November 20, 2020

Crawl (2019)

Begitu kredit bergulir, lagu klasik See You Later Alligator milik Bill Haley (kemungkinan dari sini nama protagonisnya berasal) dimainkan. Lagu ceria yang terdengar menggelitik, mengingat Crawl adalah horor ihwal serangan aligator. Mendengar lagu tersebut, saya berandai-andai, “Mungkin sebaiknya, keseluruhan film ini menerapkan pendekatan serupa”.

Bukan berarti menjadi presentasi campy layaknya seri Lake Placid, tapi melucuti drama keluarga murahan miliknya terang takkan menghasilkan efek buruk. Pun bisa dirasakan betapa sutradara Alexandre Aja (High Tension, The Hills Have Eyes, Piranha 3D) beserta duo penulisnya, Shawn dan Michael Rasmussen (The Ward, The Inhabitans), tidak besar lengan berkuasa berlama-lama berkutat di keseriusan, sampai sesekali mencoba “nakal” dengan menyelipkan guyonan.

Kisahnya mengedepankan sosok Haley Keller (Kaya Scodelario), atlet renang yang dalam adegan pembuka, diperlihatkan gres mengalami kekalahan di suatu didik tanding. Hubungan Haley dengan sang ayah, Dave (Barry Pepper), renggang. Padahal, dahulu Dave merupakan instruktur renang Haley, yang selalu menyebutnya “apex predator”, sebagai motivasi supaya sang puteri urung menyerah.

Segala warta tersebut muncul pada 10 menit pertama, sebagai upaya overshadowing klise mengenai apa yang tokoh utamanya harus hadapi kala terperangkap di rubanah yang terendam air akhir angin kencang kategori 5, bersama beberapa ekor aligator. Haley harus mengembalikan iman diri dengan menggunakan talentanya (berenang), untuk melawan predator yang punya habitat natural di air, guna mengambarkan statusnya sebagai “apex”. Tentu saja pertarungan itu juga berperan mendekatkan Haley dan Dave.

Bentuk overshadowing di atas, menegaskan ketidakcakapan kedua penulis, yang ibarat terpaksa bermain sesuai pola. Pilihan waktu bagi penempatan momentum emosionalnya hampir selalu canggung, seringkali menghancurkan intensitas, pula diisi dialog-dialog cheesy yang bakal membuatmu merinding tanpa perlu melibatkan terkaman aligator.

Setiap drama merangsek, Crawl kehilangan pijakan. Beruntung, selaku horor soal aligator, film ini bersinar dikala sang monster unjuk gigi. Aja tak berinovasi, namun menunjukkan kapasitas sutradara horor berpengalaman yang menguasai metode memaksimalkan formula. Berbeda dibanding paparan dramanya, jump scare milik Aja dibungkus timing sempurna, sampai selalu berhasil menghentak. Aja pun jeli mengkreasi creepy imageries. Kuncinya satu: Seutuhnya mengakibatkan aligator monster ketimbang binatang buas biasa. Bahkan di sebuah kesempataan, aligator yang muncul di belakang protagonis nampak kolam monster mistis dari horor supernatural (werewolf was the first one that came to mind).

Serahkan kepada Alexandre Aja perihal menyiksa karakter-karakternya. Mereka merangkak di rubanah gelap nan kotor, becek, dan saya yakin beraroma busuk. Tubuh mereka basah, berantakan, juga bersimbah darah akhir luka-luka, yang seiring waktu berlalu, makin fatal. Dan sudah bisa diduga, Aja kembali piawai memuaskan hasrat penonton pencari sadisme.

Mendapat siksaan sedemikian rupa (karakternya), totalitas Kaya Scodelario pun pantas sanggup perhatian. Benar bahwa ia tak mempunyai kesubtilan atau kemampuan olah emosi tingkat tinggi, yang menimbulkan tuturan dramanya makin tak karuan, tetapi ia ialah scream queen bertalenta dengan teriakan yang bisa memantik adrenalin, sekaligus protagonis menghibur. Sewaktu sesekali para penulisnya bosan memainkan keseriusan kemudian usil melontarkan humor, Kaya berhasil menanganinya.

Memasuki babak ketiga, makin banyak aligator terlibat, sementara cuaca enggan berhenti menggila, yang sejatinya memberi panggung tepat bagi klimaksnya. Sayang, sekali lagi Crawl tertahan oleh pagar yang dipasang sendiri. Pagar berbentuk penolakan tampil campy. Alhasil, tercipta batasan ihwal apa saja yang bisa ditampilkan. Alih-alih berpikir kreatif demi memecahkan keterbatasan itu, para penulis menentukan menyeleaikan filmnya, tatkala masih banyak hal yang bisa ditawarkan.