November 27, 2020

Bike Man (2018)

Menceritakan seorang cowok yang menyembunyikan pekerjaannya sebagai tukang ojek dari kelurga, Bike Man bukan kisah mengada-ada di mana si tokoh utama ingin mempertahankan profesi ala kadarnya untuk selamanya alasannya yaitu cinta. Di luar kemasan konyolnya, Bike Man merupakan tontonan dengan relevansi cukup tinggi terkait penggambaran konflik dan rintangan di dunia (pencarian) kerja.

Sakkarin (Pachara Chirathivat) membuat sang ibu (Jennifer Kim) bangga, alasannya yaitu serupa mendiang ayahnya, ia berhasil bekerja di sebuah bank. Bahkan Sakkarin gres saja dipromosikan menjadi ajun manajer. Tapi siapa sangka, dandanan rapi tiap pagi itu cuma kedok belaka. Sesampainya di kota, Sakkarin eksklusif berganti atribut, “beraksi” sebagai tukang ojek pangkalan akhir selalu gagal dalam proses melamar kerja di bank.

Sakkarin menyembunyikan fakta tersebut dari sang ibu dan Paman Preecha (Kom Chauncheun), mantan polisi sekaligus sobat usang ayahnnya, yang selalu menaruh curiga. Dia takut membuat aib keluarga. Tapi apa dosis suatu pekerjaan disebut baik dan buruk? Uang? Prestise? Definisi baik/buruk itu makin kabur kala Sakkarin bertemu Jai (Sananthachat Thanapatpisal), sobat usang sekaligus gadis yang dari dulu rahasia ia taksir.

Jai bekerja di bank impian Sakkarin, namun kebahagiaannya tak seberapa. Bercita-cita menjadi pilot, Jai merasa terkekang. Terlebih ketika mesti menghadapi tingkah A (Pramote Pathan), kekasih sekaligus atasannya yang playboy dan semau sendiri. Dari sinilah Bike Man menyinggung wacana nilai sebuah profesi, yang berbeda-beda tergantung pemiliknya.

Contohnya, bagi Jai, bekerja di bank mungkin jelek dan penuh kepenatan, namun profesi itu tidak serta merta dicap buruk, sebagaimana dilakukan banyak film bertema worklife kebanyakan. Sebaliknya, bagi Sakkarin, bank yaitu mimpinya. Karenanya, kita tidak berhak begitu saja menghakimi suatu profesi, mau itu karyawan bank atau tukang ojek.

Di luar urusan pekerjaan, Bike Man juga komedi-romantis menggemaskan, yang dibentuk berlandaskan cair dan solidnya chemistry dua pemain film utama. Mengkuti formula romansa Asia, khususnya Thailand dan Korea, korelasi Sakkarin dan Jai yaitu kisah cinta berbalut tawa, di mana tidak peduli secantik dan seanggun apa pun si wanita, karakternya selalu memiliki “cacat” sehingga kerap melaksanakan kebodohan. Justru di situ inti keberhasilannya melahirkan percintaan membumi yang menyenangkan diikuti.

Secara keseluruhan, komedi Bike Man pun mengikuti formula kekonyolan abstrak khas sinema Thailand, yang eksklusif ditegaskan oleh adegan pembuka ketika Sakkarin mengebut di jalan sembari memboncengkan ibu dan neneknya, melintasi jalanan kota kolam pembalap di lintasan. Banyak humornya berasal dari perjuangan Sakkarin mengelabui keluarganya. Menyenangkan, namun acap kali, kucing-kucingannya terasa tidak perlu. Sering timbul pertanyaan soal efek andai Sakkarin tertangkap tangan di beberapa situasi (contoh: pasar malam).

Bergerak dengan kekonyolan beruntun, Bike Man mendadak menghentak lewat konklusi dramatik, sewaktu tema mengejar mimpi dan keluarga bersinggungan, membuat babak selesai mengharukan ketika sutradara Prueksa Amaruji berhasil memadukan tiga elemen: penceritaan (pengungkapan sebuah rahasia), akting emosional Jennifer Kim, dan iringan musik sendu.