November 24, 2020

Crazy Romance (2019)

Situasi berulang, dialog soal hidup ditemani berbotol-botol soju, kerap mengambil latar cafe, mungkin Crazy Romance adalah jawaban dari pertanyaan, “Apa jadinya jikalau Hong Sang-soo menggarap tontonan arus utama yang ringan?”. Walau belum sepenuhnya berhasil memenuhi ambisinya dalam bercerita, sutradara sekaligus penulis naskah Kim Han-gyul melahirkan debut yang paling tidak sanggup mencerahkan hari penontonnya.

Alkisah, Jae-hoon (Kim Rae-won) dan Sun-young (Kong Hyo-jin) merupakan sahabat sekantor dengan nasib serupa, yakni sama-sama gres mengakhiri kekerabatan cinta. Bedanya, Jae-hoon kesulitan bangkit, mabuk-mabukkan siang-malam, dan selalu menghubungi mantan tunangannya meski tak direspon, sedangkan Sun-young mantap melangkah maju sesudah kekasihnya berselingkuh. Kita hafal betul titik destinasi kisah macam ini, namun Crazy Romance melalui perjalanan cukup panjang nan pelik sebelum mencapai sana.

Gagal move on membuat Jae-hoon ragu menjual apartemen yang sempat ia tinggali bersama sang mantan. Dia takut menatap realita, sebagaimana ketakutannya menyambangi tempat kamar, menyiratkan ada kejadian traumatis terjadi di situ. Jae-hoon terpaksa tidur di ruang tengah yang berantakan, sama berantakannya dengan hatinya. Sementara di suatu malam, Sun-young dikejutkan ketika menemukan apartemennya berserakan kolam kapal pecah. Mantannya melaksanakan itu, ibarat halnya si laki-laki berusaha mengobrak-abrik hidup Sun-young.

Di malam yang sama, Jae-hoon menelepon Sun-young selama dua jam. Masalahnya Jae-hoon selalu tak bisa mengingat perbuatannya tiap mabuk. Dari situ interaksi Jae-hoon dengan Sun-young mulai intens, menenggak soju bersama dari cafe ke cafe, pelan-pelan saling menggoda, hanya untuk melupakan semuanya di pagi hari.

Di bawah imbas alkohol, seseorang cenderung berani bicara jujur. Bukan saja kedua protagonis, rekan-rekan kantor mereka pun melaksanakan hal serupa kala bicara blak-blakan mengkritik si bos sempurna di depan wajahnya. Crazy Romance memang membahas soal kejujuran. Bagaimana hilangnya kejujuran berujung menyakiti karakternya, menjadikan mereka juga kehilangan keberanian berkata jujur. Kim Han-gyul memaparkan proses dua individu yang sama-sama mencar ilmu menanggalkan kepura-puraan.

Sebagai debutan, keberanian Han-gyul bermain dengan kesubtilan dalam kisah yang mengandung beberapa layer patut diacungi jempol, walau sebenarnya, ia tampak masih kerepotan menanganinya. Crazy Romance mengangkat setumpuk tema: alkoholisme, konflik dunia kerja, kultur bergunjing, perjuangan move on, hingga ihwal perselingkuhan. Memakai dialog ke sana kemari karakternya yang bicara di bawah imbas alkohol, Han-gyul tak bisa merangkum semuanya secara rapi.

Membantu menjelaskan detail karakterisasi dua tokoh utama, kegiatan tukar pikiran mereka memunculkan tanda tanya. Apakah dialog tersebut bertujuan melontarkan gosip semata (Hong Sang-soo dan Richard Linklater gemar menerapkan pendekatan ini) atau berniat mengatakan solusi? Han-gyul kesulitan memilih pilihan. Alhasil, acap kali bukannya perenungan, justru kesan numpang lewat yang muncul. Serupa Jae-hoon, sesudah berakhir, kita akan melupakan esensi pembicaraan itu.

Han-gyul pun belum cukup jeli merangkai runtutan proses terjalinnya cinta di antara dua tokoh utama. Pilihan menciptakan mereka sering menyembunyikan, bahkan berbohong ihwal perasaan masing-masing balasannya jadi senjata makan tuan. Kurang ada kejelasan tekait transisi jalinan rasa di antara Jae-hoon dan Sun-young, yang mana penting guna menciptakan penonton memedulikan nasib kekerabatan mereka. Beruntung,  Kim Rae-won dan Kong Hyo-jin bisa jadi juru selamat.

Chemistry mereka cair, sementara secara individu, kepiawaian menampilkan “dua wajah” menjadi kunci. Rae-won meyakinkan sebagai laki-laki menyedihkan berhati emas, begitu pula Hyo-jin sebagai sosok tangguh yang sekilas hambar dan individualis, namun sejatinya tak kalah ringkih dan membutuhkan orang lain. Menyenangkan melihat mereka duduk bersama. Di luar kelemahan-kelemahan penuturannya, tak bisa disangkal, Crazy Romance memang menyenangkan. Apalagi humornya mempunyai daya bunuh cukup tinggi. Kim Han-gyul tahu cara memaksimalkan kejenakaan gila yang berpotensi terjadi kala berbotol-botol soju mengambil alih pikiran seseorang.