November 28, 2020

Darah Daging (2019)

Menonton Darah Daging meninggalkan rasa gatal luar biasa. Bukan lantaran kualitasnya hancur-hancuran, malah sebaliknya, debut penyutradaraan Sarjono Sutrisno yang sebelumnya lebih banyak menduduki dingklik produser direktur ini berpotensi jadi salah satu film Indonesia paling menarik tahun ini, andai ditunjang naskah yang mampu mewujudkan gagasan apiknya. Konon, proses penulisan Beby Hasibuan (Tebus, Valentine) berjalan sekitar sembilan tahun dan menghasilkan 32 draft! Sayangnya kuantitas tak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Sepuluh hari jelang dihukum mati, Salim (Donny Alamsyah) dikunjungi oleh Hanna (Estelle Linden) yang berniat melaksanakan wawancara sebagai materi novel terbarunya. Materi wawancaranya ialah kasus perampokan 14 tahun kemudian yang menjembloskan Salim ke penjara, di mana nyawa puluhan orang melayang. Kemudian alurnya melompat ke insiden tersebut, memperlihatkan Salim bersama Arya (Ario Bayu), Rahmat (Rangga Nattra), Fikri (Arnold Leonard), dan Borne (Tanta Ginting), bersiap menjalankan agresi merampok bank.

Berikutnya kita dibawa menyaksikan flashback dalam flashback, yang berfungsi menjelaskan latar belakang tiap tokoh. Salim erat dengan Rahmat—yang merupakan adik Arya serta abang Fikri—sejak kecil. Mereka setuju merampok bank akhir kesulitan finansial, dan demi memperoleh senjata, direkrutlah Borne, sepupu Salim yang justru kerap memancing masalah. Tidak menyerupai keempat rekannya, Borne bukan “orang bermoral yang melaksanakan hal tak bermoral akhir himpitan ekonomi”.

Bank daerah Fikri bekerja jadi target. Alasannya? Fikri sakit hati akhir seruan tunjangan uangnya ditolak, alasannya ialah ia masih berada di masa percobaan. Tentu saja ditolak. Di luar fakta yang menciptakan Fikri terkesan sebagai seorang bocah manja tak tahu diri sehingga kurang simpatik itu, Beby Hasibuan bisa menangani dua lapis flashback-nya dengan rapi. Baik kerancuan timeline maupun lompatan bernafsu antara latar waktu berhasil dihindari. Sayang, penanganan terhadap gaya alur non-liniernya berujung mengurangi dampak emosi di penghujung kisah.

Masalah terletak pada faktor “kapan”. Darah Daging tersusun atas beberapa tragedi, dan seringkali alurnya terbalik, memunculkan dahulu suatu bencana tanpa lebih dulu memperkenalkan info dasar, menyerupai detail karakterisasi atau penggambaran relasi antar tokoh. Penonton diperlukan peduli, bahkan menangisi nasib orang-orang yang belum dikenal baik. Andai problem struktur itu dibenahi, saya yakin konklusinya, yang turut menyelipkan sebuah twist, bakal efektif mengaduk-aduk perasaan, tatkala alasan mengapa film ini berjudul Darah Daging terungkap.

Padahal, jajaran pemainnya bisa menampilkan penampilan cukup baik, walau belum pantas disebut luar biasa. Ario Bayu dengan wajah tegas dan perawakan kokohnya tampak meyakinkan sebagai laki-laki ditempa kerasnya realita. Begitu pun Donny Alamsyah yang dituntut secara bertahap, memperlihatkan kehancuran batin Salim. Ada satu kekurangan. Entah lantaran penghantaran pemain atau buruknya sound mixing, beberapa baris kalimat terdengar kurang jelas, apalagi ketika beradu dengan suara-suara sekitar.

Bisa ditebak, perampokan tersebut berujung kekacauan, yang nantinya menyulut baku tembak. Jangan harapkan gelaran agresi menegangkan, alasannya ialah kebodohan-kebodohan yang dipaksa masuk demi dramatisasi, beberapa kali ditemui. Manusia mana yang nekat mengendarai mobilnya melewati sentra baku tembak? Mustahil kerusuhan yang pastinya bising itu gagal disadari. Dan bukan cuma sekali, tapi dua kali! Atau ketika salah satu aksara menggendong aksara lain yang sedang sekarat ke rumah sakit melewati jalan raya ramai, alih-alih mencoba menghentikan kendaraan untuk menumpang.

Penggarapan adegan agresi Sarjono Sutrisno tidak buruk-buruk amat, meskipun layak disebut medioker. Tapi “dosa” terbesar sang sutradara ialah sewaktu (lagi-lagi) demi imbas dramatis, gerak lambat digunakan secara berlebihan. Entah berapa lama. Saya tidak lagi sempat menghitung lantaran sudah tidak sabar menantikan selesai filmnya, yang seharusnya telah datang beberapa menit sebelumnya.