November 24, 2020

Bombshell (2019)

Bombshell. Membaca judul tersebut, apa yang terlintas di benak anda? Pasti tidak akan jauh-jauh dari bombastis, eksplosif, dan melesat cepat. Filmnya sendiri digarap demikian. Dipacu kencang, penuh penyuntingan liar demi merangkum setumpuk duduk perkara yang melibatkan begitu banyak nama. Tidak mengejutkan, alasannya penulis naskahnya, Charles Randolph, merupakan co-writer dari The Big Short (2015). Bahkan di sini sanggup ditemukan pula adegan breaking the fourth wall kala Megyn Kelly (Charlize Theron) membawa penonton mengelilingi kantor Fox News.

Tapi perlukah keliaran itu? Sayangnya tidak. Apalagi kala sutradara Jay Roach (trilogi Austin Powers, Trumbo), yang belakangan meninggalkan skena komedi untuk menjajal ranah drama biografi, belum begitu lihai menangani gaya tutur semacam itu. Tapi bukan berarti Bombshell buruk. Daya hiburnya memadai, punya beberapa poin memukau, termasuk transformasi Theron menjadi Kelly—si pembaca isu kontroversial yang di awal film terlibat perselisihan dengan Donald Trump kala mengonfrontasi pernyataan seksisnya mengenai wanita—lewat riasan prostetik memukau buatan (The Great) Kazu Hiro, serta akting solid sang aktris sendiri.

Theron mengatur suaranya semoga terdengar serak, memancarkan kharisma dan kekokohan yang bisa menciptakan seisi ruangan ia memperhatikan kata-katanya. Sosoknya sulit dikenali sekalipun anda mengetahui partisipasinya di film ini. Melalui unggahan di Instagram miliknya, Kelly bercerita bagaimana puteranya galau dikala melihat wajah sang ibu di poster Bombshell. Mungkin insiden itu benar adanya. Bahkan berkat penampilan Theron, bisa jadi banyak penonton melupakan sisi kontroversial Kelly di dunia nyata.

Tapi serupa kalimat epilog filmnya, kita tidak harus menyukai para perempuan ini. Kita cukup percaya atas kisah mereka. Cerita soal pemerkosaan yang mengakar dan membudaya di Fox News, khususnya yang dilakukan oleh sang bos, Roger Ailes (John Lithgow). Ailes kerap melontarkan pernyataan ofensif, menyuruh para pembaca isu perempuan mengenakan gaun sependek mungkin, hingga melaksanakan pelecehan fisik di ruangannya. Semua bungkam. Ada yang memang terbutakan oleh “kemurahan hati” Ailes termasuk beberapa perempuan yang getol mendukungnya, ada pula yang menghkawatirkan keberlangsungan karirnya.

Salah satu korbannya ialah Kayla Pospisil (Margot Robbie), seorang abjad fiktif yang berasal dari keluarga Katolik konservatif dan bercita-cita menjadi pembaca isu di Fox. Robbie paling bersinar di dua momen. Pertama, dikala tangis Pospisil pecah kala menghubungi rekan kerjanya, Jess Carr (Kate McKinnon). Kedua, sewaktu ia jadi korban nafsu Ailes. Bagaimana Robbie tampak menahan ketakutan yang nyata, memperkuat suasana menyesakkan yang berhasil dibangun Jay Roach dengan meniadakan musik.

Nasib Gretchen Carlson (Nicole Kidman) menyerupai sebuah peringatan bagi mereka yang ingin mengungkap tindakan Ailes. Sempat membawakan jadwal ternama Fox and Friends, ia dipindahkan ke jadwal tak popular di sore hari lantaran dianggap membangkang. Dari verbal Kidman, bahkan dikala Carlson memaksakan senyum pun, kita bisa mencicipi amarah yang berkecamuk dalam batinnya. Akhirnya Carlson menolak diam, kemudian mendatangi pengacara guna merencanakan tuntutan aturan terhadap pelecehan yang diperbuat Ailes. Tapi prosesnya tidak mudah. Sebab kembali, risikonya tidak main-main.

Randolph sempat menampilkan sebuah insiden miris sekaligus menggelitik, sewaktu jajaran pembawa jadwal perempuan Fox memberikan sangkalan mereka atas tindakan Ailes, sembari sibuk berusaha mengamankan badan mereka yang dipaksa diobral di layar kaca. Situasi tersebut menggambarkan kegelisahan luar biasa. Kegelisahan akhir badan mereka dieksploitasi, pula kegelisahan ihwal menawarkan ratifikasi jujur. Dilema itu menarik dieksplorasi, namun paparannya cuma hadir di permukaan via deretan obrolan eksposisi. Padahal bayangkan saja, betapa besar film ini bisa berdampak pada dunia konkret untuk mendukung keberanian korban-korban pelecehan mengungkap kebusukan si pelaku.

Potensi menggali lebih dalam karam oleh keliaran progresi kisah dan pengadeganan. Deretan insiden gagal dipresentasikan secara rapi, berondongan obrolan dilepaskan membabi buta, sementara tokoh-tokoh tiba dan pergi. Bombshell membutuhkan lebih banyak suntikan rasa ketimbang gaya. Beruntung, di beberapa titik terbaiknya, film ini bisa bersinar. Momen uplifting kala para perempuan akibatnya menentukan untuk melawan, sedikit kejutan apabila anda tidak sepenuhnya mengikuti perkembangan proses aturan Ailes, juga konklusi bernada positif yang tetap menyiratkan kengerian berupa siklus seksisme yang tak kunjung menampakkan ujung.