November 28, 2020

Doctor Sleep (2019)

The clarity of the storytelling is what makes it special”, puji Stephen King pada Doctor Sleep, film pembiasaan novel berjudul sama karyanya. Apakah ucapan itu bermakna ganda? Apakah King rahasia sedang membandingkan film ini dengan The Shining (1980), yang sebagaimana publik tahu, kerap ia kritisi? Pastinya, penuturan Doctor Sleep memang lebih “jelas”, menyisakan lebih sedikit ambiguitas, pula menjawab beberapa pertanyaan yang ditinggalkan horor klasik milik Stanley Kubrick tersebut.

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Mike Flanagan (Hush, Ouija: Origin of Evil, Gerald’s Game), Doctor Sleep ibarat jembatan visi King dan Kubrick, di mana elemen novel serta filmnya digabungkan. Flanagan mengkreasi ulang beberapa momen dari film Kubrik, baik berupa flashback (Danny bersepeda mengitari Hotel Overlook) maupun easter eggs, misalnya ketika Danny Torrance (Ewan McGregor) ditawari pekerjaan, yang punya latar, konteks, bahkan shot serupa adegan wawancara kerja sang ayah, Jack Torrance.

Flanagan bukan sedang pamer gaya semata. Sekitar 31 tahun pasca peristiwa Hotel Overlook, Danny memang kolam cerminan Jack. Trauma ditambah perjuangan menekan kemampuan supernaturalnya (disebut “shining”) menenggelamkannya dalam alkoholisme. Dia hidup tanpa arah, hingga bertemu Billy Freeman (Cliff Curtis), yang membantunya lepas dari kecanduan serta menerima pekerjaan sebagai perawat rumah sakit. Di sana, Danny mulai menggunakan lagi shining-nya, guna membantu pasien menemukan ketenangan menjelang ajal. Julukan “Doctor Sleep” pun menempel padanya.

Tapi semenjak opening, kita tahu bahwa pemilik shining bukan Danny seorang, kala tokoh Rose (Rebecca Ferguson) diperkenalkan. Rose memimpin kelompok kultus berjulukan True Knot, yang memburu bawah umur Istimewa mirip Danny. Memakai “topi tukang sulap”, Rebecca Ferguson kembali sanggup menyihir lewat pesonanya. Dialah satu dari sedikit aktris modern yang punya pancaran aura layaknya bintang-bintang Hollywood kurun Golden Age. Kali ini pancaran itu ia salurkan ke arah mistisisme, menyebabkan karakternya antagonis yang berkesan.

Melompat ke tahun 2019, Danny memulai komunikasi dengan sesamanya, gadis 13 tahun berjulukan Abra Stone (Kyliegh Curran). Keduanya berinteraksi melalui goresan pena kapur di dinding kamar Danny. Dan semenjak titik ini Flanagan mulai membelokkan pendekatan filmnya. Seperti The Shining, Doctor Sleep enggan mengandakan jump scare. Tapi tidak mirip The Shining, pasca melalui fase kontemplatif di awal, Doctor Sleep bertransformasi jadi film pendekar super membumi berkedok horor psikologis.

Walau berjalan dalam tempo medium penuh kesabaran, film ini cenderung action-oriented, bahkan menyimpan adegan baku tembak. Flanagan melaksanakan apa yang dilakukan James Cameron dalam Aliens (1986), yakni mengambil esensi pendahulunya, kemudian mengeksplorasi potensinya, membawa kelanjutan kisahnya ke ranah gres berskala lebih besar. Penulisan Flanagan menciptakan transformasi itu terasa mirip progres alamiah ketimbang perjuangan mengkomersialkan karya.

Sebab fokus Doctor Sleep tetap soal proses karakternya berdamai. Danny mesti berdamai dengan ayahnya, dengan trauma masa lalu, juga dengan dirinya sendiri termasuk shining miliknya. Artinya, merupakan hal logis ketika filmnya berfokus pada kekuatan super karakternya. Di sinilah kreativitas Flanagan berperan. Konfrontasi shining antar huruf tidak cuma baku hantam generik, melainkan visualisasi magis nan imajinatif, yang tidak mengenal batasan ruang dan waktu. Pun napas horor tak lupa Flanagan hembuskan, dari sentuhan gore hingga deretan creepy imageries.

Seperti Kubrick, Flanagan, yang juga mengemban posisi editor, menerapkan efek transisi dissolve yang kerap memancing ilusi, seolah dua gambar berbeda menyatu di satu frame. Tapi teknik penyuntingan Flanagan yang paling memikat yakni ketika di sebuah adegan, ia secara akil memvisualisasikan situasi di mana dua huruf berada dalam satu sudut pandang. Bukan saja dinamis, momen tersebut menandakan kebolehannya sebagai seorang pencerita gambar yang baik.

Setelah melalui perjalanan panjang namun padat dan tidak melelahkan, babak ketiganya membawa kita kembali mengunjungi lokasi familiar. Sempat terbuai nostalgia sehingga bergulir agak terlalu usang (nostalgia yang mestinya bisa lebih berdampak andai Flanagan bersedia menggunakan dukungan CGI), Doctor Sleep menyuguhkan titik puncak sekaligus konklusi memuaskan atas kisah yang membentang selama puluhan tahun. Tidak semua babak lanjutan suatu film klasik berujung pencemaran nama baik, selama—seperti Flanagan—fokusnya bukan pada perjuangan replikasi, melainkan eksplorasi.