat semoga ketiadaan dongeng tersamarkan. Kata “lambat” di sini bermakna literal. Beberapa establishing shot berlangsung amat lama, saya sempat berpikir sang sutradara lupa berteriak “cut!” atau tertidur di tengah proses pengambilan gambar. Bisa juga sinematografer dan para kameraman yang terlelap, melihat banyaknya gerak kamera acak. Mungkin itu sebuah kecelakaan kala sang juru kamera kebosanan, kemudian terkantuk-kantuk dan tidan sengaja menyenggol lensa.

Mari kembali membahas alur, yang bertutur perihal Sarah (Sara Wijayanto), yang gres saja pindah bersama suaminya, Kevin, dan puteri mereka, Amely (Nayla D Purnama), ke rumah yang diberikan sang bos sebagai fasilitas. Fasilitas apa??? Apakah King Javed (Angker, Tujuh Bidadari) selaku penulis naskah lupa mencantumkan latar belakang mengenai pekerjaan Sarah? Atau sutradara lupa mengambil gambarnya? Ataukah momen itu tertinggal di ruang penyuntingan?

Barulah di pertengahan, Kevin menyinggung perihal maksud kedatangan Sarah ke rumah tersebut, yakni guna menulis novel horor menurut kehidupan Hellen Van Stolch (Milena Tunguz), gadis Belanda yang tewas pada 1834. Tidak butuh waktu usang hingga arwah Hellen menampakkan diri lewat cara-cara konyol, yang menciptakan saya berpikir bahwa sang sutradara, Agus H Mawardy alias Agus Pestol (Tebus, Valentine), memang berusaha menggiring filmnya ke ranah komedi. And please Mr. Pestol, change your nickname into shotgun, bazooka, or grenade. Those sound cooler than PESTOL.

Saya tergelak oleh banyak hal, contohnya teriakan Sara Wijayanto dan Ferdian Aryadi yang terdengar kolam gres melihat kecoa terbang ketimbang hantu, atau ketika kita diperlihatkan visualisasi monitor laptop berisi goresan pena Sara yang penuh kesalahan penulisan (“angin” menjadi “angina”, “datang” menjadi “dating”). Sekali lagi, apakah orang-orang di balik film ini bekerja sambil tidur? Apakah mereka sungguh-sungguh niat bekerja/berkarya? Apakah mereka peduli???

Arwah Tumbal….ah, maaf, itu film sampah yang berbeda. Arwah Noni Belanda berusaha keras menyembunyikan kemalasan King Javed (apakah dia punya korelasi darah dengan Baginda KKD dan Sultan Nayato?) menulis alur secara layak. Di samping establishing shot berdurasi infinit yang sudah saya singgung, bisa ditemukan juga gerak kamera selambat siput, juga situasi repetitif, tatkala filmnya mencekoki penonton dengan adegan Sarah memandang foto-foto Hellen. Durasi terus bergulir, namun ceritanya jalan di tempat. Apa namanya jikalau bukan mengulur waktu?

Guna mempresentasikan dongeng perihal Hellen, Arwah Tumbal Noni….arrggh fuckin hell….Arwah Noni Belanda memanfaatkan sekuen mimpi, membawa kita mundur ke tahun 1834, mengungkap keseluruhan kisah sedikit demi sedikit. Ceritanya sendiri memang sedikit. Jika disatukan, mungkin tak hingga 10 menit. Sekuen mimpinya muncul berkali-kali, bahkan sempat terjadi mimpi dalam mimpi yang akan menciptakan Christopher Nolan minder akan pencapaian Inception. Film ini patut dianugerahi rekor MURI sebagai film Indonesia dengan jumlah mimpi terbanyak.

Alurnya ditutup oleh twist semrawut yang bakal menciptakan penonton garuk-garuk kepala dan pantat, kemudian disusul timeskip selama tiga bulan. Apa yang terjadi sesudah tiga bulan? TIDAK ADA. Nihil elemen gres maupun progres bagi perjalanan karakternya. Saran saya, apabila anda tetap nekat ingin menghamburkan uang untuk menonton film ini, perlakukan Arwah Noni Belanda sebagai film komedi. Bisa jadi anda terpuaskan.