November 25, 2020

Doremi & You (2019)

Siapa sangka sineas di balik arthouse tentang perjalanan perempuan lanjut usia mencari makam sang suami berjudul Ziarah (2016), berujung menghasilkan salah satu film anak Indonesia terbaik selama beberapa tahun terakhir, yang pula pantas disebut sebagai salah satu musikal lokal modern paling meghibur. Doremi & You ibarat ajang pembuktian versatilitas seorang BW Purbanegara.

Bagi saya, musikal yang baik yaitu pertemuan kreativitas dengan keindahan tak tergambarkan, yang bisa menggerakkan rasa meski tanpa insiden penuh drama. Doremi & You menampilkan itu sedari momen pembuka tatkala para tokoh utama bersatu dalam nomor musikal berlatar lingkungan sekolah.

Di situ, BW Purbanegara bukan sebatas mengumpulkan sebanyak mungkin siswa untuk menari di lapangan sekolah, melainkan menempatkan mereka di banyak sekali titik peristiwa, yang masing-masing menyimpan elemen unik. Dipandu koreografi sarat kreativitas garapan Mila Rosinta (Another Trip to the Moon), kita berkesempatan menyaksikan siswa-siswi menari dalam sapuan cat badan warna-warni atau memakai peralatan pramuka sebagai properti. Sungguh momen pembuka yang efektif merebut atensi.

Naskah hasil goresan pena BW bersama Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Pendekar Tongkat Emas, Petualangan Menangkap Petir) sejatinya tidak melaksanakan banyak modifikasi formula, yang mana bukan kewajiban dalam tontonan ringan bagi anak semacam ini. Kisahnya mengangkat perihal persahabatan empat murid SMP: Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Markus (Toran Waibro) dari ekstrakulikuler paduan suara, dan Inung (Fatih Unru) dari ekstrakulikuler teater.

Suatu sore, akhir kecerobohan di tengah perjalanan sepulang sekolah, mereka menghilangkan uang iuran jaket tim paduan bunyi sebesar tiga juta rupiah. Demi menggantinya, mereka tetapkan mengikuti Doremi & You, sebuah lomba tarik bunyi yang menjanjikan uang sebesar 10 juta rupiah bagi sang pemenang. Anda mungkin merasa insiden tersebut bukan final dunia, tapi ingat, keempatnya yaitu bocah SMP. Bayangkan anda berada di usia mereka (ditambah bukan berasal dari keluarga kaya), dilema serupa niscaya bakal memberi tekanan luar biasa.

Tapi alasannya yaitu semakin dekatnya UAS, si guru paduan bunyi (Ence Bagus) melarang adanya aktivitas ekstrakulikuler dan menolak seruan menjadi pelatih. Alhasi, Putri meminta dukungan Reno (Devano Danendra), siswa Sekolah Menengan Atas yang berposisi sebagai tangan kanan instruktur paduan suara. Sebuah inspirasi yang terbentur ketidaksukaan teman-teman Putri terhadap Reno, yang menganggapnya dingin, galak, menyebalkan, dan pretensius. Reno sendiri awalnya menolak usulan itu.

Masalah belum berhenti. Karena kegagalan di UAS berpotensi menciptakan beasiswanya dicabut, Anisa dihentikan turut serta oleh sang paman (Teuku Rifnu Wikana) yang keras, sementara Markus mendapati bisnis jasa badut ayahnya mulai sekarat. Naskahnya cukup rapi guna memposisikan konflik-konflik itu selaku pondasi penokohan ketimbang distraksi. Kehadirannya justru memperkaya dongeng alih-alih menghilangkan fokus.

Adegan pembuka beriringkan lagu Hari ini Indah tetap jadi favorit saya, namun bukan berarti momen lainnya lemah. Harmoni melahirkan musikal berskala lebih kecil tapi dengan romantisme besar, sedangkan perjuangan melagukan beberapa dialog, walau tak selalu sukses (sesekali berujung cringey), secara umum dikuasai sukses menambah dinamika menyenangkan dalam interaksi karakternya, termasuk menghadirkan tawa.

Klimaks berlatar kompetisi Doremi & You (didahului twist yang sesungguhnya kurang substansial) menampilkan kepiawaian Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Kartini) memadukan ragam musik nusantara. Keragaman memang salah satu pesan utama filmnya, yang menekankan “unity in diversity”. Keempat protagonis mempunyai latar kultural berbeda, pun perspektif Doremi & You tentang musik mengandung pesan serupa, yang diwakili sempilan obrolan antara Reno dan Putri mengenai perbedaan cara memakan bubur ayam.

Penonton anak bisa memetik pesan berharga dari hal-hal tersebut, di samping selipan pernak-pernik lain, contohnya pelajaran perihal mencari info via membaca buku yang sekarang gampang dilakukan berkat akomodasi daring. Anak-anak pun berkesempatan menikmati jajaran idola seusia unjuk gigi memamerkan talenta. Toran menggelitik, Nashwa tampil baik melakoni mome dramatik, Fatih penuh warna mirip biasa, dan Naura “membabat habis” seluruh nomor musikal berbekal aura bintang tak terbantahkan. Sebagai penampil yang (sedikit) lebih dewasa, Devano menunjukan bahwa ia jauh lebih hidup ketimbang dikala dipaksa memerankan remaja (sok) keren di Melodylan.

Kelemahan muncul sewaktu BW menempatkan terlalu banyak shot tak perlu, yang bakal lebih berkhasiat dalam suguhan “arus samping” sebagai media membangun atmosfer dan kesadaran penonton akan latar sebuah peristiwa, tapi justru melemahkan kelincahan gerak tontonan ringan macam Doremi & You. Tapi itu bisa dipahami. Film ini merupakan transisi bagi sang sutradara, dan sungguh transisi yang memuaskan.