November 20, 2020

De De Pyaar De (2019)

Apakah perbedaan usia mempengaruhi relasi romansa? Mantap menyebut “usia hanyalah angka” akan terdengar ibarat penyangkalan naif, tapi ibarat dituturkan De De Pyaar De, itu bukan faktor penentu tunggal. Ketika dua individu berada dalam “satu frekuensi”, perbedaan tersebut justru sanggup melengkapi keping-keping puzzle hidup seseorang ketimbang mengacaukannya.

Ashish (Ajay Devgn) yaitu duda berusia 50 tahun sekaligus pebisnis kaya raya di London. Bukan cuma berkarisma, Ashish pun mempunyai gambaran “gentleman”, yang dibuktikan ketika ia enggan mencuri kesempatan ketika gadis elok 26 tahun berjulukan Ayesha (Rakul Preet Singh) mabuk berat selepas pesta dan tertidur di rumahnya. Ketertarikan di antara mereka timbul semenjak itu.

Stigmanya jelas: laki-laki bau tanah kaya raya terpesona oleh fisik perempuan muda, perempuan muda tertarik pada harta si laki-laki tua. Tapi naskah buatan Luv Ranjan (Pyaar Ka Punchnama, Sonu Ke Titu Ki Sweety), Surabhi Bhatnagar (Dil Juunglee), dan Tarun Jain (Pyaar Ka Punchnama 2) secara berilmu menampilkan bahwa bukan relasi semacam itu yang terjalin, dengan membangun interaksi kedua tokoh utama lewat deretan banter jenaka.

Ashish dan Ayesha saling menggoda, melempar “hinaan” yang kebanyakan berkutat seputar usia masing-masing, dan tak sekalipun mereka kehabisan kata. Balasan tajam selalu terlontar, memproduksi nuansa manis yang memudahkan kita percaya kalau keduanya saling terkoneksi. Walau lisan berkata “tidak”, mata mereka menyatakan sebaliknya. Seolah saling dorong untuk menjauhkan diri, bahu-membahu mereka tengah saling tarik demi mendekatkan hati.

Pendekatan tersebut, ditambah ragam variasi humor efektif dari verbal sampai lawakan referensial (kalau tidak salah lagu tema Singham sempat terdengar) dan pengadeganan cekatan dari sutradara Akiv Ali, menghadirkan dinamika juga hiburan luar biasa, yang mempunyai romantisme lebih dari cukup guna memancing kepedulian akan relasi dua protagonis. Saya ingin mereka selalu bersama.

Meski penulisan obrolan merupakan kunci, jalan yang De De Pyaar De tempuh terang membutuhkan chemistry kedua pemeran utama, dan serupa huruf yang dimainkan, Ajay Devgn dan Rakul Preet Singh saling melengkapi. Rakul bertenaga, Ajay lebih tenang, dan pertemuan dua kutub berseberangan itu  membuat paruh pertamanya jadi salah satu komedi-romantis Bollywood paling memuaskan selama beberapa waktu terakhir.

Kenapa saya sering menekankan “paruh pertama”? Karena paruh keduanya yaitu titik balik mengejutkan. Titik balik yang amat problematik, kemunculannya nyaris merusak keseluruhan film andai tidak dibarengi keberhasilan paruh pertama merebut simpati untuk protagonisnya. Ashish mengajak Ayesha ke India, mempertemukan sang kekasih dengan keluarganya, termasuk si mantan istri, Manju (Tabu) beserta kedua anaknya yang berusia tidak jauh dari Ayesha. Tapi realita tidak semulus rencana. Timbul banyak sekali kejutan, dan beberapa di antaranya mengubah persepsi positif saya terhadap Ashish.

Dari laki-laki terhormat, Ashish menjadi pengecut, dan dari film yang memasang perspektif modern terkait ragam informasi sosial (perceraian, tinggal bersama sebelum menikah, relasi beda usia, gender), De De Pyaar De bagai menjadi perjuangan menjustifikasi perselingkuhan dan kegagalan laki-laki menahan nafsu. Dari jajaran perkara yang diperkenalkan di paruh kedua, semuanya bermuara ke perkara keluarga dan percintaan. Teruntuk konflik keluarga, Ashish berkesempatan menebus kesalahan, namun dalam urusan asmara, ia terus melaksanakan tindakan yang sukar dimaafkan, bahkan sampai akhir. Pun ia terlalu pengecut untuk berinisiatif mencari jalan keluar.

Di samping komedi yang tak pernah kehilangan kelucuan, sebagaimana Manju seorang diri merekatkan keluarganya, penampilan Tabu menjaga film ini semoga tak seutuhnya runtuh. Menyaksikannya berdiri kokoh di atas tumpukan permasalahan dengan sorot mata tanpa rasa takut yaitu sesuatu yang tidak ingin anda lewatkan.

Benar bahwa tidak ibarat yang dikhawatirkan banyak pihak, De De Pyaar De bukan dongeng soal dua perempuan memperebutkan pria—yang sejatinya sah-sah saja—namun ini yaitu bentuk pemakluman atas mimpi bandel laki-laki di mana mereka bisa berbuat semaunya. Tapi paruh pertamanya sangat mengesankan sampai bisa mengatrol keseluruhan kualitas film. Mungkin perasaan “terlanjur cinta” macam ini yang mendorong Manju dan Ayesha bersedia memaafkan Ashish. Memang keliru, tapi bagaimana bisa saya membohongi perasaan?