November 27, 2020

Destroyer (2018)

Destroyer berpijak pada premis wacana polisi yang terluka jiwa serta raganya, dan mesti menghadapi kembali kejadian traumatis yang menjadikan luka tersebut. Sebuah premis kuat, namun berakhir sebagai jalinan dongeng tipis yang berlari tanpa tujuan selama dua jam dikarenakan duet penulis naskah Phil Hay-Matt Manfredi (Æon Flux, Clash of the Titans, The Invitation) gagal mengembangkannya.

Polisi tersebut ialah anggota LAPD berjulukan Erin Bell (Nicole Kidman). Kita pertama melihatnya ketika ia terbangun di kendaraan beroda empat dengan badan kering, rambut berantakan, dan mata merah. Kondisi menyedihkan itu dipicu misi beberapa tahun lalu, sewaktu Erin dan Chris (Sebastian Stan) menjalankan misi penyamaran dalam sebuah gang yang dipimpin Silas (Toby Kebbell). Misi tersebut berujung tragis, dan sekarang Erin digergoti kenangan pahit yang mengubahnya menyerupai mayit hidup.

Benar bahwa syok berujung depresi sanggup memicu “kerusakan” tersebut, tapi sulit menampik kesan kalau transformasi ekstrim Kidman dilakukan semata biar Destroyer tampak edgy, sekaligus memperbesar peluang sang aktris berjaya di trend penghargaan. Filmnya sendiri tak cukup aneh mendobrak banyak batasan demi menghentak penonton, pula kurang mencengkeram perihal proses penelusuran kehidupan suram protagonisnya.

Demi meningkatkan penderitaan si tokoh utama, filmnya menambah bumbu permasalahan berupa keretakan korelasi Erin dengan puterinya, remaja 16 tahun berjulukan Shelby (Jade Pettyjohn). Shelby membenci sang ibu, senantiasa memberontak, juga memacari seorang pria dewasa. Tapi unsur ini cuma ditampilkan sesekali sehingga urung menghasilkan pengaruh sebagaimana mestinya. Patut disayangkan, alasannya ialah dari korelasi ibu-anak inilah Destroyer memperoleh momen terkuatnya.

Momen itu terjadi jelang simpulan dikala Erin dan Shelby bertemu di cafe. Seperti biasa, pertemuan itu diawali dialog kurang ramah, sebelum Shelby kesannya melunak dan bercerita wacana satu dari sedikit kenangan wacana Erin, yang bisa jadi hanya sebuah false memory (kebenaran gres diungkap di ending). Rekoleksi memori tersebut jadi simbolisme apik terkait kerenggangan korelasi keduanya, juga penggambaran subtil mengenai bagaimana bawah sadar Shelby melihat sang ibu.

Tapi sajian utamanya tetaplah pemeriksaan Erin akan sebuah kasus pembunuhan yang memaksanya bersinggungan lagi dengan persekutuan kriminal yang sempat ia susupi. Investigasinya lemah, alasannya ialah melalui flashback yang rutin mengisi sela-sela latar masa kini, kita sudah tahu siapa sosok yang Erin cari, intensinya kembali “menyapa” Erin, dan lain sebagainya.

Bagi penonton, tidak lagi ada misteri menarik tersisa untuk dipecahkan atau pertanyaan esensial yang perlu diajukan. Tersimpan twist mengejutkan di paruh simpulan yang cukup cendekia memanfaatkan struktur non-linier alurnya, walau di sisi lain, kejutan itu turut menegaskan bahwa Destroyer sebatas dongeng soal usaha seorang polisi kacau membunuh sesosok kriminal dari masa lalunya. Cerita tipis yang tak perlu diulur hingga dua jam, pun sudah didaur ulang ratusan kali dalam b-movie ringan bertema balas dendam. Keputusan menerapkan gaya serius cenderung kelam mewajibkan film ini menghadirkan pendalaman mumpuni, yang mana gagal total dilakukan.

Karena akhirnya, proses apa yang Destroyer berusaha paparkan tidak pernah jelas. Melihat beberapa momen di penghujung durasi, mungkin naskahnya ingin merangkum usaha seorang ibu sekaligus citra sulitnya mengangkat beban yang menghantui selama bertahun-tahun (aksi para remaja bermain skateboard di belakang kendaraan beroda empat Erin bertindak sebagai metafora). Hanya satu yang bisa saya pastikan, tidak satu pun elemen di atas berhasil melahirkan epilog yang mempunyai dampak.

Aspek yang konsisten menjaga atensi saya ialah penampilan Nicole Kidman. Gelagatnya meyakinkan sebagai perempuan di titik darah penghabisan. Sutradara Karyn Kusama (Æon Flux, Jennifer’s Body, The Invitation) pun begitu bergantung kepada Kidman, tampak dari seringnya ia menempatkan kamera sedekat mungkin dari wajah sang aktris. Harapannya, akting (plus riasan ekstrim) Kidman bisa menggiring penonton mencicipi penderitaan karakternya. Mungkin ketergantungan Kusama didorong kesadaran kalau ia mendapatkan bahan naskah yang lemah.