November 27, 2020

Cinta Itu Buta (2019)

Mengadaptasi film Filipina berjudul Kita-Kita, karya penyutradaraan teranyar Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel…I’m in Love) sehabis bolos 11 tahun lamanya semenjak Lost in Love ini ialah film pertama yang total memaksimalkan potensi komedi Dodit Mulyanto. Memasang Dodit sebagai bintang film utama membuatnya lepas, bebas melontarkan ide-ide humor gilanya. Konyol. Terlalu konyol malah, hingga Cinta itu Buta lalai meluangkan waktu membangun rasa, yang mana substansial dalam paparan romansa.

Berlatar di Busan, Korea Selatan, tokoh sentralnya ialah Diah (Shandy Aulia), pemandu wisata yang selama tiga tahun terakhir telah bertunangan dengan laki-laki lokal, Jun-ho (Chae In-woo), namun ijab kabul keduanya tak kunjung tiba, lantaran Jun-ho selalu beralasan bahwa ia belum siap. Kemampuan Shandy melafalkan obrolan menggunakan Bahasa Korea patut diapresiasi, namun cara bertuturnya mengganggu. Saya memahami intensi mereplikasi protagonis perempuan drama Korea yang kerap bicara dengan aegyo, tapi bukan berarti gaya itu pantas diterapkan di semua situasi.

Suatu malam, Diah jadinya mengetahui alasan Jun-ho menunda pernikahan. Begitu terpukul, Diah pun kehilangan penglihatannya—membuat karakternya menderita penyakit terperinci satu dari banyak sekali unsur yang diterapkan naskah buatan Fanya Runkat dan Renaldo Samsara (I Am Hope) supaya Cinta itu Buta tampil kolam drama Korea. Anehnya, di pagi hari berikutnya, Diah sudah andal berjalan menggunakan tongkat. Padahal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ditambah lagi (seharusnya) psikis Diah masih terguncang.

Tapi biarlah. Setidaknya pasca kejanggalan itu, filmnya memasuki babak gres yang jauh lebih menyenangkan berkat kehadiran Nik (Dodit Mulyanto), yang mengunjungi Korea sebagai bentuk pelarian sakit hati sehabis diselingkuhi tunangannya. Nik ngotot membantu Diah, membawakan makanan tiap pagi walau sang gadis menolak menyentuhnya. Lambat laun Diah luluh, membiarkan Nik memasuki kehidupannya, membuatnya menyadari bahwa tanpa melihat pun, ia tetap bisa merasa.

Kedatangan Nik bukan saja mengubah hidup Diah, juga jalur filmnya, yang banting setir ke ranah komedi-romantis, dengan proporsi komedi jauh lebih besar. Di sinilah Dodit bersinar, melepaskan banyolan-banyolan gombal khasnya, disertai kelakar-kelakar aneh, yang semakin abstrak justru semakin efektif memancing tawa. Beberapa polahnya bakal terus menggelitik, bahkan sehabis filmnya usai, dari teriakan norak Nik kala memanggil Diah tiap pagi, hingga improvisasinya di adegan “dangdut”.

Tapi bagi Cinta itu Buta, kelucuan Dodit mirip investasi jangka pendek. Selama paruh kedua, filmnya tampil menarik, kemudian menjadi bumerang kala menginjak babak selesai yang mengedepankan elemen drama romantis. Benar bahwa membuat dua tokoh utama tidak melulu tampil serius merupakan formula ampuh pemancing simpati penonton alasannya ialah kita merasa bersenang-senang bersama mereka, namun kedua protagonis film ini sama sekali tidak pernah serius. Tawa yang hadir sekadar melahirkan kekonyolan, bukan membangun warna hubungan. Alhasil, dampak emosional yang semestinya muncul menurut gagasan cantik “Saat bisa melihat, kau tidak bisa melihatku, tapi ketika tidak bisa melihat, kau gres bisa melihatku”, gagal tersalurkan.

Kondisi semakin diperburuk oleh kekacauan penceritaan. Atas nama kejutan, gerakan alurnya kerap membuat disorientasi waktu. Pun konklusi yang menentukan menggantungkan tanda tanya ketimbang habis-habisan mengaduk rasa, ikut mengundang kejanggalan. Padahal jikalau drama Korea klasik jadi contoh (keberadaan penyakit hingga nasib jelek yang tiba-tiba menimpa, mengingatkan pada judul-judul mirip Autumn in My Heart, Stairway to Heaven, dan lain-lain), Cinta itu Buta seharusnya bersedia menyentuh ranah melodrama daripada bersikap “malu-malu tapi mau”.