November 23, 2020

Charlie’s Angels (2019)

Woman can do anything”, ucap Sabina Wilson (Kristen Stewart) membuka filmnya, seolah eksklusif menegaskan niat Elizabeth Banks, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, membawa Charlie’s Angels dari eye candy pemuas fantasi lelaki di dua installment pertama (ini sekuel, bukan remake maupun reboot) menjadi hidangan empowerment. Tapi dalam prosesnya justru menciptakan film ini tampil jauh lebih kolot dari dua karya McG tersebut, yang notabene mengambil pendekatan campy cenderung mengarah ke parodi.

Kini Townsend Agency milik Charlie, si laki-laki misterius yang hanya bisa didengar suaranya lewat interkom, telah melebarkan sayap merambah dunia internasional berkat inisiatif John Bosley (Patrick Stewart menggantikan Bill Murray). Beberapa cabang dibuka di banyak sekali serpihan dunia yang dikelola oleh banyak Bosley. Ya, di sini “Bosley” bukan sebatas nama individu, pula sebuah jabatan.

Misi para Angel kali ini tiba ketika ilmuwan berjulukan Elena Houghlin (Naomi Scott), khawatir kalau teknologi buatannya yang berfungsi menyediakan sumber energi, berpotensi disalahgunakan sebagai senjata berbahaya. Di bawah komando Susan (Elizabeth Banks) si mantan Angel yang kini merupakan salah satu Bosley, Sabina dan Jane Kano (Ella Balinska) harus terjun dalam petualangan yang diisi terlalu banyak pengkhianatan konyol serta rentetan agresi medioker.

Seperti telah saya sebutkan, dua film Charlie’s Angels pertama memang disengaja tampil campy, sehingga kekonyolan-kekonyolannya sanggup dimaklumi, bahkan dinikmati. Tapi versi terbaru ini, biarpun tetap dibumbui banyak humor (yang tidak seberapa lucu), terperinci ingin lebih serius. Karena itulah cara Elizabeth Banks membangun kisahnya mirip salah tempat. Pada film bertema spionase, kejutan beraroma pengkhianatan yaitu elemen biasa. Banks menerapkan itu, namun dosisnya keterlaluan, Charlie’s Angels pun menyerupai film kelas B yang menolak (atau tidak sadar?) dianggap demikian.

Ketika satu jenis twist diterapkan berulang kali, daya kejutnya berkurang. Charlie’s Angels membuat saya hingga di titik enggan memperhatikan alurnya lagi, juga malas memikirkan bagaimana hal “A” bisa menjadi “B”, atau kenapa seorang huruf yang tadinya bersikap “C” berubah jadi “D”. Naskah Banks mirip dibentuk menggunakan prinsip warganet, yaitu “pokoknya nge-twist!”. Tidak peduli kejutan itu tidak masuk akal, mencurangi penonton, tiba entah dari mana, atau bahkan merusak penokohan sebagaimana pernah dilakukan salah satu franchise spionase besar lain (can’t tell you which movie).

Dahulu, McG menggunakan teknik wire-fu sebagai cool factor bagi adegan agresi dua film Charlie’s Angels. Alih-alih muncul dengan metode keren lain yang lebih modern, Banks memutuskan tampil tanpa gaya, membungkus agresi secara apa adanya menggunakan quick cuts dan pergerakan kamera chaotic yang sukar dinikmati. Koreografi medioker bertempo terlampau lambat turut memperburuk keadaan. Mana mungkin misi empowering yang filmnya usung tersampaikan kalau sepak terjang para jagoannya gagal mencuri perhatian.

Satu-satunya penyelamat yaitu penampilan trio Angels, walau sayangnya mereka tidak memperoleh bahan yang layak. Ella Balinska paling meyakinkan sebagai Angel, bersenjatakan kemampuan bela diri terbaik dan gestur serta verbal natural dalam melakoni langgar maupun baku tembak. Keliaran Stewart, kecanggungan menggelitik Scott, sama-sama menghibur. Tapi sulit menampik kesan bahwa mereka yaitu dua kendaraan beroda empat sport yang dikendarai kolam city car. Semestinya Banks bisa memacu keduanya lebih kencang lagi, memberi bahan yang lebih abnormal lagi.

Bicara soal empowerment, blunder terbesar Charlie’s Angels hadir jelang selesai kala mengubah mitologi panjang serinya atas nama kesetaraan. Bukan persoalan andai filmnya berstatus reboot atau remake. Tapi sebagai suatu kelanjutan cerita, continuity error-nya memancing pertanyaan, “Apakah Elizabeth Banks belum menonton serial atau film-film sebelumnya? Atau ia memang tidak peduli?”.