November 27, 2020

Detective Conan: The Fist Of Blue Sapphire (2019)

Saya meninggalkan anime Detective Conan selepas tidak lagi menonton televisi, berhenti membaca komiknya alasannya tak kunjung usai, dan meninggalkan film layar lebarnya yang lebih mementingkan agresi bombastis (adaptasi anime populer selalu demikian) ketimbang misteri, yang mana memancing ketertarikan saya akan seri ciptaan Gosho Aoyama ini dahulu. Pilihan itu sejatinya bisa dipahami, alasannya filmnya harus tampil sinematik, berbeda dibanding versi lain, sehinngga penonton punya alasan untuk mengeluarkan uang lebih.

Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire merupakan installment terlaris kedua dalam franchise-nya, berhasil mengangkangi Avengers: Endgame di peringkat box office, serta merupakan film Detective Conan pertama yang mengambil latar internasioal (Singapura). Saya pun merasa ini waktunya kembali menjajal agresi Conan Edogawa memecahkan misteri. Dan kalau kebetulan anda juga penggemar usang yang coba kembali, The Fist of Blue Sapphire ialah pilihan tepat. Anda takkan tersesat, alasannya di luar para tokoh utama, hanya ada nama-nama usang menyerupai Kaito Kid (Kappei Yamaguchi) dan Makoto Kyogoku (Nobuyuki Hiyama).

Kisahnya bermula ketika seorang perempuan terbunuh di Singapura. Tidak usang sesudah ia meregang nyawa, terjadi ledakan yang menimbulkan kekacauan, sebelum tiba-tiba cairan merah menyerupai darah muncrat dari Merlion. Peristiwa terakhir tampak mengerikan, mencengangkan, dan misterius, meski sayang, balasan yang filmnya siapkan atas anomali tersebut amat mengecewakan.

Kemudian bertemulah kita dengan Ran (Wakana Yamazaki), Sonoko (Naoko Matsui), dan Kogoro (Rikiya Koyama) yang mengunjungi Singapura guna menonton kompetisi karate di mana Makoto turut serta. Conan (Minami Takayama) yang awalnya kecewa tidak bisa ikut akhir duduk kasus paspor, kaget ketika ia mendadak terbangun di Singapura. Kekagetannya bertambah ketika mendapati ada Shinichi lain tengah bersama Ran. Tentu kita itu ialah samaran Kaito Kid.

Kali ini Kid berusaha mencuri kerikil safir legendaris yang ditatahkan di sabuk juara kompetisi karate yang Makoto ikuti. Tapi bukan hanya itu intensinya. Kembali ke pembunuhan di awal film, polisi menemukan kartu Kid yang berlumuran darah, otomatis menjadikannya tersangka. Di situlah ia memerlukan pinjaman Conan guna membersihkan nama baiknya, dengan cara mencari sang pembunuh sebenarnya.

Naskah buatan Takahiro Ohkura (Detective Conan: Crimson Love Letter) tidak menampilkan misteri, atau setidaknya bukan misteri yang cukup berpengaruh untuk mencengkeram atensi. Sejak awal kita sudah mengetahui siapa pelakunya. Bahkan filmnya pun tak berusaha menutupi itu. Pertanyaan yang tersisa bukan “siapa”, melainkan “bagaimana”. Bagaimana trik pembunuhan tersebut? Sebuah pertanyaan yang dikesampingkan oleh Takahiro atas nama gelaran aksi.

Sebagai film yang mempunyai protagonis detektif, The Fist of Blue Sapphire begitu minim momen investigasi. Tanpa proses penyelidikan bertahap, kita eksklusif dihadapkan pada fase deduksi di paruh akhir, yang turut menyelipkan twist berlapis. Alih-alih mengejutkan, twist-nya semakin membuat penceritannya terlihat kolam benang kusut. Sebuah twist yang tiba entah dari mana, tanpa pondasi memadai, dan terasa mencurangi penonton.

Dan sebagai film yang mempunyai protagonis detektif jenius, The Fist of Blue Sapphire terlalu gemar menampilkan kebodohan. Kebimbangan hati akhir intimidasi tak masuk logika salah satu abjad mengatakan kebodohan Makoto, keputusan mengejar kendaraan beroda empat polisi di tengah sebuah kekacauan yang berujung membahayakan keselamatannya menunjukan kebodohan Sonoko, pun rencana besar sang antagonis tidak kalah bodoh.

Menariknya, sekuen agresi justru muncul sebagai penyelamat. Walau pengarahan sutradara debutan Tomoka Nagaoka (plus penyuntingan buruk) acap kali kacau akhir ketidaktepatan menentukan fokus dalam frame yang berakhir membuat disorientasi membingungkan, secara keseluruhan ia cukup piawai membagun intensitas. Dibantu animasi solid, adu puncak di klimaksnya memang seru. Dari Conan, Kid, Makoto, hingga duet Kogoro-Ran, semua memamerkan kebolehan masing-masing.

Tomoka pun bisa melahirkan sekuen dramatis yang sedikit menyentuh definisi “indah” dalam mengemas kejadian sebelum klimaks, ketika ia mematikan semua bunyi kecuali musik berbasis dentingan piano gubahan Katsuo Ono. Pun lagu tema buatan legendaris buatan sang komposer masih ampuh membuat badan “mantan penggemar” menyerupai saya bergetar. Sayang, keseluruhan filmnya tak bisa menumbuhkan impian untuk mengikuti lagi serinya (dalam media apa pun).