October 28, 2020

Death Note (2017)

Adaptasi tidak wajib sepenuhnya setia dengan materi sumber. Perubahan selaku interpretasi personal atau penyesuaian terkait perbedaan kultur sah, bahkan perlu dilakukan. Itu menghasilkan keunikan pada adaptasi, pun mungkin memunculkan sudut pandang baru. Syaratnya, perubahan mesti beralasan dan tidak mengkhianati esensi versi asli. Karena itu walau merupakan penggemar manga Death Note (setidaknya paruh pertama), saya tak keberatan kala penyesuaian live action ini menjanjikan perbedaan, menyerupai pemindahan setting dari Jepang ke Amerika sehingga jajaran cast pun berganti ras (I don’t believe in any race-washing). Masalahnya, sutradara Adam Wingard (Blair Witch, You’re Next, The Guest) dan tim bagai menolak menghormati karya fenomenal Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata ini. 

Naskah buatan Charles Parlapanides, Vlas Parlapanides, dan Jeremy Slater coba mendekatkan kisahnya ke pangsa Amerika dengan menekankan ambiguitas moral bertema teen angst daripada berkelahi taktik dua sisi yang merasa mewakili kebaikan. Aksi Light (Turner, bukan Yagami, diperankan Nat Wolff) menulis nama kriminal di Death Note pemberian shinigami Ryuk (Jason Liles di balik kostum, Willem Dafoe mengisi bunyi dan mo-cap untuk ekspresi) meski didasari akidah akan memperbaiki dunia, cenderung didorong amarah dewasa alih-alih kalkulasi mendalam. Light menyerupai banyak remaja, ingin meluapkan kejengahan atas ketidakadian. Singkatnya, film ini ingin menciptakan karakternya lebih relatable.
Death Note buatan Wingard hadir sebagai produk sebuah negara yang tengah tidak berdaya dihantam ragam informasi ketidakadilan, di mana mimpi serta impian makin buram. Wajar bila suprerioritas Light Yagami dipandang kurang dekat. Penokohan Light Turner yang tindakannya dipicu hasrat manusiawi termasuk demi mencuri hati gadis terkenal berjulukan Mia Sutton (Margaret Qualley) dapat diterima. Perjalanan di awal juga menjanjikan, ketika Wingard menolak berbasa-basi, eksklusif membawa Light pada serangkaian pembunuhan yang selain bergerak cepat, dikemas brutal ala seri Final Destination. This is an acceptable new interpretation and entertaining teen gory horror…..until it’s not. 

Sah saja menyebabkan Light dewasa biasa. Tapi ketimbang menyeimbangkan kecerdasan dengan keserampangan dewasa supaya terkesan humanis, Light seutuhnya dibentuk bodoh, dengan rencana tidak kalah bodoh. Jika menghendaki Light bertindak tanpa pikir panjang, apa keperluan menanamkan fakta bahwa ia pintar? Di luar third act, gejala kepintaran urung ditemukan. Kasus serupa menimpa L (Lakeith Stanfield), detektif (yang konon) nomor satu tapi sulit mengontrol emosi ketika dikalahkan lawan. Inkonsisten. Dan gejolak Teen angst bukan berarti selalu dikuasai emosi kemudian mengeliminasi intelegensi. Selain itu penokohan keduanya tidak sekedar mengubah, namun mencoreng esensi sumber materinya. Apapun modifikasinya, Light yakni representasi penegakan kebenaran di jalur ekstrim, sementara L di jalan lurus. Itulah pemicu ukiran keduanya, dan biar konflik tersebut meyakinkan, mereka harus cerdas. 
Bertambah parah tatkala Death Note kepayahan meringkas sumbernya yang dipenuhi intrik. Tampak dari kesan buru-buru menggulirkan cerita, khususnya proses kelahiran sosok Kira yang dipuja. Naskahnya terjebak dilema, antara melepaskan diri atau mengikuti sumber. Ryuk contohnya. Meniadakannya bakal memancing kontroversi, tapi para penulis juga tidak tahu harus berbuat apa, berakhir menghilangkan dinamika Light-Ryuk yang turut menyia-nyiakan bunyi mencekam Dafoe. Interaksi Light dan L juga dibabat habis, mencuatkan tanya seputar keperluan set-up pertarungan mereka bila ujungnya nihil berkelahi seni administrasi (or at least not an interesting one). Tanpa dinamika menarik, selain gore dan gaya Wingard yang mengandalkan visual stylish serta musik elektronik, Death Note menyisakan kekosongan membosankan.

Teriakan menggelikan Nat Wolff ketika Light pertama bertemu Ryuk menyulitkan untuk menyukai tokohnya. Bukan kesalahan Wolff sepenuhnya, alasannya yakni memang keputusan Wingard menyelipkan komedi hitam pencipta inkonsistensi suasana. Sementara performa Stanfield mencerminkan kebingungan akut film ini soal menyikapi materi asli. Stanfeild memperagakan gestur ekstentrik ciri L, tetapi penokohannya secara menyeluruh tidak seunik sampul luarnya. Selain Dafoe, untungnya Margaret Qualley menarik disimak. Berkatnya, sosok Mia menyimpan selubung misteri, satu hal yang filmnya gagal berikan. Meminjam pernyataan yang tengah masyarakat kita gemar pakai, film ini yakni penistaan bagi warisan kejayaan Death Note.