November 25, 2020

Dark Waters (2019)

Dark Waters lebih seram dibanding horror soal iblis, monster, atau pembunuh berantai mana pun. Dibuat menurut artikel The Lawyer Who Became DuPont’s Worst Nightmare tulisan Nathaniel Rich yang dipublikasikan di The New York Times Magazine, film ini memunculkan kengerian dari hal terdekat di keseharian kita semua. Apa jadinya kalau perabot di rumah—yang mestinya menghadirkan keamanan serta kenyamanan—berpotensi merenggut nyawamu? Apa jadinya kalau ketamakan korporasi mengancam keselamatan 99% makhluk di muka Bumi?

Terdengar ibarat premis fiksi-ilmiah yang terwujud jadi realita memang. Semua berawal dari tahun 1998, ketika Wilbur Tennant (Bill Camp), petani dari Parkersburg, meminta pemberian pengacara Robert Bilott (Mark Ruffalo), sesudah meyakini bahwa janjkematian tak masuk akal 190 ekor sapi-sapi ternaknya merupakan akhir pembuangan limbah berbahaya DuPont, perusahaan kimia terbesar di dunia. Masalahnya, ibarat para pengacara dari firma Taft lain, Bilott hanya mengambil klien perusahaan-perusahaan besar.

Awalnya Bilott menolak. Selain bukan “lahannya”, kasus tersebut berpotensi merusak karir cemerlang yang gres dirintis. Kehancuran karir sanggup berbahaya bagi kondisi finansial keluarga Bilott, lantaran sang istri, Sarah (Anne Hathaway) yang dahulu juga sempat bekerja di Taft, sekarang telah menjadi ibu rumah tangga. Tapi sesudah melewati beberapa pertimbangan, ia bersedia menemui Tennant, dan di sanalah Bilott (dan penonton) menyaksikan pemandangan horror.  

Sutradara Todd Haynes (Far from Heaven, I’m Not There, Carol), dibantu sinematografer langganannya, Edward Lachman, mengaplikasikan gambar-gambar dengan tone warna hambar nan kelam sebagai pondasi atmosfer, sebelum menguatkan teror lewat formasi pemandangan “grafik”, ibarat kuburan massal sapi-sapi milik Tennant yang dibakar, sampai ketika seekor sapi menggila dan mulai menyerang. Kejadian-kejadian tersebut kolam pemantik kesadaran Bilott (dan sekali lagi, penonton), bahwa belakang layar yang terkubur, mungkin jauh lebih besar dan seram dari perkiraan.

Benar saja. Semua itu rupanya sebatas awal dari proses panjang nan berliku yang membentang selama lebih dari satu dekade (teks penanda bergantinya tahun di sudut kiri layar menciptakan kita makin mencicipi betapa panjang pertempuran Robert Bilott). Mencengangkan sekaligus mengerikan, betapa sebuah kasus lokal di suatu desa kecil lalu berkembang jadi fenomena global yang mengancam sebagian besar populasi umat manusia, bahkan makhluk hidup di seluruh dunia. Dan naskah buatan Matthew Michael Carnahan (World War Z, Deepwater Horizon) dan Mario Correa bisa secara padat merangkum kompleksitas proses tersebut ke dalam paparan berdurasi 126 menit.

Dibungkus sebagai legal thriller, Dark Waters banyak menampilkan istilah-istilah kimia, hukum, pula memiliki cukup banyak karakter, yang terang bakal memusingkan, khususnya untuk penonton awam. Tapi di sini, kerumitan tersebut yaitu risiko yang harus diambil, mengingat presisi serta detail pemeriksaan wajib dimiliki. Kita sebagai penonton yang mesti mencurahkan perhatian ekstra demi memahami. Setidaknya, biarpun beberapa detail mungkin terlewat, garis besar sebab-akibatnya gampan diikuti.

Dituntut bekerja keras tiap waktu selama bertahun-tahun, masuk akal ketika ruang personal Billot ikut terkena dampak. Sang pengacara mulai paranoid, bahkan khawatir sewaktu-waktu ada bom terpasang di mobilnya. Pun konflik dengan Sarah, yang mengeluhkan ketiadaan waktu Billot bagi buah hati mereka, serta risiko yang sanggup membahayakan keluarga, tak terelakkan. Di sinilah akting jajaran pemainnya paling bersinar. Menyaksikan Ruffalo, kita bisa percaya kalau Robert Billot punya nurani, sesosok insan biasa yang di satu titik bakal dihantam iktikad sekaligus psikisnya. Sedangkan Hathaway menjadi istri yang tak ragu mengkritisi kesalahan Billot, namun di belakang, bersedia pasang tubuh membela sang suami.

Film ibarat Dark Waters dibuat dengan tujuan menelanjangi belakang layar gelap, membuatkan kebenaran, membuka mata penonton, dan kalau bisa, mengubah situasi. Begitu filmnya usai, aku terprovokasi, khawatir, lalu menjadi lebih was-was dan terdorong mencari tahu lebih lanjut. Saya berani bertaruh ada banyak penonton lain mencicipi hal serupa. Artinya, Dark Waters berhasil mencapai tujuannya.