October 22, 2020

Atomic Blonde (2017)

Atomic Blonde digadang-gadang bakal menjadi John Wick versi wanita. Wajar, mengingat filmnya dibentuk oleh David Leitch selaku salah satu sutradara film tersebut. Pun trailer-nya yang menampilkan ketangguhan Charlize Theron menghajar habis sederet musuh sembari diiringi kombinasi lagu Blue Monday, Personal Jesus, dan Black Skinhead memancing kesan serupa. Sehingga mengejutkan tatkala produk hasilnya berupa cold war espionage di mana nuansa dingin, percakapan penuh kecurigaan, kegiatan sadap menyadap, atau pemeriksaan bukti tersembunyi, lebih mendominasi ketimbang baku hantam. This isn’t “the next John Wick“, this is “John Wick meets Tinker Tailor Soldier Spy“.

Berlatar detik-detik menuju keruntuhan Tembok Berlin pada 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang biro MI6, diberi kiprah merebut daftar nama-nama biro di Soviet. Daftar tersebut sejatinya dipegang oleh biro MI6 lain, James Gasciogne (Sam Hargrave), namun James terbunuh, dan daftar itu jatuh ke tangan biro KGB. Konon ada keterlibatan biro ganda berjulukan Satchel yang berkhianat serta sudah bertahun-tahun menyuplai info ke Soviet. Seiring memanasnya konflik dua sisi Jerman, Lorraine, dibantu oleh kontaknya di Berlin, David Percival (James McAvoy), mesti secepat mungkin mengungkap jati diri Satchel.
Pemilihan setting menjelang reunifikasi Jerman menguatkan kesan bahwa di tengah insiden bersejarah pencuri sorotan dunia nyatanya terjadi pula hal dengan urgensi tak kalah besar nan memilih tanpa diketahui banyak pihak. Bahkan mereka yang terlibat pun urung memahami kebenarannya. Tuturan spionase memang penuh rahasia. Tidak semua sanggup dipercaya, berpotensi saling tikam dari belakang. Terpancar terperinci ketika Lorraine dinterogasi (alurnya bergerak bolak-balik antara interogasi dan misi Berlin) oleh atasannya, Eric Gray (Toby Jones) dan biro CIA, Emmett Kurzfeld (John Goodman). Siapa jujur, siapa sepenuhnya beraksi demi negara, siapa membawa kepentingan lain, semua misteri. 

Dan merangkai fakta bersama-sama bukan perkara mudah, baik bagi para tokoh maupun penonton. Sebagaimana umumnya cold war espionage, Kurt Johnstad melalui naskah hasil pembiasaan novel grafis The Coldest City karya Sam Hart, enggan gamblang menjelaskan jawaban. Apa yang dicari kemudian didapat, arti sebuah temuan, hingga kejutan-kejutan, ditebar bagai keping puzzle yang harus penonton rangkai sendiri. Rumit. Perlu ketelitian. Sedikit terlewat, rasanya ibarat diperlihatkan sesuatu yang kita tak merasa tengah mencarinya. Namun juga menantang. Atomic Blonde layaknya ujian sulit yang makin memuaskan begitu bisa memecahkan persoalannya. 
Masalah terletak di kemampuan David Leitch bercerita. Sang sutradara tersesat dalam benang kusut yang ciptaan sendiri. Beragam momen memunculkan kerumitan tak perlu, mengalir bergairah akhir lebih mementingkan gaya berupa gambar memikat berhias neon aneka warna. Lain halnya sanksi aksi. Walau tidak seberapa sering, sekalinya hadir, keindahan koreografi bela diri brutal ditemani hentakan soundtrack era (mostly) 80an tampil mengesankan. Not as atomic as its trailer but still a hard-hitting action. Puncaknya long take beberapa menit kala Lorraine berdarah-darah membabat lawan, entah dengan tangan kosong, pistol atau perkakas. Kemampuan Leitch dan sinematografer Jonathan Sela menata gerak dinamis kamera di antara koreografi perkelahian kompleks dalam ruang sempit (tangga, mobil) layak diganjar riuh tepuk tangan.

Charlize Theron mendefinisikan “badass action hero“. Khusus untuk long take di atas, bukan saja pamer kehebatan melakoni bela diri sendiri, Theron menciptakan adegan itu meyakinkan berkat ketepatan lisan kelelahan dan rasa sakit. Secara sedikit demi sedikit kita sanggup melihat Lorraine yang awalnya tangkas semakin kepayahan seiring bertambahnya lawan juga luka tubuhnya. Di samping ketangkasan aksi, Theron bagaikan magnet super besar lengan berkuasa dengan penuturan kalimat dingin, tatapan tajam nihil keraguan, hingga hisapan rokok penuh kepercayaan diri. Ketika orang lain dibayangi ketidaktahuan, Lorraine menonjol, tampak mengerti segalanya, bisa melaksanakan apa saja, seolah dunia ada dalam genggamannya.

Review Atomic Blonde juga tersedia di tautan ini