November 30, 2020

[Bukan Review] ‘Hellboy’ Dan Salah Kaprah Soal Sensor

Judul di atas bukan guyonan. Tulisan ini bukan review untuk reboot seri Hellboy, dan saya memang tidak berniat menciptakan review film tersebut. Sebelum menyentuh alasannya, mungkin beberapa dari anda sudah mendengar wacana kontroversi yang beredar di media umum pasca special screening filmnya hari Selasa lalu. Konon, Hellboy jadi korban kekejaman gunting sensor, di mana LEBIH DARI 10 MENIT adegannya dipotong. Bahkan ada yang menyebut “SETIDAKNYA 20 MENIT” sembari melaporkan hal ini kepada Lionsgate. Beberapa komentar bernada serupa kemudian menyusul, dan semua menyuarakan satu hal: LSF SUDAH KETERLALUAN!

Citra Lembaga Sensor Film (LSF) memang jelek jawaban kebiasaan memotong film seenak jidat. Sehingga amarah warganet gampang tersulut tiap kali ada kabar miring soal penyensoran. Ingat warta sensor Avengers: Infinity War yang beredar lantaran perbedaan durasi dengan data IMDb (yang ternyata keliru)? Kasus kali ini mirip. Tapi benarkah realitanya demikian? Tulisan ini dibentuk bukan untuk menyerang atau membela pihak mana pun, melainkan perjuangan meluruskan salah kaprah yang telah usang dianut publik.

Saya akan jelaskan dulu mekanisme penyensoran film, tapi hanya secara garis besar (untuk detail langkah-langkahnya silahkan kunjungi lsf.go.id). Pertama, pemilik film (PH untuk film lokal, agen untuk film luar) mengajukan permohonan sensor disertai penyerahan berkas-berkas.  Selanjutnya, pemilik film menunggu beberapa hari (seingat saya 3-4 hari, sedangkan untuk trailer dan poster sanggup 1-2 hari. Tentatif, tergantung kondisi) hingga turun keputusan, apakah film tersebut lulus sensor atau tidak.

Film yang lulus sensor akan menerima STLS (Surat Tanda Lulus Sensor) yang menyertakan pembagian terstruktur mengenai umur (Semua Umur, 13+, 17+, 21+), sebaliknya, film yang tidak lulus sensor diberikan Surat Tanda Tidak Lulus Sensor (STTLS). Di sinilah salah kaprah kerap terjadi. LSF sudah tidak lagi memotong film. Mereka hanya memberi catatan berupa revisi yang mesti dilakukan semoga lulus. Berikutnya terserah pemilik film. Mereka sanggup pribadi mematuhi revisi atau mengajukan “banding”. LSF sekarang lebih terbuka, bersedia mengadakan obrolan bersama empunya film, bahkan bersdia mengoreksi keputusan sensor apabila didukung alasan kuat.

Hal tersebut juga berlaku bagi PH/distributor yang keberatan akan pembagian terstruktur mengenai usia yang didapat. Contohnya, Film A menerima rating 21+, padahal pemilik film menginginkan 17+. Maka diberikanlah arahan, revisi apa yang perlu dilakukan semoga rating tersebut sanggup didapat. Kesimpulannya, bentuk sensor apa pun, semua dilakukan oleh pemilik film menurut panduan LSF. Istilahnya “sensor mandiri”. Itu sebabnya kita sering mendapati perbedaa gaya sensor. Ada yang menerapkan pemburaman gambar, zoom in, dan yang paling jamak dilakukan, pemotongan.

Bagaimana cara mengetahui film menerima revisi atau tidak? Anda sanggup cek website LSF, tau melihat bumper STLS yang muncul di layar bioskop sebelum film tayang. Jika anda menemukan goresan pena “REV”, artinya film itu menerima revisi. Sebagai contoh, lihat keterangan sensor Deadpool 2 di bawah.



Lalu bagaimana dengan kasus Hellboy? Cukup menarik. Berikut yakni data yang saya sanggup dari halaman LSF:

Tidak ada goresan pena “REV” di sana, dan filmnya memperoleh rating 21+. Tapi coba bandingkan dengan informasi filmnya di halaman Cinema 21 ini:


Ya, ternyata Hellboy tertulis menerima rating 17+, dan ketika saya jadinya menonton, memang itulah rating resminya, lengkap dengan keterangan “REV” di bumper STLS. Apa yang bergotong-royong terjadi? Semakin membingungkan lantaran hingga goresan pena ini dimuat, LSF masih mencantumkan Hellboy sebagai film 21+ tanpa revisi. Saya berasumsi, pihak agen (PT. Prima Cinema Multimedia) mengubah keputusan di saat-saat terakhir. Mungkin mereka merasa rating 21+ berpotensi mencederai potensi komersialitas filmnya, sehingga tetapkan meminta perubahan rating secara dadakan. Apakah melalui konsultasi terlebih dulu dengan LSF mengenai kepingan mana yang perlu dipotong tidak sanggup saya pastikan.

Tapi saya takkan terkejut jikalau itu ternyata tidak dilakukan, dan PCM bergerak cepat (baca: terburu-buru) memotong sebagian besar gore. Karena akan memakan waktu usang apabila menunggu peninjauan ulang LSF untuk pembagian terstruktur mengenai usia baru. Dengan begini, PCM hanya tinggal mengirimkan versi baru. Metode “asal-potong-yang-penting-banyak” ini menjelaskan inkonsistensi sepanjang film, di mana ada momen brutal justru lolos tatkala adegan lain yang lebih “bersahabat” malah dipangkas. Rasanya penjabaran di atas sudah cukup membantah anggapan bahwa LSF yakni (satu-satunya) pesakitan di kasus ini. Walau harus diakui, jikalau LSF tidak mempunyai anutan bodoh soal mana yang pantas dan tidak, kejadian serupa takkan terjadi.

Berikutnya wacana banyaknya pemotongan adegan. Secara resmi, Hellboy punya durasi 121 menit. Saya coba mengukur sendiri. Sampai mid-credits, hasilnya yakni 109 menit. Tapi lantaran “perintah alam”, terpaksa segera meninggalkan ruangan. Sekarang, mari berhitung. Kredit final untuk film blockbuster biasanya cukup panjang lantaran melibatkan banyak pihak, jadi kita asumsikan saja 5-6 menit. Belum lagi ditambah dua credits-scene yang kabarnya cukup panjang, anggap saja total 3 menit. Berarti, kurang lebih Hellboy punya total durasi 117-118 menit. Perhitungan ini senada dengan data dari Cinema 21 (cek gambar di atas) yang mencantumkan durasi 119 menit (biasanya pembulatan dari 118 menit lebih sekian detik).

Kesimpulannya? Koar-koar soal pemotongan 10-20 menit yakni SALAH BESAR alias HOAX! Mungkin penyebar kabar itu jarang menonton film, sehingga tidak sadar bahwa 10, apalagi 20 menit dalam konteks durasi film itu luar biasa lama. Kalau menggunakan patokan standar penulisan naskah, itu sama artinya membuang 10-20 halaman. Saya tahu kalian semua kesal dengan sensor. Saya pun demikian. Tapi alangkah bijak untuk mencari informasi dahulu sebelum menyebar kabar burung.

Tapi bagaimana dengan filmnya sendiri? Apakah masih layak disaksikan di bioskop? Walau kenyataannya “hanya” dipotong 2-3 menit, itu sudah termasuk banyak. Karena jumlah itu didapat lewat adonan banyak momen-momen singkat (5-10 detik). Hampir setiap gore dibuang, padahal saya cukup yakin, 2-3 menit yang hilang itu sanggup memberi dorongan berpengaruh bagi keseluruhan kualitas filmnya. Tanpanya, Hellboy tampil lesu. Tapi saya enggan mencap Hellboy buruk, lantaran tidak adil rasanya menilai film dengan pemotongan sebanyak itu, apalagi yang hilang termasuk salah satu pondasinya.

Sebagai perbandingan, silahkan bayangkan: Anda menonton Iron Man, tapi tanpa lebih banyak didominasi adegan sang satria terbang di angkasa. Apakah kekuatan filmnya melorot drastis? Tentu. Apakah membuatnya tidak layak tonton? Tidak juga. Masih ada kelebihan lain. Tapi maukah anda menonton itu? Silahkan pikirkan baik-baik.