November 28, 2020

Dora And The Lost City Of Gold (2019)

Inilah kenapa saya enggan bergabung dalam kelompok orang yang simpel skeptis tiap Hollywood mengumumkan proyek pembiasaan “aneh”. Dora and the Lost City of Gold, yang dibentuk berdasarkan serial animasi edukatif Dora the Explorer, membuktikan para penulis punya kreativitas lebih tinggi daripada apa yang publik tuduhkan. Sebuah petualangan lucu nan menyenangkan yang menolak menangani elemen kekanak-kanakkan serialnya dengan terlampau serius.

Kita mengenal Dora (Isabela Moner) sebagai bocah petualang yang menjelajahi hutan bersama seekor monyet bersepatu bot, serta tas ransel dan peta yang bisa bicara. Sekuen pembuka film ini secara berilmu menyesuaikan absurditas tersebut ke realita. Turut dipermak yaitu tedensi Dora untuk melontarkan pertanyaan (konyol) pada penonton. Cerdik, alasannya alih-alih sepenuhnya dihilangkan atas nama realisme, Nicholas Stoller (Yes Man, The Muppets) dan Matthew Robinson (The Invention of Lying, Monster Trucks) selaku penulis menjadikannya materi baku komedi. Sayang, resolusi-resolusi yang kerap terlalu simpel tak ikut diparodikan.

Stoller dan Robinson pun piawai mengolah kepolosan aksara Dora yang sering merespon hal-hal secara (terlalu) literal, guna menjadikannya figur likeable dan penuh semangat. Sifat itu acap kali memicu problem ketika Dora meninggalkan hutan untuk bersekolah di kota, sehabis orang tuanya (Michael Peña dan Eva Longoria) pergi demi mencari Parapata, kota emas yang telah usang hilang.

Tidak simpel bagi Dora menyesuaikan diri dengan kehidupan kota, terlebih ketika ia mendapati sang sepupu, Diego (Jeff Wahlberg), bukan lagi bocah penuh antusiasme berpetualang. Semakin sulit proses pembiasaan Dora, alasannya ia menuruti hikmah ibunya semoga menjadi diri sendiri. Artinya, ia tak ragu melaksanakan hal-hal absurd yang bahka membuat saya mencicipi secondhand embarassment.

Selama di kota, Dora terus berkomunikasi dengan orang tuanya, juga melacak keberadaan mereka lewat titik koordinat yang rutin dikirimkan. Hingga suatu malam komunikasi terhenti secara misterius. Sebelum bisa menerima petunjuk, di tengah karyawisata sekolah, Dora diculik oleh sekelompok pemburu harta karun yang ingin mencari keberadaan orang bau tanah Dora demi mengeruk emas di Parapata. Tapi Dora tidak sendiri. Kebetulan, Diego, Randy (Nicholas Coombe) si kutu buku, dan Sammy (Madeleine Madden) si siswi referensi yang membenci Dora, ikut terbawa.

Turut dibantu mitra usang sang ayah, Alejandro (Eugenio Derbez), juga Boots yang entah bagaimana bisa menemukan posisi Dora, para remaja ini memulai petualangan menyusuri hutan guna menghentikan niat jelek sekelompok pemburu harta karun tadi. Petualangan menyenangkan dan kaya warna yang mampu menghibur penonton anak, pula orang remaja yang menemani mereka.

Beragam rintangan menanti di tengah hutan. Tidak hanya serangan acak hewan-hewan buas atau ancaman alami lain, banyak pula variasi perangkap maupun “jungle puzzle” (begitu Randy menyebutnya) mesti dipecahkan. Bukan teka-teki kompleks tentunya, mengingat bawah umur harus bisa mengikutinya, tapi cukup menambah dinamika yang mengingatkan akan judul-judul bertemakan petualangan di hutan dari masa lalu, contohnya seri Indiana Jones.

Bukan berarti Dora dan kawan-kawan takkan menghadapi tantangan buatan alam, namun berbeda dibanding banyak film petualangan keluarga, presentasinya tidak malas. Selain tata artistik di mana bunga-bunga dan dedaunan membuat lingkungan yang memanjakan mata lewat warna-warna cerah, ancaman yang mengancam karakternya pun dipaparkan melalui cara kreatif. Contohnya ketika Dora and the Lost City of Gold sejenak beralih ke medium animasi yang kaya situasi menggelitik. Tidak simpel mengarahkan materi yang bercampur aduk semacam ini, namun kiprah berat itu nyatanya mulus dilalui oleh sutradara James Bobin (The Muppets, Alice Through the Looking Glass).

Penampilan Isabela Moner juga suatu kemenangan besar. Senyum lebar ditambah perilaku bersemangat tanpa kenal malu miliknya menyuntikkan energi dalam jumlah besar, yang mana amat diharapkan sajian petualangan menyerupai ini. Tatkala sesosok protagonis bisa menggali lubang daerah buang air besar sembari menyanyikan lagu ihwal kotoran dan berakhir lucu ketimbang menjijikkan kemudian membuatmu ingin memalingkan wajah, itu menerangkan kesuksesan sang penampil melahirkan tokoh yang mencuri hati.