November 30, 2020

Exit (2019)

Film manis sanggup menyajikan beberapa momen menegangkan, namun ketika ketegangan berlangsung sepanjang durasi, artinya kita sedang menyaksikan suatu karya spesial. Diproduseri oleh Ryoo Seung-wan sang ekspertis film crowd pleaser (Veteran, The Battleship Island), Exit—yang hingga goresan pena ini dibentuk merupakan film Korea Selatan terlaris ketiga selama 2019—untuk sementara merupakan sajian paling intens tahun ini.

Sutradara sekaligus penulis naskah debutan, Lee Sang-geun tahu, bahwa untuk mendobrak tembok pemisah antara fantasi (film) dan realita (penonton), wajib hukumnya memunculkan kepedulian atas karakter. Di situlah partisipasi elemen dongeng keluarga dibutuhkan, yang membuka kisahnya lewat papara komedik mengeai kehidupan Yong-nam (Jo Jung-suk).

Yong-nam tak ubahnya pecundang. Seorang pengangguran, yang sebagaimana beliau deskripsikan sendiri, mengisi hari-hari hanya dengan tidur, makan, dan buang air besar. Gaya hidup itu kerap memancing amarah abang perempuannya, sedangkan kedua orang renta Yong-nam gemar cekcok akhir hal kecil. Ketika ulang tahun ke-70 sang ibu datang, Yong-nam seolah melangkah memasuki neraka dunia, di mana beliau banyak dipandang remeh oleh keluarga besarnya.

Pembukaan itu bukan sebatas pemenuhan obligasi layaknya banyak film bertema tragedi lain, yang mengawali kisah melalui drama hampa sebelum kekacauan pecah. Prolognya ceria, menggelitik, dan terpenting, memberi pondasi bagi karakter. Kita mengenal satu per satu saudara Yong-nam melalui celaan yang dilontarkan, dan nantinya, masing-masing menerima tugas penting meski kecil. Alhasil, jajaran huruf pendukungnya pun menancap di ingatan.

Yong-nam menentukan menggelar ulang tahun ibunya di lokasi yang jauh dari rumah. Dia beralasan, daerah itu memperoleh ulasan nyata di internet, tapi kita tahu, alasan sebetulnya ialah lantaran Eui-joo (Yoona), gadis yang menolak cintanya  semasa kuliah, bekerja di sana sebagai Vice Manager. Tapi keduanya punya satu kemiripan, yaitu ketertarikan pada panjat tebing. Satu-satunya bakat yang bisa Yong-nam banggakan.

Malam berjalan hening hingga seorang teroris melepaskan gas beracun yang sanggup menjadikan ajal bila dihirup atau mengenai badan manusia. Gas itu bisa memperluas jangkauan, kemudian dengan cepat menjadikan kekacauan di seluruh kota. Dibantu Eui-joo, Yong-nam berusaha menyelamatkan keluarganya, tapi hanya ada satu jalan keluar: atap gedung. Sebab, selain gas yang pelan-pelan naik, itulah satu-satunya daerah yang bisa dijamah helikopter penyelamat.

Exit tidak pernah kehilangan cengkeraman berkat naskah yang muncul dengan bermacam-macam rintangan. Deretan rintangan gila didesain secara kreatif oleh Lee Sang-geun, dan dominan melibatkan aktivitas memanjat, melompat, atau meniti. Kita dibentuk menduga-duga bagaimana karakternya bisa lolos, dan Exit terus menampilkan solusi kreatif, yang biarpun gila, tidak sepenuhnya tanpa otak. Kurang tepat disebut realistis, namun bukan pula suatu kemustahilan.

Karena itu, karakternya bukan pahlawan super. Mereka individu ringkih yang “kebetulan” mempunyai kemampuan yang cocok untuk menyelamatkan diri. Pun Yong-nam maupun Eui-joo tak digambarkan sebagai sosok heroik. Mereka hanya nekat, masih mencicipi takut, bahkan sesekali, hati kecil keduanya meratapi pengorbanan yang dilakukan. Bagi Yong-nam, kenekatannya didasari perilaku “nothing to lose”, mengingat keluarga Yong-nam memandangnya tidak berguna. Dia merasa kenekatan tersebut bisa menandakan bahwa beliau berguna. Alasan itu memicu kepedulian dalam segala agresi gila yang beliau lakukan.

Kata “gila” bukanlah hiperbola. Selain set pieces kreatif dengan kadar ancaman yang terus meningkat, tanpa penyutradaraan solid Lee Sang-geun, semuanya akan berakhir di ranah konsep belaka. Dibantu musik ritmis gubahan Mowg (I Saw the Devil, The Age of Shadows, Burning) yang efekif memacu detak jantung tanpa membuat distraksi, Sang-geun piawai menentukan sudut kamera, mengatur tempo, serta mengatur penempatan momen guna menjaga kestabilan tensi. Meneruskan track record sineas Korea Selatan, baik selaku sutradara atau penulis, Sang-geun kompeten melahirkan dramatisasi melalui unsur keluarga.

Keluarga ialah pondasi. Contohnya di babak ketiga, ketika kita menyaksikan usaha dua protagonisnya bersama keluarga Yong-nam. Kita tegang menyerupai mereka, bersorak menyerupai mereka, ketakutan menyerupai mereka. Nyawa Yong-nam dan Eui-joo jadi lebih berharga, alasannya ialah kepulangan mereka ditunggu orang-orang tercinta.

Terkait akting, Jo Jung-suk tepat menghidupkan sosok “everyday guy”. Dia bukan jagoan super, sebatas laki-laki bertalenta, dan kita mempercayai bakat tersebut, tatkala Jong-suk melakoni formasi stunt secara meyakinkan. Sedangkan penampilan Yoona mencerminkan personanya di variety show yang mencuri hati jutaan orang. Begitu gampang jatuh cinta pada dua sisinya: Si gadis lucu nan menggemaskan, serta perempuan tangguh yang bisa mencetuskan ide-ide arif bahkan di situasi darurat sekalipun.

Sewaktu membuatkan layar, Jong-suk dan Yoona mengatakan interaksi dinamis sebagai tim tepat yang mendorong kita bersorak kala menyaksikan keberhasilan mereka. Dan dalam usaha Exit menjadi hiburan ringan, keduanya tampil kolam duo komedik yang telah sekian usang berduet. Ya, biarpun menegangkan, Exit sarat kelucuan, yang (lagi-lagi) dibalut kreativitas tinggi. Siapa sangka mode panggilan video bisa digunakan sedemikian rupa menyerupai yang dilakukan huruf film ini?

Saya siap menganugerahkan nilai tepat andai bukan lantaran kemasan konklusinya. Usaha Exit “menipu” penonton terkait nasib kedua protagonis justru mengorbankan intensitas yang susah payah dibangun, kemudian mengakhiri usaha mereka secara antiklimaks. Tapi itu sebatas lubang kecil dibanding pencapaian keseluruhan film, yang menyuguhkan ketegangan luar biasa.