November 30, 2020

Cats (2019)

Menjadi pertunjukan Broadway terlama keempat sepanjang sejarah, yaitu 18 tahun, dengan total 7.485 pertunjukan (belum termasuk 593 penampilan dalam revival-nya di tahun 2016), penyesuaian layar lebar Cats di atas kertas punya prospek besar, apalagi pada masa di mana gugusan musikal mirip La La Land dan The Greatest Showman menuai kesuksean. Lalu trailer-nya dirilis, menyebar kabar verbal ke mulu negatif perihal kualitas CGI. Filmnya dicela habis kritikus, pun hancur lebur di pasaran dengan raihan opening weekend $6,5 juta. Setidaknya film ini sanggup menciptakan penonton umum dan kritikus satu suara.

Andrew Lloyd Webber menyusun musikalnya menurut buku kumpulan puisi Old Possum’s Book of Practical Cats karya T. S. Eliot, melahirkan kisah perihal sekelompok kucing Jellicle, yang bersiap menghadapi malam istimewa, tatkala beberapa dari mereka berkompetisi memperebutkan kesempatan “diangkat” ke Heaviside Layer guna terlahir kembali dalam kehidupan sesuai impian sang pemenang. Kompetisi macam apa? Satu per satu kucing harus menyanyikan lagu perihal diri mereka, menjelaskan alasan mengapa mereka pantas dipilih oleh Old Deuteronomy (Judi Dench) selaku tetua Jellicle.

Lalu apa lagi? Well, that’s it. Cats adalah 110 menit berisi perkenalan karakter. Apa kriteria pemenangnya? Jangankan itu, membedakan nyanyian mana yang bersifat “kampanye” dan mana yang sekadar bentuk perkenalan (baca: penambal durasi) saya susah. Cukup sekali bernyanyi, kemudian selesai. Tidak ada penggalian lebih jauh mengenai “kenapa si A pantas sedangkan si B tidak”, sampai Old Deuteronomy menentukan pemenang alasannya tersentuh oleh balada mengharu biru soal penderitaan. Rupanya ini merupakan kontes berupa “siapa yang lebih menderita”.

Saya membenci kucing yang terpilih. Sebagaimana sinetron kita, yang ia lakukan sepanjang film hanya menangis, menyesali kesialan, kemudian menangis lagi. Saya juga benci Victoria (Francesca Hayward), selaku protagonis dengan fungsi eksistensi mendekati nol. Lagu-lagu catchy cenderung cheesy yang mengisi nyaris sepanjang durasi pun tak kuasa meredam kebencian itu. Bahkan kebanyakan lagunya mirip sakarin. Manis bila dikonsumsi secukupnya, tapi bikin mual jikalau berlebihan, yang mana dilakukan film ini.

Konon Cats menyimpan alegori bernada religi. Benarkah? Andrew Lloyd Webber meyakini itu, dan sepertinya, Lee Hall (Pride and Prejudice, Rocketman) dan sutradara Tom Hooper (The King’s Speech, Les Misérables) sebagai penulis naskah juga berpikiran sama. Masalahnya, kisah ini berasal dari light poetry, yang mirip namanya, memang bersifat kasual, lucu, ringan (walau beberapa penulis menimbulkan medium ini untuk menuturkan pokok bahasan serius secara subtil). Dan Cats menanggapi ketaknormalan yang dituangkan T. S. Eliot dengan serius. Terlalu serius, filmnya menganggap polah kucing, yang sering melongo sambil menatap kosong sebagai acara spiritual.

Bagaimana dengan CGI yang ramai dibicarakan itu? Harus dipahami dulu kenapa Cats versi musikal tidak menderita duduk perkara serupa. Poinnya yaitu garis batas realita dan dunia rekaan, yang coba ditembus masing-masing versi. Pertunjukan panggungnya tak coba menjadi realis. Sedetail apa pun, niscaya ada elemen estetis hiperbolis atau eksprsionisme dalam dekorasi panggung, tata kostum, dan rias. Alhasil, kejanggalan yang tak sesuai realita bersedia penonton terima. Sebaliknya, Cats versi film menggunakan pendekatan fotorealistik, lewat teknologi digital fur dan motion capture. Filmnya ingin penonton menerima pengalaman senyata mungkin.

Dampaknya? Sedikit saja kejanggalan bakal mengganggu, dan kejanggalan pada Cats tidaklah sedikit. Kucing-kucingnya tampak kolam produk eksperimen laboratorium gagal. Judi Dench dalam balutan bulu-bulu lebat duduk dengan empat kaki, pasukan kecoa serta tikus berwajah insan yang penempatannya tak sinkron, Idris Elba sebagai Macavity si antagonis dengan kontur badan terlihat jelas—berbeda dengan kucing lain, bulunya tipis—hingga membuatnya mirip telanjang bulat, merupakan beberapa pola pemandangan yang berpotensi menciptakan penonton bermimpi buruk. Pun tak mirip musikalnya, hampir seluruh wajah pemain film dibiarkan layaknya insan biasa, tanpa riasan, menjadikannya makin aneh. Makin hancur filmnya, saat nama-nama mirip James Corden dan Rebel Wilson berusaha melucu, melaksanakan gestur-gestur konyol, yang justru tampak angker akhir rendahnya kualitas CGI. 

Tidak adakah poin positif di sini? Ada beberapa. Ian McKellen sebagai Gus the Theatre Cat menghantarkan satu-satunya nomor musikal berperasaan tanpa harus bercucuran air mata dan ingus mirip Jennifer Hudson; sekuen perkenalan Skimbleshanks (Steven McRae) si kucing penunggu rel kereta api dikemas cerita, cukup imajinatif, lengkap dengan lagu Skimbleshanks: The Railway Cat yang unik dan menyenangkan; sementara Taylor Swift sebagai Bombalurina si kucing betina penggoda yang jahat mungkin jadi satu-satunya penampil yang sadar sedang berada di film mirip apa, kemudian memerankan karakternya kolam antagonis film-film kelas B yang over-the-top. Tapi segelintir keunggulan di atas menyerupai satu hari terang dalam seminggu yang dipenuhi hujan angin puting-beliung dan banjir bandang.