October 31, 2020

Coco (2017)

Rilisan Pixar dikenal atas kemampuan mengobrak-abrik perasaan penonton, tapi aspek yang paling saya kagumi ialah kepintaran membangun dunia imajiner yang tersusun rapi, budaya, serta “tata aturan” menurut pernak-pernik kehidupan di sekitar. Setelah serangga, mainan, makhluk laut, monster, satria super hingga isi otak manusia, Coco kembali membawa Pixar dalam ciri terbaiknya, mengangkat Dia de los Muertos alias Day of the Dead, yakni hari perayaan di Meksiko untuk mengenang arwah leluhur. Oleh duo penulis naskah Adrian Molina dan Matthew Aldrich, hari sakral tersebut jadi sarana menuangkan gagasan sekaligus curahan perihal korelasi seseorang dengan keluarganya.

Keluarga merupakan rumah, kawasan bernaung di mana anggotanya saling menyokong. Tapi seringkali kita merasa itu hanya konsep kelewat bijak yang jauh dari realita. Miguel (Anthony Gonzalez) berada di kondisi serupa. Baik orang bau tanah maupun sang nenek gemar berceramah soal betapa penting dan berharganya keluarga, namun Miguel beropini sebaliknya. Ikatan itu tak dirasakan, khususnya akhir larangan bermain musik yang telah diterapkan turun temurun. Konon, larangan itu bermula sesudah kakek buyut Miguel meninggalkan istri dan anaknya demi mengejar karir bermusik. 
Kisah protagonis mengejar mimpi di tengah larangan keluarga, meski bakal selalu relevan terang amat familiar sehingga rawan repetisi. Tapi konflik itu rupanya sekedar pemicu untuk membuka jalan menuturkan kisah yang jauh lebih segar pula bermakna. Mengetahui bahwa idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt) sang musisi paling tersohor merupakan kakek buyutnya sendiri, Miguel memantapkan hati meraih impiannya. Di situlah insiden absurd terjadi. Gitar Ernesto melemparkan Miguel ke dunia orang mati, membawanya bertemu para leluhur yang selama ini cuma dia kenal melalui foto dan warisan cerita. 

Di Land of the Dead yang dihiasi visual menggetarkan dengan kekayaan detail tekstur, kelap-kelip lampu meriah, kilauan kelopak Aztec marigold bertebaran di tanah, dan binatang roh beraneka warna berjulukan alejibre yang beterbangan, perjuangan Miguel kembali ke alam insan dibantu arwah leluhurnya dimulai. Coco pun bergerak menyoroti esensi Dia de los Muertos selaku perenungan koneksi antara insan hidup dan yang telah tiada, seiring perjuangan huruf utama memahami makna koneksi dengan keluarga. Berperan memantapkan pondasi dunianya, Molina dan Aldrich cerdas memanfaatkan banyak sekali elemen Dia de los Muertos, sebutlah foto leluhur di ofrenda (altar persembahan) sebagai kunci presentasi tema.
Seperti setting-nya yang misterius pula kerap mengejutkan Miguel, filmnya menyimpan beberapa kejutan yang menjaga dinamika sambil menambah bobot emosi. Pun terkait dinamika, walau bercerita soal kematian, Coco tetap menunjukkan sentuhan komedi supaya tidak terjerembab ke ranah terlampau kelam. Sumber humornya bermacam-macam, mulai anomali tingkah serta anatomi penghuni Land of the Dead yang berwujud tengkorak hingga hal-hal kecil contohnya kemunculan sekilas alejibre kodok. Kebanyakan berkesan absurd, yang mana sesuai dengan kecacatan situasi yang Miguel alami. 

Jika anda mengakibatkan Pixar wahana mencari haru, Coco bakal memuaskan. Dari animasi surgawi yang tepat melukiskan afterlife sampai kepiawaian Lee Unkrich (Finding Nemo, Toy Story 3, Monsters, Inc.) merangkai adegan yang mencerminkan rasa momen kekeluargaan berharga. Selaras dengan mimpi Miguel, Unkrich memberi peranan penting pada lagu dalam meluapkan emosi. Tatkala nomor Remember Me dilantunkan lembut untuk terakhir kali, di situ seluruh aspek film (senstivitas pengisi suara, musik, detail animasi kerutan wajah Mama Coco) menyatu, sebagaimana keping-keping ceritanya bermuara, menjawab alasan mengapa judul “Coco” dipilih. Coco mengingatkan biar kita menyimpan memori perihal orang-orang tersayang yang sudah pergi sembari meyakini mereka pun mengingat kenangan bersama kita dahulu. Hingga suatu hari kita bersama mereka lagi.