November 25, 2020

Child’s Play (2019)

Perubahan radikal—karena kurangnya pemahaman si pembuat akan versi orisinil atau ambisi tampil beda—cenderung merusak remake/reboot. Child’s Play karya Lars Klevberg (Polariod), selaku remake film berjudul sama rilisan tahun 1988, menerapkan modifikasi ekstrim, bahkan Don Mancini, sang kreator original yang terus terlibat menulis dan/atau menyutradarai sampai seri ketujuh (Cult of Chucky, 2017), blak-blakan merasa tersinggung dan menolak terlibat sedikitpun.

Menariknya, perubahan yang dilakukan oleh naskah buatan Tyler Burton Smith bukan sekadar gaya-gayaan. Ada tujuan niscaya yang menciptakan filmnya Istimewa sekaligus salah satu installment terbaik serinya. Persamaan fundamental antara visi Mancini dan Smith yaitu selipan kritik terhadap budaya konsumerisme.

Teror Chucky berawal saat Karen (Aubrey Plaza) membawa pulang boneka Buddi (Mark Hamill) yang mengalami kerusakan dan akan diretur dari supermarket tempatnya bekerja. Karen berniat mengakibatkan boneka itu kado ulang tahu bagi putera semata wayangnya, Andy (Gabriel Bateman). Buddi sendiri merupakan boneka revolusioner yang selain berkomunikasi, sanggup juga terhubung dengan segala barang atau layanan ciptaan Kaslan Corporation (pemutar musik, lampu, taksi online, dan lain-lain).

Sial bagi Andy, Buddi miliknya—yang kelak menamai dirinya sendiri “Chucky”—adalah boneka yang disabotase oleh salah satu buruh pabrik Kaslan di Vietnam, yang sakit hati sesudah dipecat. Tidak ada ilmu Voodoo Haiti, tidak ada penjahat sekarat yang memindahkan jiwanya, hanya ada boneka canggih malfungsi. Ketimbang horor supernatural, Child’s Play lebih mendekati tema “RoboCalypse”, sesuatu yang sempat disinggung oleh salah seorang karakter.

Awalnya saya terkejut, geleng-geleng kepala, memahami bahkan mendukung protes Don Mancini. Sampai modifikasi radikal tersebut memperlihatkan maksudnya. Tanpa ada roh penjahat keji di tubuhnya, Chucky hanya boneka yang berbeda (baca: dianggap aneh). Sama menyerupai Andy, yang kesulitan menjalin relasi sosial. Bagai dua sosok terbuang yang saling menemukan, saling mengisi, menghadirkan kehangatan yang tak saya kira bakal dimiliki film menyerupai Child’s Play.

Chucky menciptakan Andy bahagia, bahkan membukakan jalannya menemukan sobat sungguhan, yaitu Falyn (Beatrice Kitsos) dan Pugg (Ty Consiglio). Ketika tiga bocah usil plus satu boneka asing berkumpul, tentu kekacauan terjadi. Kekacauan menyenangkan, sebab Tyler Burton Smith memanfaatkan paruh awalnya untuk mempresentasikan komedi, yang rasanya sesuai dengan selera humor Klevberg, sehingga memudahkan sang sutradara mengonversinya menjadi paparan visual yang efektif memancing tawa. Ketiadaan kekhawatiran kalau filmnya berakhir terlampau konyol atau abstrak merupakan kunci keberhasilan humornya. Tengok adegan “ekspresi menakutkan Chucky”.

Barulah pelan-pelan, begitu Chucky memasuki “mode membunuh”, aroma horor mulai menguat. Biar demikian, Child’s Play tidak serta merta banting setir ke arah slasher generik. Selain fakta kalau beberapa korban memang pantas menerima eksekusi setimpal, Chucky tetap aksara simpatik (setidaknya di beberapa masalah awal) yang menghabisi nyawa insan sebab sakit hati, pula demi merebut perhatian Andy. Walau mempunyai hati, bukan berarti elemen horornya lembek tanpa taji. Klevberg memperlihatkan beberapa jump scare solid, dan pastinya metode membunuh kreatif, brutal, over-the-top, bahkan sesekali erat sentuhan komedi gelap.

Ketika Aubrey Plaza nampak kolam sebuah miscast (pasca formasi momen deadpan menggelitik khasnya, talentanya tak termanfaatkan), Mark Hamill menandakan diri sebagai pilihan sempurna. Pernah mengisi bunyi Joker, Hamill tidak kesulitan menyuarakan sosok boneka pembunuh. Keduanya sama-sama monster mengerikan yang sanggup membuatmu merinding di malam hari hanya dengan mendengar bunyi mereka.

Satu-satunya kekecewaan mungkin berasal dari kurang berhasilnya film ini memanfaatkan potensi kegilaan di teror puncaknya, yang berpeluang memberi teladan andai suatu hari nanti proyek pembiasaan film Five Night at Freddy’s mendapatkan lampu hijau. Tapi itu cuma gangguan minor dibanding segala kesenangan yang ditawarkan, sama menyerupai perubahan ekstrim yang tak lagi jadi problem berkat dampak jauh lebih besar yang dihasilkan.