November 24, 2020

Bali: Beats Of Paradise (2019)

Bali: Beats of Paradise memberi saya salah satu pengalaman gala premiere paling sureal. Pertama mesti dipahami dulu, dokumenter ini merupakan karya Livi Zheng, sineas yang memperoleh popularitas di Indonesia berkat Brush with Danger (2014), yang jawaban kemalasan media serta masyarakat menggali info ditambah pembiaran dari Livi, digembar-gemborkan sebagai peraih nominasi Oscar.

Saya pun terkejut ketika sebelum pemutaran, ia tak memberikan sambutan. “Apakah Livi sudah berubah, mulai merendah, dan membiarkan karya yang bicara?”, begitu pikir saya. Sungguh saya salah mengira. Sang sutradara telah mempersiapkan absurditas lain. Dimainkanlah video gelaran premiere di Amerika Serikat, rekaman konferensi pers bersama beberapa Menteri termasuk Sri Mulyani, formasi pesan video himbauan menonton dari figur-figur “pembesar” negara, liputan-liputan media soal “kesuksesan” Livi “menembus Hollywood”, hingga trailer film-filmnya yang lain, dari Brush with Danger hingga Insight yang dibintangi Tony Todd.

Tidak berlebihan jikalau Livi disebut narsis pula haus popularitas, alasannya kesan itu pun begitu kentara dalam hasil tamat Bali: Beats of Paradise, walau sejatinya, tuturan di paruh awal membuka kisah secara meyakinkan. Kita diajak melihat bagaimana musik gamelan amat dikagumi, berpengaruh, dan diperdalam oleh masyarakat luar negeri, termasuk Amerika. Biarpun singkat, setidaknya penuturan para narasumber sedikit menjelaskan alasan kekaguman mereka kepada gamelan.

Lalu diperkenalkanlah para tokoh sentral, pasangan suami istri Nyoman Wenten dan Naniek Wenten, dua musisi sekaligus penari Bali yang sudah 40 tahun tinggal di Amerika, guna mengajar di departemen Etnomusikologi di UCLA, juga CalArts. Pak Nyoman dikenal ramah, kenyamanan bukan hanya dirasakan murid-muridnya, begitu pula saya selaku penonton. Ada kehangatan kala mendengarkannya bercerita wacana karir hingga hubungan dengan sang istri.

Timbul juga kekaguman menyaksikan pasangan ini berkesenian di satu panggung, menunjukkan bakat yang sudah menciptakan ribuan (bahkan tampaknya lebih) insan terpesona. Livi tidak perlu berbuat macam-macam, Bali: Beats of Paradise sudah terkatrol kualitasnya berkat subyek luar biasa miliknya. Tapi bukan Livi Zheng namanya kalau tidak macam-macam.

Titik balik filmnya terjadi kala Pak Nyoman mengutarakan niat mengunggah video wacana gamelan ke YouTube, dengan sasaran sejuta penonton. Harapannya, masyarakat khususnya generasi muda lebih mengenal kesenian tradisional ini. Beliau pun merasa “sutradara kita, Livi Zheng, niscaya bisa membantu”. Dimulailah acara pamer CV sutradara internasional peraih nominasi Oscar pujian tanah air proses produksi video tersebut. Jangan kaget dikala rekaman program televisi plus kutipan isu layaknya kliping wacana “prestasi” Livi Zheng kembali bermunculan di layar.

Saya bakal diam, membiarkan yang bersangkutan pamer sesuka hati, bila filmnya sungguh berkualitas. Masalahnya, Livi tampak tidak tahu apa-apa, baik terkait tata cara bercerita maupun proses produksi. Alkisah, terjadilah kerja sama antara Pak Nyoman dan Bu Naniek dengan Judith Hill, musisi funk yang pernah menjadi penyanyi latar bagi Michael Jackson, Stevie Wonder, hingga Josh Groban. Kisah Hill sendiri pernah diangkat dalam dokumenter 20 Feet from Stardom (2013), di mana ia turut mengisi bunyi untuk lagu berjudul sama yang memenangkan Grammy Awards di kategori Best Music Film.

Rencananya, Livi bakal menyutradarai video klip lagu kerja sama mereka yang berjudul Queen of the Hill. Sewaktu ditanya perihal kesulitan proyek ini, Livi menjawab kurang lebih demikian, “Kesulitannya ialah harus merekam lagu, menciptakan koreografi, dan merekam video”. Jawaban tersebut mengesankan ketidaktahuan sang sutradara akan proyek yang dikerjakannya.

Livi pun tergagap dalam bertutur. Terdapat banyak modal cerita, dari perjalanan karir Pak Nyoman, proyek bersama Judith Hill, dan tentunya perkembangan gamelan itu sendiri. Tapi dari modal sebanyak itu, tak satupun sempat dieksplorasi. Durasi 56 menit (termasuk 3 menit 43 detik video Queen of the Hill sebelum kredit) sudah menyiratkan itu. Livi sebatas melontarkan gagasan-gagasan yang makin usang makin bertumpuk, membuatnya kerepotan mengatur pedoman dongeng yang terus melompat secara acak dari satu tema ke tema berikutnya.

Anda bakal sering mempertanyakan esensi dimunculkannya sesuatu. Mengapa Balawan sering tiba-tiba tiba kemudian pergi? Menjelang akhir, sempat muncul narasi singkat mengenai pemakaian gamelan di karya-karya besar menyerupai Avatar, Fellini Satyricon, Akira, hingga Star Trek. Mengapa tak memperdalam bahasan itu, yang pastinya lebih menarik ketimbang satu jam acara di balik layar pembuatan video klip? Livi pun tak mengeksplorasi proses kreatif yang terjadi, baik di antara tiga seniman ahli itu maupun dirinya sendiri. Kita cuma melihatnya memegang clapperboard alih-alih menyutradarai.

Selain dangkal, Bali: Beats of Paradise adalah dokumenter canggung. Tentu dalam dokumenter tetap ada momen rekayasa. Tugas sutradara ialah menjadikannya nampak alami. Livi tidak mampu. Diskusi awal antara Pak Nyoman dengan Judith contohnya, dikemas kolam variety show kacangan khas televisi kita. Singkatnya, Bali: Beats of Paradise merupakan salah satu dokumenter paling jelek yang pernah saya saksikan.