November 24, 2020

Bumi Itu Lingkaran (2019)

Pada masa di mana radikalisme tambah mengkhawatirkan, film menyerupai Bumi itu Bulat bisa menjadi tontonan penting. Dibuat dengan keterlibatan GP Ansor, tidak mengejutkan kalau karya penyutradaraan layar lebar perdana Ron Widodo ini menjadi kampanye anti-radikalisme. Tapi ada satu problem akhir kalimat “Kalau kita tidak bisa bersama, seenggaknya kita bisa saling menghargai”, yang merupakan salah satu jualan utama filmnya.

Mengapa kalimat di atas bermasalah? Bukankah itu pesan hening yang menyejukkan? Karena mengacu pada bagaimana kalimat itu disampaikan, filmya pun mestinya bisa mengajak penonton menghargai eksistensi jajaran Islam garis keras, selama tak menjadikan ancaman secara nyata. Tapi kenapa? Apa perlunya menghargai radikalisme? Bumi itu Bulat gagal menjawab itu.

Karakter utamanya yaitu Rahabi (Rayn Wijaya), anggota grup Rujak Acapella yang membangun kesuksesan via YouTube, dengan jumlah penonton dan subscribers mencapai ratusan ribu. Ciri khas mereka yaitu menyanyikan lagu kebangsaan. Inilah cara filmnya mempromosikan nasionalisme pada penonton muda, dengan menyulap lagu yang mungkin dianggap kurang trendi menjadi nomor akapela keren. Walau dibekali aransemen apik, saya cukup terganggu oleh buruknya lip sync jajaran pemain, ditambah tata bunyi kurang natural, khususnya ketika karakternya bernyanyi tanpa mikrofon. Film kita butuh mencar ilmu membuat adegan live performance supaya terdengar organik.

Nama “Rujak Acapella” sendiri tiba dari variasi identitas anggota, yang terdiri atas bermacam-macam suku, agama, dan gender. Kini mereka mengincar kontrak rekaman, tapi sayangnya, sang produser, Aldi (Arie Kriting), merasa tampang personel Rujak Acapella kuranng menjual, meski mengakui musikalitasnya. Aldi pun mengajukan syarat: Demi menerima kontrak, Rujak Acapella harus memasukkan penyanyi muda berjulukan Aisha (Febby Rastanty) sebagai anggota. Masalahnya, Aisha—walau kebetulan berkuliah di kampus yang sama—telah berhenti bernyanyi pasca berhijrah.

Di tengah penolakan rekan-rekannya, khususnya Tiara (Rania Putrisari), Rahabi bersikeras mendapatkan syarat tersebut. Alasannya, ia membutuhkan uang untuk membiayai sekolah kedokteran adiknya, Rara (Tissa Biani). Rahabi sendiri telah beberapa usang pergi dari rumah akhir pertengkaran dengan ayahnya, Syaiful (Mathias Muchus), yang merupakan anggota Banser. Rahabi merasa sang ayah hanya mementingkan pekerjaan, menelantarkan keluarga, sehingga mengakibatkan meninggalnya sang ibu.

Tapi jalan Rahabi membujuk Aisha jauh dari mulus. Selain kukuh meninggalkan dunia tarik usara, Aisha pun terganggu oleh eksistensi non-Islam di Rujak Acapella. Abi terus memaksakan diri, dan dampaknya, perpecahan mulai terjadi, apalagi sehabis ia menyetujui persyaratan Aisyah, untuk mewawancarai Bu Farah (Ria Irawan), dosen garis keras yang dipecat lantaran menyuarakan ujaran kebencian. Melalui elemen inilah Bumi itu Bulat membawa kita menyusuri kenyataan mengerikan soal betapa mudahnya mekanisme basuh otak radikalisme berlangsung di dunia kampus.

Bumi itu Bulat memposisikan para radikal sepenuhnya sebagai pihak buruk, yang mana saya setujui. Perspektif satu arah dalam film sah-sah saja dilakukan. Namun ketika filmnya membuat Abi berkata, “Kalau kita tidak bisa bersama, seenggaknya kita bisa saling menghargai” kepada Aisha, secara tidak pribadi Bumi itu Bulat mengajak kita menghargai para radikal. Sekali lagi itu sah, selama naskah buatan Andre Supangat berhasil menyuguhkan alasan logis, yang mana gagal dilakukan.  Sampai akhir, saya urung menemukan alasan untuk menghargai tokoh-tokoh menyerupai Aisha atau Bu Farah.

Di luar itu, Bumi itu Bulat dituturkan dengan cukup baik. Kekhawatiran saya bahwa unsur cinta segitiga cheesy antara Rahabi-Tiara-Aisha bakal mendistraksi nyatanya tidak terbukti. Unsur itu disampaikan secara subtil, di mana Tiara terus bertahan sebagai individu tegas, yang mengajukan keberatan atas bergabungnya Aisha, murni lantaran alasan kelompok ketimbang perasaan pribadi. Walau di lubuk hati terdalam hal itu pastinya tetap berkontribusi, Tiara mampu melontarkan opini objektif nan beralasan.

Dramanya turut ditunjang performa solid jajaran pemain. Di antara tim Rujak Acapella, Rania Putrisari paling menonjol berkat lisan serta bahasa kiprah yang mendukung ketegasan karakternya. Mathias Muchus sekali lagi bisa menghembuskan hati biarpun memerankan sosok laki-laki keras, Tissa Biani masih seorang pencuri perhatian yang hebat memancing seyum penonton, sedangkan Christine Hakim tetaplah Christine Hakim yang bakal meninggalkan kesan meski hanya muncul sejenak.

Babak ketiganya dibentuk menurut kejadian dunia faktual kental intoleransi antara umat beragama. Relevan, tapi sayang diakhiri lewat simplifikasi. Di realita, takkan semudah itu meredakan amukan warga yang gampang terprovokasi akhir mabuk agama. Beruntung, menyusul beriutnya yaitu konklusi cheesy tapi menyentuh bagi konflik ayah-anak. Menyentuh, alasannya agar bagaimanapun, lebih banyak didominasi ayah memang pendekar super untuk anaknya.

Saya turut mengagumi ketika Bumi itu Bulat menyelipkan penampilan Rujak Acapella di tengah upacara pembukaan Asian Games 2018 secara cukup meyakinkan. Belum sempurna, tapi setidaknya tampak alamiah. Dan kali ini, lantaran konteksnya bernyanyi memakai mikrofon dan sound system, nyanyian mereka lebih bisa diterima pula terdengar nyaman di telinga.