November 30, 2020

Brightburn (2019)

Diproduseri James Gunn (Super, Guardians of the Galaxy) serta ditulis naskahnya oleh sang adik, Brian Gunn dan sepupunya, Mark Gunn (Journey 2: The Mysterious Island), Brightburn merupakan percobaan menerapkan konsep komik What If (Marvel) dan Elseworlds (DC) terhadap premis Superman. Bukan hal gres skena buku komik, namun di dunia perfilman, bantuan unik sanggup diberikan, khususnya dalam genre horor + fiksi ilmiah.

Brightburn ialah nama kota kecil yang tak ubahnya cerminan Smallville, sedangkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) terang dibentuk menurut pasangan suami-istri Kent. Kedua pasangan sama-sama tinggal di farmhouse, sembari mengharapkan dikaruniai momongan yang tak kunjung ada, hingga suatu malam pesawat luar angkasa mendarat dengan bayi pria di dalamnya. Diberi nama Brandon (Jackson A. Dunn), ia tumbuh menjadi bocah pendiam, manis, sekaligus cerdas. Hingga masa pubertas datang.

Serupa belum dewasa kebanyakan, mencapai pubertas, Brandon mulai tertarik pada lawan jenis, berulah di sekolah, dan melawan orang tua. Tapi ketika belum dewasa normal “menguntit”si gadis idaman via media sosial, Brandon menguntit secara literal dengan tiba-tiba muncul di kamarnya. Ketika anak lain berkelahi, Brandon meremukkan pergelangan tangan, menusuk bola mata, atau menghacurkan rahang orang lain sambil mengenakan jubah merah dan topeng mengerikan.

Aspek paling berilmu dari naskahnya bukan pada modifikasi kisah super(villain)hero, melainkan penerapannya pada kehidupan keluarga. Tori sadar betul putera angkatnya berlaku mencurigakan, tapi ibarat lebih banyak didominasi ibu, ia kukuh membela Brandon, menyangkal segala fakta pahit yang terpapar di depan mata…..sampai semuanya terlambat.

Memerakan Tori, Elizabeth Banks menghembuskan emosi ke dalam elemen keluarga Brightburn sebagai sesosok ibu yang menolak menyalahkan puteranya. Sikap itu bisa dipahami mengingat Brandon ialah balasan atas doanya sesudah sekian lama. Sementara Jackson A. Dunn, bersenjatakan tatapan yang seiring waktu semakin kosong dan tutur kata yang perlahan bertambah dingin, bisa menghidupkan figur “bocah iblis” yang berbeda. Alih-alih berkemampuan supernatural, bocah iblis satu ini sanggup menembakkan laser dari matanya.

Unsur dongeng pahlawan supernya membawa kesejukan bagi genre horor ketika sutradara David Yarovesky (The Hive) mengganti imageries berupa makhluk halus mengintip dari balik kegelapan dengan pembunuh super yang melayang sambil mengintai mangsanya. Pun berkat kemampuan Brandon terbang secepat pesawat jet, Yarovesky berkesempatan merangkai beberapa jump scares unik tanpa kehilangan efektivitas. Kekuatan Brandon juga berjasa mempersembahkan deretan metode membunuh sarat kreativitas, sembari tak lupa memuaskan dahaga para penonton pencari sadisme lewat kekerasan eksplisit.

Barisan gore-nya ialah penebusan setimpal pasca paparan drama ala coming-of-age yang bergulir cukup lambat. Walau lambat, tidak ada filler hampa maupun waktu yang terbuang, lantaran tiap momen senantiasa menampilkan hal gres wacana pengembangan karakter. Pelan tapi pasti, Brandon bertumbuh, akhirnya sewaktu Brightburn mulai membuka “gerbang nerakanya”, kita telah mengamati proses transformasi huruf secara lengkap. Ditambah konklusi yang membuka kemungkinan lahirnya franchise menarik soal sekumpulan supervillain, Brightburn berpotensi memberi kita sesuatu yang gagal diberikan M. Night Shyamalan melalui Glass di awal tahun.