November 25, 2020

Bridezilla (2019)

Secara luas, Bridezilla tidak saja soal konflik seputar pernikahan. Ini pun perihal sisi gelap kehidupan sosial ibukota, perihal lubang hitam yang menyedot banyak insan Jakarta. Apalagi kalau bukan fenomena panjat sosial. Ketika individu menakar orang lain (bahkan diri sendiri) menggunakan nilai material.

Penonton luar ibukota bakal geleng-geleng kepala, namun kalau berada di dalamnya, mungkin anda akan merasa ngeri. Biarpun dipresentasikan lewat jalur komedi, fenomena tersebut begitu dekat, bahkan bisa jadi, tanpa disadari kitalah korban berikutnya (kalau belum). Praktis memahami itu berkat efektivitas penghantara pesannya, namun selaku kritik sosial yang dibungkus menggunakan sambul drama-komedi ringan, Bridezilla kekurangan dua poin vital: kelucuan dan hati.

Karakter utamanya berjulukan Dara (Jessica Milla), yang menjalankan sebuah wedding organizer bersama sahabatnya, Key (Sheila Dara). Dara terobsesi merebut gelar “wedding of the year” pinjaman majalah terkemuka Wedding Star, di mana Anna (Widyawati) bertindak sebagai editor. Anna yaitu perempuan intimidatif pula dingin, yang rasanya terinspirasi dari Miranda Priestly-nya Meryl Streep, yang juga terinspirasi sosok Anna Wintour, yang saya yakin menginspirasi pemilihan nama abjad peranan Widyawati tersebut.

Sayang, impian Dara terancam pupus kala ijab kabul Lucinta (Lucinta Luna) yang ia organisir berujung bencana. Reputasi Dara dan wedding organizer-nya hancur, sedangkan para vendor dan klien mundur teratur. Sebab serupa realita, apa pun yang menimpa Lucinta Luna bakal jadi skandal berskala nasional. Di tengah kehancuran itu, Alvin (Rio Dewanto) melamar Dara, memberinya ide untuk menciptakan pesta pernikahannya menjadi even spektakuler demi menyabet titel “wedding of the year”.

Perjalanan Dara tak ubahnya biografi sosialita Jakarta. Mengawali segalanya sebagai orang berperasaan, seiring membesarnya tuntutan sosial, mereka memaksakan diri mendapat hal-hal bersifat material yang di luar jangkauan, bahka meski harus mengorbankan semuanya. Di satu titik, Dara berpikir untuk menjual rumah demi memperoleh cincin mahal, alasannya yaitu cincin pinjaman Alvin yang juga merupakan warisan mendiang ibunya, dianggap kuno oleh Anna. Begitu terobsesi meraih kesempurnaan, Dara berubah menjadi menjadi bridezilla ibarat para klien yang membuatnya kesal, termasuk Lucinta.

Selepas harta, langkah berikutnya yaitu mengorbankan orang-orang tercinta. Pada poin innilah persahabatan Dara dengan Key, pula hubungannya dengan Alvin menemui cobaan terjal. Serupa banyak orang, Dara terlalu mementingkan resepsi tapi lupa bahwa kehidupan ijab kabul sebenarnya, yang sejatinya jauh lebih penting, telah menanti di depan.

Bisa ditebak, “pulang” merupakan tanggapan bagi masalah-masalah di atas. Pulang, kembali ke keluarga dan orang-orang terkasih lainnya. Alurnya bergerak mengikuti formula paten itu, tapi naskah karya Lucky Kuswandi (Ini Kisah Tiga Dara, Galih & Ratna) dan Fai Tirta serta penyutradaraan Andibachtiar Yusuf (Hari ini Pasti Menang, Love for Sale) acap kali kekurangan sensitvitas, lalai membiarkan penonton meresapi momen-momen.

Serupa hidup di Jakarta, momen-momen Bridezilla datang dan pergi begitu saja. (MINOR SPOILER ALERT) Paling fatal tentunya babak final kala ijab kabul Dara dilangsungkan. Berlatar lokasi indah dengan danau di belakang, saya bisa membayangkan betapa “mistis” namun indah kejadian tersebut. Dan secara natural, konflik-konflik bakal menemukan resolusinya di sana. Tapi baik kesakralan upacara ijab kabul maupun penebusan bagi konfliknya berlangsung tanpa penekanan, berlalu begitu saja bagai keping-keping kejadian tak signifikan dalam kehidupan. Bahkan perubahan perilaku Anna dilakukan secara buru-buru, alasannya yaitu sepanjang film, sama sekali tak ditemukan gejala kebaikan padanya. Berbeda dengan Miranda Priestly. (SPOILER ENDS)

Biar begitu, Bridezilla masih punya satu adegan menyentuh, tatkala Alvin melamar dara. Sebuah kesempatan langka di mana seluruh elemen saling mengisi dengan mulus: penyutradaraan lembut dibantu kebolehan membangun momentum, ketepatan naskahnya menentukan timing kapan kejadian itu diposisikan, dan penghantaran hangat nan karismatik dari Rio Dewanto.

Jajaran penampil lain tak kalah baik. Jessica Milla bisa menangkap betapa menyebalkan seorang bridezilla tanpa harus menciptakan penonton membencinya, Widyawati menghidupkan seorang perempuan berwibawa yang akan menciptakan siapa saja gentar bertatap muka dengannya, Sheila Dara menawarkan performa kaya dinamika yang mendefinisikan apa itu “sahabat”, sedangkan Rafael Tan dan Aimee Saras masing-masing sebagai A’ang (karyawan Dara) dan Kirana si sosialita tak pernah kehabisan daya guna memancing senyum.

Tapi saya menyesalkan kurang dimanfaatkannya bakat Lucinta Luna. Saya pernah beberapa kali terlibat proyek bersamanya, dan saya berani menyebut kalau aktris kontroversial satu ini punya bakat komedik luar biasa khususnya terkait kreativitas improvisasi. Di sini, kegilaan Lucinta—sebagaimana materi humor lain—dirusak oleh pengadeganan medioker. Tengok saja di adegan “menggelinding” yang dijadikan salah satu materi promosi filmnya.

Serupa kelemahan di aspek drama, adegan konyol di atas terkesan numpang lewat, terburu-buru, kekurangan punchline, enggan memberi penonton kesempatan mencerna kelucuannya terlebih dulu. Bridezilla dan Lucinta Luna sejatinya sama saja. Sama-sama menyimpan potensi luar biasa yang gagal dimaksimalkan. Karya terlemah Visinema sejauh ini.